HALO SEMARANG – Kapala Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI, Komjen Pol Boy Rafli Amar mengajak para mahasiswa untuk memperkuat jati diri sebagai bangsa Indonesia, dengan menghayati sejarah bangsa.
Hal itu disampaikan Boy Rafli Amar, dalam Dialog Kebangsaan, di AAC Dayan Dawood, Universitas Syiah Kuala, Aceh, baru-baru ini.
Kegiatan itu juga diikuti Forkopminda Aceh, Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Aceh, serta Civitas Academica Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.
“Menghayati sejarah bukan hanya memahami penjelasan masa lalu, yang pernah terjadi dan dan fakta yang pernah ada, tetapi lebih jauh dari itu. Sejarah merupakan spirit penentu masa depan, yang lebih baik dan gemilang,” kata Boy Rafli Amar, seperti dirilis bnpt.go.id.
Di hadapan semua yang hadir, Boy menegaskan masyarakat harus mewaspadai virus intoleransi, radikalisme, dan terorisme, termasuk para pengusung ideologi yang berbasis pada kekerasan.
Dalam mewujudkan tujuannya, pengusung ideologi ini sering menggunakan narasi agama secara ekstrem, dalam merekrut masyarakat.
Tujuan mereka, menurut Boy adalah untuk menghancurkan ideologi Pancasila dari dalam.
“Mereka memiliki tindakan yang sangat tidak Islami menggunakan narasi-narasi agama, inilah salah satu dari karakter mereka dengan menyalahgunakan narasi agama dan bersifat intoleran, radikal eksklusif, anti kepada kemanusiaan, menggunakan kekerasan ekstrem,” kata Jenderal bintang 3 tersebut.
Boy Rafli melanjutkan, bahwa pada era sekarang, suara jihad yang disampaikan oleh para propagandis tersebut, telah mempengaruhi generasi muda, untuk membenci dan memusuhi bangsanya sendiri.
Hal ini sangat berbeda dengan jihad fissabilillah, yang dikumandangkan oleh para pahlawan, khususnya para pejuang dari Aceh.
Penyebaran ideologi terorisme dan radikalisme, pada saat ini pun telah menggunakan media digital atau media sosial.
Sementara saat ini, jumlah pengguna internet di Indonesia 204 juta orang, dan sekitar 179 juta di antaranya menggunakan media sosial. Dari seluruh pengguna media sosial, 60 persen di antaranya adalah generasi muda.
“Inilah yang mereka manfaatkan untuk menjaring dan bahkan hari ini pergerakan mereka dapat dilakukan secara mandiri,” kata Boy Rafli.
Dalam rangka mitigasi, ketahanan seluruh elemen bangsa dalam menangkal paham intoleransi, radikalisme dan terorisme harus ditingkatkan khususnya kepada generasi muda.
“Menurut harap kami, dengan kegiatan ini akan membuat ruang sempit ideologi terorisme masuk ke dalam sistem kehidupan masyarakat. Apabila karakter ini dapat dikembangkan dengan baik tentu estefat kepemimpinan dapat menjamin keberlangsungan dari kehidupan bangsa ini,” tambah Kepala BNPT RI.
Di lain pihak, Rektor Universitas Syiah Kuala, Aceh, Prof Dr Ir Marwan menuturkan bahwa kolaborasi ini memberikan dampak positif dan juga edukasi kepada seluruh civitas academica yang hadir, dalam mencegah penyebaran paham intoleransi, radikalisme dan terorisme.
“Kita tentu semuanya sepakat bahwa terorisme adalah musuh kita bersama, karena bangsa ini akan sulit untuk tumbuh dan melanjutkan pembangunannya jika radikalisme dan ancaman terorisme terus menggerogoti keutuhan bangsa kita,” jelas Marwan.
Dirinya menambahkan bahwa pencegahan ini jelas menjadi tanggung jawab bersama, khususnya di lingkungan perkuliahan yang ada di Aceh. (HS-08)