HALO KENDAL – Salah satu penyebab tingginya angka cedera atlet ialah karena perilaku atlet yang cenderung memaksakan diri untuk tetap latihan pada saat sudah mengalami cedera, karena takut tidak diikutsertakan dalam kompetisi. Hal tersebut justru hanya akan menyebabkan proses pemulihan semakin lama.
Hal tersebut ditegaskan Ketua Umum KONI Kendal, Subur Isnadi di hadapan pelatih dan tim masseur cabang olahraga (cabor) saat membuka Pelatihan Pencegahan, Penanganan dan Exercise Cedera Olahraga, Analisa dan Pananganan dengan Ispot Merhod, yang digelar KONI Kendal, di SMKN 4 Kendal, Sabtu (13/5/2023).
“Artinya para atlet bahkan mungkin termasuk pelatih, belum memiliki pengetahuan yang cukup mengenai cara menangani cedera olahraga. Oleh karena itu perlu dilakukan pemberian pelatihan pencegahan dan penanganan cedera olahraga kepada pelatih dan masseur cabang olahraga di KONI Kendal,” tandas Subur.
Dikatakan, cedera olahraga para atlet merupakan salah satu hambatan yang sering dihadapi atlet pada saat kompetisi maupun dalam tahap persiapan.
“Rendahnya pemahaman pelatih tentang penanganan pertama cedera olahraga, sehingga dibutuhkan edukasi pada pelatih tentang pemahaman cedera olahraga dan penanganan pertama cedera olahraga,” kata Subur.
Sebelum membuka acara dia berpesan kepada peserta, untuk sungguh-sungguh mengikuti pelatihan yang akan disampaikan narasumber praktisi terapis Ragil Atmaja dari Yogyakarta.
“Untuk itu, dalam kesempatan ini, kita mengundang narasumber mas Ragil dari Sleman Yogyakarta, untuk sharing bersama kita dalam penanganan cedera pada atlet, yang baik dan benar. Selamat mengikuti kegiatan ini. Semoga bermanfaat,” imbuh Subur.
Sementara Wakil Ketua 2 bidang Pembinaan dan Prestasi (Binpres), Sunari Sofyan mengatakan, acara diikuti 50 pelatih dan sembilan masseur dari cabang olahraga di bawah naungan KONI Kendal.
“Edukasi dilakukan pada pelatih dan tim masseur cabor di Kendal, yang dilakukan dengan penyuluhan dan pelatihan penanganan pertama cedera olahraga,” ujarnya
Hal itu, lanjut Sunari, menunjukan bahwa edukasi kepada pelatih dan tim masseur yang dilakukan dengan pelatihan penanganan pertama cedera olahraga, efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan praktik pelatih maupun masseur dalam penanganan pertama cedera olahraga.
“Secara keseluruhan pelatihan ini dapat disimpulkan berhasil dan keterampilan pencegahan cedera dapat dikuasai dengan baik oleh peserta,” imbuhnya.
Dalam pemaparannya, Ragil Atmaja mengatakan, kerusakan halus pada jaringan otot pasca berolahraga merupakan hal yang tidak dapat dihindari, terutama untuk para pemula.
Menurutnya, olahragawan maupun atlet yang rutin berolahraga pun tidak luput dari pegal-pegal apabila intensitas olahraganya terus meningkat.
“Untuk durasi pemulihan dari pegal-pegal sendiri memakan waktu tidak menentu karena sangat bergantung dari penanganan dan tingkat kerusakaannya,” kata Ragil.
Dijelaskan, kondisi terjadinya inflamasi atau peradangan pada jaringan otot yang rusak adalah proses yang wajar dalam fase pemulihan.
“Saat berolahraga jaringan otot memang secara tidak langsung akan rusak. Tujuannya adalah setelah proses regenerasi sel, tubuh akan menambah jumlah jaringan ototnya sebagai bentuk persiapan untuk menerima tekanan yang lebih berat,” jelas Ragil.
Secara umum program ini bertujuan untuk pencegahan angka kejadian cedera olahraga yang tinggi, serta mengurangi tingkat keparahan akibat cedera olahraga.
“Sehingga, kelompok sasaran program ini adalah pelatih dan masseur cabang olahraga di KONI Kendal. Pelaksanaan pengabdian dilakukan di mana peserta diberikan materi serta diberikan multimedia interaktif pencegahan dan penangan cedera kepada atletnya,” imbuh Ragil. (HS-06).