HALO BANJARNEGARA – Sebuah kawasan menyerupai ngarai dililit pegunungan dan bebatuan terjal ditemukan di Kabupaten Banjarnegara. Itulah Bosweisen, yang meski tampak menyeramkan, namun memiliki pemandangan nan indah dan menakjubkan.
Tidak main-main, luas kawasan Bosweisen diperkirakan mencapai 40 hektare. Secara administratib, kawasan itu berada di Desa Bakal, Kecamatan Batur, dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Wonosobo.
Kawasan Bosweisen sendiri menyimpan perpaduan unik antara sejarah kolonial Belanda, ditambah kesakralan spiritual, dan potensi wisata premium yang belum terjamah.
Melihat potensi tersebut, seharusnya kawasan Bosweisen mendapat perhatian serius Pemerintah Kabupaten Banjarnegara.
Tokoh masyarakat sekaligus tetua pengelola Bosweisen, Muharor menyampaikan, kawasan ini dapat disebut sebagai jantung spiritualnya Nusantara.
Lantaran menurutnya, di situ berdiri Pendopo Sanghyang Bagasworo, yang konon diyakini sebagai tempat mufakat Eyang Semar saat membimbing ksatria Pandawa Lima.
Tata ruangnya pun tak sembarangan, yaitu dengan mengikuti filosofi Sedulur Papat Kalima Pancer.
“Ada empat pintu jalan sebagai simbol empat penjuru mata angin—timur, selatan, barat, utara—dan diri kita sebagai pusatnya (pancer). Ini tempat untuk menenangkan diri, bukan untuk hura-hura,” ungkap Muharor, Sabtu (10/1/2026).
Kekayaan Bosweisen pun kian lengkap dengan hamparan batu Andesit purba yang konon menjadi material pembangunan candi-candi Dieng.
Salah satu yang paling ikonik adalah Batu Semar. Sebuah bongkahan batu raksasa yang secara alami menyerupai tokoh pewayangan tersebut.
Legenda pun menyebutkan, bentang alam di kawasan Bosweisen, mulai dari telaga hingga sabana merupakan sisa-sisa pertempuran Subali dan Sugriwa saat memperebutkan Cupu Manik Astagina.
Berbeda dengan pusat keramaian Dieng yang mulai padat, Bosweisen diharapkan sebagai destinasi eksklusif. Rencananya, sebuah “Kampung Jawa” berarsitektur Majapahit pun akan dibangun di kawasan Bosweisen.
”Harapannya ada klasifikasi penginapan. Kemudian ada kelas eksekutif seperti Vila Amanjiwo, kelas menengah berupa cottage, hingga barak untuk pelajar,” harap Muharor.
Meski mengusung wajah klasik, lanjutnya, fasilitas interiornya akan tetap berstandar hotel modern untuk memberikan kenyamanan para wisatawan.
Sementara itu, Kepala Desa Bakal, Madkhurodin menambahkan, pengembangan potensi Bosweisen juga menjadi benteng terakhir bagi komoditas khas seperti Carica dan Terong Belanda.
”Di tengah gempuran alih fungsi lahan menjadi homestay di wilayah lain, Bosweisen akan mengintegrasikan agrowisata sebagai “pagar alam” sekaligus motor ekonomi warga Desa Bakal,” ujarnya.
Meski mempunyai potensi yang luas, namun jalan menuju Bosweisen masih memprihatinkan dan terkesan seadanya. Bahkan, Kades Madkhurodin menyebut, akses jalan via Desa Bakal menuju Kawah Sikidang audah rusak berat dan rawan longsor.
“Kami mohon dukungan dan perhatian dari Pemerintah Kabupaten Banjarnegara. Karena dana desa tidak akan mencukupi untuk pengembangan kawasan sebesar itu, terutama untuk akses jalan yang berstandar kabupaten,” ungkapnya.
Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banjarnegara, Eryanto Arief menyatakan, Desa Bakal telah menjadi prioritas dalam tinjauan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (Ripparda) tahun 2026.
“Sudah prioritas dalam tinjauan Ripparda. Ada catatan penting, pembangunan fisik bukan yang utama. Jadi prinsipnya, destinasi bisa berkembang kalau SDM-nya kuat dulu. Tim Pokdarwis harus solid,” jelasnya.
Eryanto mendorong para pengelola di Desa Bakal untuk belajar dari tokoh-tokoh lokal seperti Alif Faozi di Dieng Kulon, atau Supri di Desa Dawuhan yang mampu bangkit meski diterjang bencana.
“Seharusnya pihak engelola mempunyai jiwa entrepreneur, dan mampu membangun jejaring dengan pemangku kepentingan, seperti Perhutani atau OPD terkait,” imbuhnya.
Ke depan, kawasan Bosweisen dipersiapkan menjadi magnet budaya baru. Ritual tahunan Sedekah Bumi setiap tanggal 14 Agustus direncanakan menjadi agenda besar yang menyaingi kemeriahan Dieng Culture Festival (DCF). Namun dengan sentuhan yang lebih sakral dan religius.
Bagi Banjarnegara, Bosweisen bukan sekadar proyek wisata. Ia adalah ikhtiar untuk menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi masyarakat dengan kelestarian alam di wilayah utara Kota Banjarnegara.(HS)


