HALO KENDAL – Kekeringan dan kebutuhan air bersih mulai dirasakan oleh masyarakat di Kabupaten Kendal. Salah satunya di Desa Curugsewu, Kecamatan Patean. Warga disini harus mengandalkan distribusi air bersih dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kendal.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Kendal, Sigit Sulistyo menerangkan, pendistribusian air bersih kepada warga di Desa Curugsewu sudah dilaksanakan sejak tanggal 19 Juli 2023 lalu.
“Beberapa hari lalu kita distribusikan air bersih di Dusun Robyong, Desa Curugsewu, sebanyak tiga tangki dengan total 14.000 liter, kemudian di dusun lainnya sebanyak empat tangki dengan total 18.000 liter. Sejak tanggal 19 Juli 2023 sampai hari ini, total air bersih yang telah didistribusikan di Desa Curugsewu sebanyak 196.000 liter,” terangnya, Sabtu (12/8/2023).
Di sisi lain, Sigit mengimbau kepada masyarakat Kendal untuk senantiasa waspada terkait datangnya musim kering terutama dalam memanfaatkan air secara efektif.
Dirinya juga meminta, supaya warga selalu waspada terhadap dampak musim kemarau yaitu ancaman bencana hidrometeorologi. Beberapa di antaranya seperti cuaca ekstrim, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, kebakaran gedung/rumah serta gelombang tinggi di pesisir pantai.
“Kita harus waspada terkait dengan instalasi listrik di perumahan, harus di cek kabel-kabelnya. Kemudian kalau membakar ranting pohon atau sampah di sekitar kebun atau ladang harus ditunggu sampai apinya padam agar tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan,” ungkap Sigit.
Sementara itu, beberapa desa yang dulu pernah kesulitan air bersih, sudah teratasi dengan adanya bantuan pembangunan Pamsimas. Namun, pihak BPBD tetap akan melayani jika ada permintaan bantuan dari bersih.
Diketahui kekeringan juga dirasakan para petani di Kendal. Dimana tanaman padi di wilayah Kendal sebagian sudah mulai kekurangan air.
Hal tersebut terjadi lantaran kebutuhan pengairannya mengandalkan air hujan, padahal saat ini musim kemarau. Anak sungai yang biasanya dialiri air menuju ke sawah, saat ini kondisinya sudah mengering.
Untuk mencukupi kebutuhan air, para petani harus mengambil air dari sungai, menggunakan mesin pompa air dengan selang panjang. Petani pun harus mengeluarkan tambahan biaya untuk membeli bahan bakar bensin.
Seperti diungkapkan Sutaman, petani di Desa Turunrejo, Kecamatan Brangsong, Kendal, yang mengaku sudah setengah bulan tanaman padinya kesulitan mendapatkan air.
“Akhirnya, kami bersama petani lainnya berinisiatif mengambil air dari sungai besar menggunakan mesin pompa air dengan selang. Karena saluran air sungai ke sawah kering, tidak ada airnya. Jadi harus mengambil air sungai dengan selang, disedot pakai pompa air,” ungkapnya.
Sutaman menjelaskan, dalam satu hari, pihaknya bisa menghabiskan sekitar enam liter bensin untuk bahan bakar pompa air, untuk mengairi tanaman padinya.
“Pengambilan air dari sungai memang tidak dilakukan tiap hari, tetapi disesuaikan kebutuhan. Sehingga tidak terlalu banyak mengeluarkan biaya. Jadi solusinya, ya mompa airnya sekalian untuk beberapa hari,” jelasnya. (HS-06)