in

Beri Tausiah Perdana, Wamendikdasmen Ingatkan Kebaikan di Bulan Ramadan Harus Berkelanjutan

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, hadir memberikan tausiah kepada jemaah serta pegawai di lingkungan Kemendikdasmen, sesudah waktu Zuhur, belum lama ini. (Foto : kemendikdasmen.go.id)

 

HALO SEMARANG – Mengawali bulan suci Ramadan 1447 H, Masjid Baitut Tholibin, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), menyelenggarakan rangkaian kuliah tujuh menit (kultum) Islam.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat,   hadir memberikan tausiah kepada jemaah serta pegawai di lingkungan Kemendikdasmen, sesudah waktu Zuhur, belum lama ini.

​Dalam ceramahnya, Wamen Atip mengutip Surah Al-Baqarah Ayat 183, yang menjadi dasar perintah untuk berpuasa.

Ia menerangkan bahwa Allah SWT telah mensyariatkan ibadah puasa (saum) kepada manusia sejak tahun kedua Hijriah.

Ia menjelaskan bahwa sapaan ’Ya ayyuhalladzina amanu’ dalam ayat tersebut memiliki makna yang mendalam bagi setiap muslim.

​“Oleh karenanya, seruan ibadah saum (puasa) ini ditujukan kepada siapa saja yang mengaku bahwa dirinya beriman kepada Allah SWT,” kata dia, seperti dirilis kemendikdasmen.go.id.

​Lebih lanjut, dia mengungkapkan bahwa kata ‘kutiba’ dalam surah tersebut menyiratkan bahwa ibadah puasa adalah sesuatu yang berat untuk dijalankan.

Namun, Wamen Atip meyakini bahwa Allah SWT tidak akan menguji manusia di luar batas kemampuannya. Hal ini terlihat dari adanya kelonggaran bagi mereka yang sakit atau berada dalam perjalanan.

“Ibadah saum (puasa) itu dikecualikan bagi yang sakit, oleh karenanya tidak ada ibadah yang tidak disesuaikan ketika kita sakit. Juga, yang melekat pada diri kita sebagai manusia adalah safar atau bepergian,” ungkapnya.

​Wamen Atip juga mengingatkan bahwa ibadah puasa bukan hanya perihal menahan lapar dan haus.

Menurutnya, menahan diri dari aktivitas nonfisik seperti mengeluarkan kata-kata yang kurang enak didengar maupun bergibah justru menjadi tantangan yang sebenarnya ketika menjalani ibadah puasa.

Ia berharap, agar kebaikan-kebaikan yang dijalani selama bulan Ramadan tidak berhenti saat bulan suci ini selesai.

Baginya, Ramadan adalah kesempatan untuk melatih diri dalam berbuat kebaikan yang perludibawa ke bulan-bulan berikutnya.

Tak hanya itu, Wamen Atip menegaskan bahwa keberlanjutan ibadah seseorang akan tercermin dari konsistensinya setelah Ramadan berakhir.

“Apa yang kita lakukan pada bulan Ramadan ini semacam training (pelatihan), pembuktiannya nanti di luar bulan Ramadan,” kata dia. (HS-08)

 

 

Komisi V DPR RI Minta Persoalan Penurunan Jalur Kereta Api di Semarang Segera Ditangani

BNPB Pastikan Kebutuhan Warga Terdampak Banjir di Grobogan Terpenuhi