in

Kasus LSD di Kendal Terus Meningkat, Langkah Pencegahan Terus Dilakukan

Hewan ternak yang terpapar Virus LSD di Kendal.

HALO KENDAL – Kasus virus Lumpy Skin Disease (LSD) di Kabupaten Kendal terus mengalami peningkatan. Berdasarkan data, hari Kamis (26/1/2023) kemarin penyebaran virus LSD di Kendal telah mencapai 198 ekor ternak.

Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), Dinas Pertanian dan Pangan Kendal, Puji Yuwono, kepada halosemarang.id, Jumat (27/1/2023).

“Berdasarkan data, hingga hari ini total mencapai 198 ekor. Dengan rincian, kasus baru sebanyak enam ekor, dengan kasus aktif 194, dan sembuh empat ekor,” bebernya.

Puji memaparkan, penyakit disebabkan oleh virus cacar (pox virus) pada ternak sapi dan kerbau, dengan morbiditas 45 persen dan mortalitas mencapai 10 persen.

“Gejalanya, masa inkubasi empat hari sampai dengan lima minggu, ternak demam tinggi dan lesu, kemudian pembengkakan limfonedus, juga terdapat leleran di mata dan hidung, serta muncul lesi cacar atau nodul pada permukaan kulit,” paparnya.

Menurut Puji, cepatnya penyebaran virus didukung oleh kondisi cuaca lembab. Karena menurutnya, sangat bagus untuk perkembangan virus.

“Cara penularannya, kontak langsung melalui lesi kulit, darah, leleran hidung dan mata, juga air liur. Selain itu vector melalui gigitan serangga, seperti nyamuk atau lalat penghisap darah dan caplak. Faktor penyebab lain yaitu melalui peralatan, pakaian dan sebagainya,” terangnya.

Puji menjelaskan, langkah yang telah diambil Dinas Pertanian dan Pangan Kendal, melalui Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan, adalah dengan melakukan komunikasi, informasi dan edukasi kepada peternak.

Untuk pengendalian dan penanganan, pihaknya juga melakukan langkah, pembatasan lalu lintas, karkas, kulit dan semen. Tidak memasukkan ternak dari daerah tertular dan isolasi ternak sakit.

Selain itu juga melaksanakan vaksinasi, penanganan hewan mati (disposal) dengan benar, pembersihan dan disinfeksi area kandang dan lingkungan, serta memberikan pengobatan suportif pada ternak, dan pengendalian vektor lalat, nyamuk dan caplak.

“Pelaksanaan survailans, vaksinasi LSD dan pengobatan kepada ternak yang terpapar terus dilakukan. Untuk target vaksinasi 10 ribu ekor sapi dan kerbau,” jelas Puji.

Sedangkan, menyinggung kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) di Kendal, hingga saat ini total tercatat 1.166 ekor.

“Dengan rincian, 59 kasus aktif, 1 kasus baru, sebanyak 1065 dinyatakan sembuh, mati delapan ekor, dipotong 28 ekor dan dijual sebanyak enam ekor,” papar Puji.

Dirinya juga menyebut, penyebaran PMK terbanyak saat ini ada perbatasan Jawa Tengah dengan Jawa Timur. “Yaitu di daerah Blora,” imbuh Puji Yuwono.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan), Pandu Rapriat Rogojati mengimbau kepada masyarakat untuk tidak memasukkan/membeli ternak dari wilayah lain terutama dari daerah yang terpapar.

“Kepada peternak, kami imbau untuk selalu menjaga kebersihan kandang, menerapkan biosecurity baik lingkungan, peralatan dan personal, serta pemberian pakan ternak yang berkualitas,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Pandu, kepada masyarakat bisa melaporkan dini kepada petugas jika menjumpai ternak yang bergejala terdampak virus LSD.

“Yaitu di Puskeswan Weleri, Puskeswan Boja, Puskeswan Kaliwungu dan Puskeswan Sukorejo. Bisa juga di UPTD Puskeswan dan RPH, serta Bidang PKH Dispertan Kendal,” pungkasnya. (HS-06)

113 Pejabat Fungsional Dilantik, Ini Harapan Bupati Kendal

PSIS Lepas Tiga Pemain, Wahyu Tri, Guntur Triaji, dan Andreas Ado