in

Ahli Geologi Undip: Penyebab Utama Banjir Rob Semarang Faktor Iklim dan Pengambilan Air Bawah Tanah

Ilustrasi foto: Banjir rob di daerah sekitar Pelabuhan Tanjung Emas Semarang

HALO SEMARANG – Kejadian banjir rob yang melanda wilayah Kota Semarang bagian utara dan sekitar kawasan Pelabuhan Tanjung Emas pada Selasa (24/5/2022) hingga mencapai ketinggian satu meter, dinilai faktor utamanya adalah karena kondisi iklim. Sehingga menyebabkan lumpuhnya semua aktivitas di kawasan industri dan ratusan kendaraan di tempat kerja terendam.
Hal itu disampaikan oleh Ahli Geologi dari Fakultas Teknik Undip Semarang, Dr. rer.nat.Thomas Triadi Putranto, ST, M. Eng saat dihubungi, Jumat (27/5/2022).

Menurutnya bahwa kejadian banjir yang disebabkan naiknya air laut ke permukaan atau rob baru-baru ini, adalah karena faktor tingginya pasang surut air laut dua hingga tiga kali lebih tinggi dari biasanya. Sehingga mengakibatkan beberapa wilayah terutama Semarang bagian utara dan pelabuhan mengalami banjir rob cukup parah.
“Faktor utama adalah karena memang kondisi iklim pada saat itu, yakni pasang surut air laut tidak seperti biasanya. Naik air laut ke permukaan bisa capai dua kali atau tiga kali dari biasanya,” katanya, Jumat (27/5/2022).

Hal itu berdampak terjadinya banjir rob di wilayah yang memang memiliki kondisi permukaan daratan lebih rendah dari permukaan laut.

“Beberapa wilayah daratan yang ada tingginya sudah kalah, air laut lebihi permukaan daratan. Di sekitar area pelabuhan banyak kendaraan yang terendam hingga satu jok, bahkan ketinggian banjir rob capai spion motor,” imbuhnya.

Selain faktor iklim, ketinggian banjir rob diperparah dengan infrastruktur penahan air laut masuk ke daratan mulai rawan rusak. Seperti yang terjadi dengan jebolnya tanggul penahan air laut di kawasa Pelabuhan Tanjung Emas.

“Sehingga perlu pengecekan rutin infrastuktur, utamanya yang berbatasan langsung dengan air laut. Karena jika tidak diperhatikan, maka akan rentan dan rusak karena tidak mampu menahan jumlah air laut yang makin besar, sehingga air laut bisa meluncur deras ke permukaan daratan menuju lokasi yang rendah,” ujarnya.

Menurut dia, penyebab lainnya selain infrastuktur juga kondisi alam yang sulit untuk dihindari, karena tidak hanya di Semarang tetapi di wilayah Pantura seperti Demak dan Rembang.

“Kenapa di Semarang begitu parah, karena juga dipengaruhi adanya penurunan muka tanah atau land subsidence. Seperti di pelabuhan dan Semarang bagian utara (penurunan muka tanahnya) bisa mencapai 10-12 centimeter per tahun. Bahkan, bisa hingga 15 centimeter per tahun atau lebih dari 8 centimeter per tahun,” paparnya.

Penyebab penurunan permukaan tanah sendiri, lanjut dia, adalah karena faktor alamiah atau struktur tanah alluvial muda belum terkonsolidasi dengan baik untuk menjadi endapan lepas.

“Lalu adanya pengambilan air tanah yang melebihi potensi dan tidak diimbangi dengan pengisian air tanah kembali. Rongga tanah tidak cepat terisi, sehingga rongga tanah tersebut terisi dengan material endapan muda sehingga permukaan tanah turun. Karena batuan yang ada di Semarang utara belum terkonsolidasi dengan baik,” jelasnya.

Salah satu upaya mencegah penurunan muka tanah tersebut, menurut dia dengan membuat sumur resapan baik dangkal dan dalam, untuk mengurangi perjalanan air langsung ke muara.

“Sebenarnya pengambilan air tanah sudah ada sejak tahun 1841 atau zaman Belanda, tapi dengan seiring bertambahnya penduduk akibatnya kebutuhan air meningkat,” katanya.

Dia mengajak semua pihak untuk menggunakan air tanah yang bijak.

“Sebisa mungkin menggunakan air tanah itu menjadi pilihan paling terakhir, sebisa mungkin menggunakan air permukaan seperti air dari PDAM. Tapi memang PDAM tidak mampu jika melayani semua pelanggan termasuk pelaku industri. Dengan adanya Waduk Jatibarang diharapkan menambah kapasitas pelayanan pelanggan rumah tangga maupun industri sehingga mengurangi penggunaan air tanah,” harapnya.

Kemudian yang harus dilakukan, dia mengungkapkan pemerintah daerah atau provinsi bisa memperbarui ijin dari pelaku industri untuk mengurangi jumlah air tanah yang diambil.

“Mengingat kondisi air tanah saat ini masih banyak dipakai oleh para industri. Mereka lebih memilih menggunakan air tanah karena lebih efisien dan hemat dibandingkan dengan memakai air PDAM, belum lagi jika ada kerusakan atau hambatan untuk memasok kebutuhan air di tempat usaha mereka,” katanya.

Diharapkan juga, pemerintah daerah setempat rutin mengecek sungai, tanggul laut dan kesiapan pompa, apalagi saat ini kondisi curah hujan tinggi.

Selain faktor infrastruktur dan alam, penyebab banjir rob di pesisir utara karena terkait reklamasi pantai, perubahan tata guna lahan dan kerusakan hutan mangrove sebagai sabuk alam penahan abrasi.

Sebelumnya, terkait pengambilan air bawah tanah (ABT) Anggota Komisi C DPRD Kota Semarang, Joko Santoso, mengatakan eksplorasi air bawah tanah (ABT) harus dibatasi secara ketat. Pemkot kata dia, harus berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah terkait pengelolaan air bawah tanah, karena menjadi kewenangan dari provinsi.

“Enam daerah di Semarang bawah ini bisa dibilang zona merah, yakni Kecamatan Tugu, Semarang Barat, Semarang Utara, Semarang Timur, Gayamsari dan Kecamatan Genuk. Pengambilan air tanah disana harus dibatasi,” katanya.

Langkah antisipasi agar Semarang Bawah tidak tenggelam air laut, kata Politikus Partai Gerindra ini harus ada larangan tegas mengambil ABT di wilayah zona merah. Serta mewajibkan masyarakat mulai menggunakan air yang dikelola oleh PDAM. (HS-06)

Buya Syafii Maarif Wafat, Alissa Wahid : Bangsa Ini Kehilangan Mutiaranya

Sampaikan Duka Cita, Menag Sebut Buya Syafii sebagai Guru Bangsa