HALO SEMARANG – Kenaikan harga sejumlah kebutuhan bahan pokok seperti beras, daging ayam dan telur di pasaran Kota Semarang yang masih tinggi saat menjelang hari besar keagamaan maupun momen akhir tahun 2022, menyumbang inflasi di Kota Semarang. Namun, secara nasional inflasi Kota Semarang tahun ini sebesar 4,99 persen masih di bawah inflasi nasional, yang berada di angka 5,5 persen.
Plt Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu mengatakan, kenaikan harga kebutuhan pokok seperti beras, telur ayam, minyak goreng, daging ayam yang tinggi dalam waktu lama di pasaran menyebabkan terjadinya inflasi. Pasalnya, kenaikan harga komoditas seperti telur dan daging ayam saat ini dapat meluas ke komoditas lainnya.
“Inflasi Kota Semarang di bawah pemerintah provinsi dan pusat, yaitu sebesar 4,99 persen. Artinya pengendalian inflasi di Kota Semarang alhamdulillah berjalan dengan lancar,” terangnya, usai membuka acara kick off meeting penyusunan Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RPKD) tahun 2024 dan RPJPD tahun 2025-2045 di Gedung Moch Ichsan Komplek Balai Kota Semarang, Kamis (19/1/2023).
Ita, sapaan akrab Hevearita G Rahayu menambahkan, harapannya pihaknya bisa mempertahankan laju inflasi agar tetap rendah. Hal ini lanjut Ita, seperti yang disampaikan pak Presiden, Kepala daerah, harus rajin untuk turun ke pasar, mengecek harga sembako agar mengetahui kondisi harga riil di lapangan. Monitoring harga bahan pokok memang dilaksanakan setiap hari harus untuk pengendalikan inflasi, dan Kota Semarang terhindar dari resesi.
“Jangan sampai menjadi bom waktu, dibilang dari temen -temen dinas terkait kalau harganya normal, tetapi tidak sesuai dengan kondisi riil yang ada seperti yang disampaikan kemarin gitu, padahal kenaikan harga di pasar Peterongan yang agak tinggi,”paparnya.
Adapun upaya dari pemerintah kota untuk menekan laju inflasi dengan menggelar pasar murah dan operasi pasar. “Kita langsung intervensi, begitu juga kalau ada harga kebutuhan pangan masyarakat tinggi harus segera kita intervensi. Agar menekan kenaikan harga kebutuhan pokok di pasaran,”ujarnya.
Selain itu, ada pembentukan badan usaha milik petani ini bisa menghindari dari spekulan- spekulan dan mengurangi mata rantai distribusi barang sampai di pasar. Sehingga harganya tidak terlalu mahal. Meski belum dilounching badan usaha milik petani ini, sudah melakukan secara nonformal kerjasama dengan kabupaten lain, seperti kendal untuk pendistribusian telur dan beras.
“Karena harga tinggi telur dan beras menjadi faktor pemicu inflasi tinggi. Bagaimanapun kota Semarang banyak ditopang kebutuhannya dari daerah sekitar penghasil bahan pangan,” katanya.
Dikatakan Ita, saat ini komoditas lain yang ikut menjadi faktor penyebab inflasi adalah komoditas tomat, padahal sebelumnya adalah cabe yang membuat inflasi tinggi. “Sehingga kita gencarkan penanaman komoditas lainnya untuk mengendalian inflasi, selain komoditas cabe yang memang sudah ditanam,”imbuhnya.
Ita juga menjelaskan, jika arahan Presiden hasil Rakornas Kepala Daerah, baru-baru ini meminta penurunan angka kemiskinan, bahkan, kemiskinan ektrim harus 0 persen, dan angka stunting sebesar 14 persen.
“Maka untuk Fokus RPKD Tahun 2024 ini saya tekankan untuk masih sama pada persoalan dengan tahun 2023 kemarin, yaitu mengenai ketahanan pangan, penanganan stunting, selain investasi, dan penggunaan produk dalam negeri dan juga lainnya,” pungkas Ita. (HS-06)