in

Rayakan Imlek, Siswa SMP di Kendal Sajikan Opera Sampek Engtay

Pementasan opera Sampek Engtay oleh siswa-siswi SMP Kanisius Weleri, dalam perayaan Tahun Baru Imlek, di Kelenteng Tri Dharma Weleri, Minggu (22/1/2023)

HALO KENDAL – Perayaan Tahun Baru Imlek 2574 di Kelenteng Tri Dharma Weleri disajikan Opera Sampek Engtay, yang dipersembahkan siswa-siswi SMP Kanisius Weleri, Minggu (22/1/2023).

Disutradarai Petrus Suranta, pertunjukan opera Sampek Engtay berhasil memukau seluruh tamu undangan yang hadir.

Acara digagas oleh Fenny Surja Panca Padma Grup dan segenap pengurus Kelenteng berjalan dengan baik dan lancar.

Opera Sampek Engtay mengisahkan sebuah kisah cinta dari negeri Tiongkok yang memang tak ada habisnya.

Bahkan, salah satu cerita legendaris ini telah berakar kuat di Indonesia. Cerita romansa yang berakhir penuh kesedihan ini digarap begitu apik.

Legenda Sampek Engtay ini konon terjadi di masa Dinasti Chin di dataran Tiongkok dan cerita ini sudah ada di tengah-tengah masyarakat selama lebih dari 1460 tahun.

Opera Sampek Engtay ini mengkisahkan seorang gadis bernama Engtay yang menyamar menjadi laki-laki untuk bisa bersekolah.

Diceritakan, dalam perjalanan menuju sekolah, Engtay berkenalan dengan Sampek, dan mereka pun langsung merasa cocok dan bersumpah menjadi saudara.

Selama tiga tahun mereka mengenyam pendidikan bersama-sama, Sampek sama sekali tak menyadari bahwa Engtay adalah seorang gadis. Sementara Engtay lama-lama jatuh cinta pada Sampek.

Suatu hari, Engtay harus pulang ke rumah. Sampek pun ikut mengantarkan Engtay.

Atas petunjuk keluarga Sampek, Sampek yang sudah mengetahui Engtay adalah perempuan, pun melamar Engtay. Namun, ternyata lamaran itu ditolak oleh keluarga Engtay karena sudah dijodohkan dengan Macun anak dari Kapten Liong.

Karena patah hati, Sampek sakit-sakitan dan meninggal. Sementara itu, Engtay dilamar oleh laki-laki lain. Di hari pernikahannya, Engtay hanya menangis. Saat melewati makam Sampek, ia minta menghampiri makam Sampek dan berdoa. Langit berubah gelap dan angin menjadi ribut.

Petir menyambar makam Sampek hingga terbelah. Engtay kemudian meloncat masuk dalam makam, bergabung dengan kekasihnya.

Setelah itu, langit kembali cerah dan muncul sepasang kupu-kupu. Tarian kupu-kupu mengakhiri opera ini. Demikian liputan tentang perayaan Imlek di Kelenteng Tri Darma Weleri.

Menurut Petrus Suranta yang menjadi sutradara, dirinya sengaja menyelipkan nuansa romantis dan sedikit komedi di tengah cerita. Sehingga perasaan penonton akan larut dan tidak bosan mengikuti alur cerita.

“Sengaja kami selipkan nuansa romantis dibumbui sedikit komedi di tengah cerita. Supaya penonton bisa menghayati dan tidak merasa bosan,” terangnya, Selasa (24/1/2023).

Sementara guru pembimbing SMP Kanisius Weleri, AR Diani Indrayani mengatakan, pementasan dilakukan siswanya, untuk memadukan keberagaman dengan pemberian dukungan positif dalam perayaan Imlek menjadi jembatan mewujudkan Indonesia kecil khususnya dalam kebhinekaan.

Untuk itu, pihaknya ingin membawa para siswa memiliki pola pikir, berjalan bersama itu indah. Meski dengan warna yang berbeda, namun dapat membangun pondasi pola pikir, pola hidup sampai sikap hati kebhinekaan.

“Selain itu, dengan modal pengembangan kegiatan kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari, tanpa meninggalkan kultur, budaya masing-masing,” ungkap Diani. (HS-06)

 

Sebanyak 858 Anggota PPS di Kendal Diambil Sumpah, Diminta Siap Mental dan Fisik

Layani Penerbitan E-KTP Pemilih Pemula, Disdukcapil Jemput Bola ke Sekolah