in

Cegah Campak dan Rubella Meluas, Kemenkes Perkuat Surveilans

Bintik-bintik pada tangan orang yang terkena penyakit campak. (Foto : sehatnegeriku.kemkes.go.id)

 

HALO SEMARANG – Direktur Pengelolaan Imunisasi Kementerian Kesehatan, Prima Yosephine, menjelaskan pemerintah Indonesia memperkuat surveilans, untuk menghambat laju penularan penyakit campak dan rubella.

Dia menjelaskan, kasus yang diduga penyakit campak rubella, yaitu pasien yang mengalami demam dan ruam-ruam, harus diambil spesimennya dan diperiksa di laboratorium.

“Jadi penguatan surveilans dilakukan dengan segera menemukan kasus suspek penyakit campak rubella dan segera melaporkan supaya pasien dapat penanganan segera dan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,” jelasnya, seperti dirilis tribratanews.polri.go.id.

Hampir tiga tahun sejak terdampak dari pandemi Covid-19, cakupan vaksinasi di Indonesia secara signifikan, menyebabkan banyak anak tidak diimunisasi, terutama campak.

Sepanjang 2022 sudah ada 12 provinsi yang mengeluarkan pernyataan kejadian luar biasa (KLB).

Suatu daerah disebut KLB, kalau ada minimal dua kasus campak di daerah tersebut yang sudah confirm secara laboratorium dan kasus ini memiliki hubungan epidemiologi.

“Sepanjang 2022 dari Januari hingga Desember, jumlah kasus campak di negara kita memang cukup banyak, lebih dari 3.341 laporan kasus. Kasus-kasus ini menyebar di 223 kabupaten atau kota di 31 provinsi,” tambahnya.

Apabila dibandingkan dengan 2021, ada peningkatan yang cukup signifikan kurang lebih 32 kali lipat.

Penyebabnya karena dua tahun berturut-turut Indonesia tidak bisa mencapai target untuk pelayanan imunisasi rutin.

Sehingga banyak anak-anak yang tidak diimunisasi rutin akibat Covid-19. Pemerintah Indonesia menargetkan eliminasi campak rubella 2023 secepatnya.

Eliminasi itu adalah suatu keadaan di mana bisa menekan sedemikian rupa angka dari kesakitan akibat campak ini.

“Sehingga tentu tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat lagi. Tapi dengan adanya kenaikan kasus campak di negara kita tentu mimpi untuk mencapai eliminasi ini menjadi agak sulit untuk bisa merealisasikannya tahun ini,” kata dia.

Segera Imunisasi

Sebelumnya, Ketua Unit Kerja Koordinasi Penyakit Infeksi Tropik IDAI, Anggraini Alam, mengimbau para orang tua agar segera melengkapi imunisasi anak, salah satunya imunisasi untuk mencegah penyakit campak.

“Ayo segera lengkapi imunisasi, ini menjadi salah satu peringatan bagi anak yang belum imunisasi, gizi buruk dan rentan penyakit,” kata dia.

Anggraini Alam juga menjelaskan, virus penyakit campak lebih cepat menyebar melalui udara, dibandingkan virus Covid-19.

Bahkan dapat menyebar 100 persen lebih cepat, jika imun tubuh seorang anak sedang turun.

“Oleh karena itu saat ini momennya kita pakai, agar semua menjadi benar dan terarah. Sebenarnya cara pemerintah ini baik untuk menekan pertumbuhan wabah ini,” jelasnya.

Imunisasi campak dapat memproteksi diri anak, agar tidak tertular dari orang lain.

Virus campak lebih banyak menular pada tubuh anak-anak di segala usia. Namun dengan imunisasi lengkap, anak menjadi lebih tahan.

“Itulah hebatnya imunisasi campak, jadi bagus sekali dalam proteksinya. Bahkan potensial bagi anak yang belum imunisasi dan juga gizi buruk,” kata dia.

Adapun untuk gejalanya, kebanyakan anak akan mengalami demam, disertai gejala batuk, konjungtivitis, mata merah hingga berair, dan pilek.

“Maka dari itu hati-hati pada demam. Apalagi anaknya belum imunisasi dan temannya ada yang bergejala,” kata dia.

Anggraini Alam juga mengimbau untuk segera melengkapi imunisasi campak anak secepatnya.

Imunisasi adalah tata cara yang sudah lama dan terbukti efektif mencegah penyakit pada anak. (HS-08)

Menparekraf Dorong Content Creator Turut Promosikan Sektor Parekraf

Antisipasi Cuaca Ekstrem, Satpolairud Polres Pekalongan Kota Patroli Dialogis di Pantai Pasir Kencana