HALO REMBANG – Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang, menyebut angka kematian ibu dan bayi baru lahir di wilayahnya, walaupun sudah mengalami penurunan, tetapi masih mengkhawatirkan.
Subkoordinator Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Kesehatan Dinas Kesehatan Rembang, Sarwoko Mugiyono, Kamis (25/8/2022) mengatakan angka kematian bayi, selama 2017 sebanyak 135 kasus.
Angka ini meningkat pada 2018, yang mencapai 149 kasus dan pada 2019 naik lagi hingga 164 kasus.
Pada 2020 angka tersebut turun menjadi 138 kasus dan pada 2021 sebanyak 97 kasus.
Pada tahun ini, sejak Januari hingga Agustus 2022, masih terjadi 63 kasus.
Adapun faktor pemicu kematian bayi, di antaranya asfiksia (kekurangan oksigen), bayi berat badan lahir rendah (BBLR) dan adanya kelainan.
“Semoga sampai sisa waktu akhir tahun, nggak ada tambahan lagi. Kami akan monitoring rutin,“ kata dia, seperti dirilis rembangkab.go.id.
Adapun terkait kasus angka kematian ibu hamil dan dalam masa nifas, setiap tahun juga fluktuatif.
Pada tahun 2017 ada 14 kasus, 2018 mencapai 9 kasus, 2019 turun 7 kasus, 2020 naik menjadi 13 kasus, kemudian tahun 2021 turun menjadi 6 kasus, dan sejak Januari hingga Agustus tahun 2022, sudah ada 5 kasus.
“Idealnya kematian ibu tidak ada. Kita sedang terus berupaya kalau bisa 0 kasus,“ kata Sarwoko.
Dari hasil evaluasi, penyebab kematian ibu selama tahun 2021, paling dominan adalah pengaruh pandemi Covid-19, disusul faktor pendarahan, dan eklampsia (kejang-kejang).
Untuk menekan angka kasus kematian ibu dan bayi, Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang, terus menggencarkan program Telponi, atau Temokno, Laporno lan Openi (Temukan, Laporkan dan Rawat).
Dia mengatakan dalam program Telponi terdapat beberapa tahapan.
Tahapan paling awal adalah temokno atau temukan. Pada tahap ini, masyarakat, tokoh masyarakat, atau kader Telponi yang mengetahui adanya bayi baru lahir dan ibu hamil dengan risiko tinggi, hendaknya langsung melaporkan ke puskesmas setempat.
Berdasarkan laporan tersebut, fasilitas kesehatan tingkat pertama itu, akan menurunkan petugas, untuk melakukan pendampingan khusus pada ibu hamil dan bayi baru lahir dengan risiko tinggi.
“Terhadap ibu hamil dan bayi risko tinggi ini, kita akan merawat, menjaga, dan mendampingi. Jangan sampai ibu hamil tidak tertangani. Penanganannya pun harus benar-benar sesuai prosedur, sehingga tidak terjadi lagi kasus kematian ibu,” kata dia.
Lebih lanjut Sarwoko menyebutkan bahwa risiko tinggi yang dialami ibu hamil ini, bisa saja karena sudah bawaan atau keturunan.
Untuk itu perlu ada antisipasi penanganan secara khusus, pada ibu hamil dengan risiko tinggi.
“Semuanya ada jalan keluar, ada langkah alternatifnya. Sepanjang dikomunikasikan,” kata dia.
Begitupun kepada sang ibu hamil, mereka harus mengutamakan keselamatan anak. Tidak perlu malu atau canggung untuk dapat memeriksakan kondisi kehamilan.
Disebutkan Sarwoko, kepedulian tetangga juga sangat membantu dalam upaya menekan angka kematian ibu melahirkan.
Di tingkat desa ada kader Telponi dan bidan yang siap mengawal program Telponi.
Selain itu Dinas Kesehatan juga menggandeng dokter spesialis anak dan dokter spesialis kandungan, untuk mendukung program Telponi. Mereka memiliki wilayah binaan yang tak hanya 1 kecamatan saja.
“Dokter kandungan kan yang banyak di Rembang dan Lasem, yang jauh-jauh tidak ada pemantauannya. Nah sekarang mereka punya wilayah binaan, di sana diupayakan tidak ada kematian bayi dan ibu melahirkan,” kata dia. (HS-08)