
HALO SEMARANG – Wabah Covid-19 membuat ribuan buruh terdampak. Beberapa di antara mereka terpaksa terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) atau dirumahkan tanpa menerima bayaran dari perusahaan.
Total buruh di Jateng yang terkena PHK dan dirumahkan, sekitar 55 ribu buruh. Sebagian besar dibantu sembako oleh pemkab pemkot masing-masing.
Namun ada tiga kabupaten kota yang tidak bisa mengcover, sehingga harus dibantu Pemprov Jateng. Pemprov Jateng pun telah menyiapkan 2.164 paket sembako untuk membantu para buruh yang terdampak wabah corona ini.
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo akan memberikan langsung bantuan paket sembako kepada buruh yang terkena PHK atau dirumahkan. Paket sembako diberikan Ganjar bertepatan dengan peringatan hari buruh atau May Day, Jumat (1/5/2020).
Paket berisi bahan kebutuhan pokok seperti beras, minyak, gula, telor, mi dan lainnya. Ada pula tambahan ikan sebagai lauknya.
“Di tengah kondisi susah seperti ini, memang harus ada yang memberikan perhatian kepada kawan-kawan buruh. Siapa itu, ya perusahaan dan pemerintah,” kata dia.
Meski banyak perusahaan yang gulung tikar dan melakukan pengurangan karyawan, namun Ganjar meminta agar perhatian tetap diberikan. Meski tidak banyak karena kondisi ekonomi sedang terguncang, minimal perusahaan bisa membantu memberikan keringanan.
“Mari perusahaan ikut bantu, berapapun itu sangat berarti. Setidaknya, kita bisa bikin ayem mereka, karena sebenarnya mereka saat ini deg-degan dan separuh panik, besok makan apa dan di mana,” terangnya.
Jumat (1/5/2020) pihaknya bersama Korpri Jateng dan Pemkab Boyolali memberikan bantuan 1.000 paket sembako. Menurutnya, perusahaan dapat melakukan hal yang sama agar suasana relasi hubungan industrial tetap berjalan bagus.
“Saya tahu kondisinya semua sedang susah. Tapi mari kita peduli dengan membantu sesama, khususnya dalam peringatan May Day ini, kita peduli pada kawan-kawan buruh,” tegasnya.
Bantuan-bantuan itu, lanjut Ganjar, penting untuk megamankan mereka setidaknya selama sebulan ke depan. Sebab kalau para buruh itu pikirannya aman, dapurnya masih mengebul, mereka akan bisa berkreasi dan berinovasi.
“Kalau urusan makan sudah aman, mereka bisa kok berinovasi. Ada yang bikin masker, jualan, jadi tukang batu atau mungkin ekonomi kreatif akan muncul. Apapun itu, yang penting mereka bisa survive,” pungkasnya.(HS)