in

BGN Bekukan Sementara Satu Dapur SPPG Usai Dugaan Keracunan di SMKN 6 Semarang

Tim BGN langsung terjun melakukan investigasi di dapur SPPG dan melihat kondisi korban di Rumah Sakit dalam dugaan keracunan pangan yang dialami ratusan siswa dan guru SMK Negeri 6 Semarang.

HALO SEMARANG – Badan Gizi Nasional (BGN) membekukan sementara operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangturi, Semarang, menyusul dugaan keracunan pangan yang dialami ratusan siswa dan guru SMK Negeri 6 Semarang. Langkah ini diambil sebagai bentuk kehati-hatian sekaligus memberikan ruang bagi proses investigasi menyeluruh yang sedang berlangsung.

Koordinator Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Semarang, Hadi Riajaya, mengatakan penghentian sementara operasional dapur merupakan keputusan yang mengedepankan keselamatan para penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis.

“Sejak kemarin (Jumat, 31 Juli 2026), kami telah melakukan investigasi lintas sektor yang melibatkan KPPG Semarang, Koordinator Regional Jawa Tengah, Koordinator Wilayah Kota Semarang, Koordinator Kecamatan Semarang, Babinsa, Polrestabes Semarang, serta Dinas Kesehatan Kota Semarang. Karena itu, operasional dapur kami suspend sementara. Bagi BGN, keselamatan penerima manfaat adalah prioritas utama,” ujar Hadi di Semarang, Sabtu (1/8/2026).

Menurut Hadi, tim BGN bersama instansi terkait terus memantau perkembangan kondisi para siswa yang terdampak, mulai dari mereka yang mendapatkan penanganan di puskesmas hingga yang menjalani perawatan di rumah sakit.

“Kami terus mengecek kondisi penerima manfaat yang terdampak, baik yang dirawat di puskesmas maupun rumah sakit. Seluruh perkembangan kami pantau dan evaluasi, termasuk menelusuri setiap tahapan kronologi kejadian,” katanya.

Berdasarkan hasil pendataan sementara, sebanyak 693 siswa tercatat sebagai penerima manfaat dalam data sekolah. Sementara itu, Penyelidikan Epidemiologi (PE) yang dilakukan Dinas Kesehatan Kota Semarang telah mencakup 422 responden.

Hingga Sabtu, masih terdapat enam siswa yang menjalani perawatan intensif. Rinciannya, dua siswa dirawat di RSUD K.R.M.T. Wongsonegoro, satu siswa di RST Bhakti Wira Tamtama, satu siswa di Puskesmas Bangetayu, serta dua siswa lainnya di Puskesmas Halmahera.

Dalam investigasi awal, tim juga menelusuri seluruh rantai produksi makanan di dapur SPPG Karangturi.

Berdasarkan kronologi sementara, bahan baku seperti bumbu, ayam, tahu, sayuran, dan buah mulai diterima pada Rabu (29/7/2026) secara bertahap sejak pukul 13.00 hingga 17.30 WIB. Seluruh bahan kemudian disimpan di gudang basah maupun freezer sesuai jenisnya.

Proses persiapan makanan dimulai pada malam hari sekitar pukul 18.55 WIB, meliputi pencucian bahan, pengukusan tahu, hingga marinasi ayam sebelum proses penggorengan selesai menjelang tengah malam.

Selanjutnya, pada Kamis (30/7/2026) dini hari, tim dapur mulai mengolah menu utama, termasuk bumbu rendang, tahu, dan sayuran. Setelah melalui uji organoleptik serta pemeriksaan gramasi oleh ahli gizi sekitar pukul 04.00 WIB, makanan dikemas dan didistribusikan ke sekolah dalam dua tahap, yakni pukul 06.00 WIB dan 08.10 WIB.

Laporan pertama mengenai munculnya gejala gangguan pencernaan, seperti mual, muntah, dan diare, diterima pihak SPPG dari sekolah pada Jumat (31/7/2026) sekitar pukul 09.40 WIB.

BGN menegaskan bahwa hingga kini penyebab pasti dugaan keracunan belum dapat disimpulkan. Penetapan penyebab kejadian masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan maupun spesimen korban yang saat ini tengah dianalisis oleh Dinas Kesehatan Kota Semarang.

Selama proses investigasi berlangsung, operasional dapur SPPG Karangturi tetap dihentikan sementara. BGN memastikan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap prosedur operasional dan keamanan pangan sebelum memutuskan kembali mengaktifkan layanan, demi menjamin keamanan seluruh penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis.(HS)

Lantik Wakil Rektor Baru, UPGRIS Perkuat Tata Kelola Perguruan Tinggi