HALO SEMARANG – Kementerian Kesehatan RI mencatat sekitar 700 orang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sayang Cianjur, Jawa Barat. Sebagian besar dari mereka mengalami luka akibat bencana gempa bumi tektonik, yang melanda Cianjur, Senin (21/11/2022) lalu.
Menurut informasi dari RSUD Sayang Cianjur, sejak gempa mengguncang, sebanyak 656 pasien masuk ke rumah sakit milik pemerintah daerah tersebut.
Adapun pada hari ketiga, yakni Rabu (23/11/2022) siang, menurut Plt Direktur Utama RSUD Sayang Cianjur, Darmawan Setiabudhi Dahlan, jumlah pasien korban gempa yang dirawat di rumah sakit itu telah berkurang menjadi 86 orang.
Sebagian dari mereka dipulangkan karena sudah sehat, dan banyak pula yang dirujuk ke 11 rumah sakit lain, antara lain RSHS Bandung, RS Sukabumi, RS Samsudin, RS Ujungberung, RS Santosa, RS Boromeus, dan RS Ciawi.
Selain itu sebanyak 112 pasien meninggal dunia di RSUD Cianjur, saat menjalani perawatan medis.
Kemenkes RI mencatat, hingga Selasa (22/22) sore sekitar 700 pasien korban gempa bumi Cianjur dirawat di RSUD Sayang.
Namun demikian lonjakan tiba-tiba jumlah pasien tersebut, berhasil diatasi oleh para tenaga kesehatan di rumah sakit itu, dibantu oleh sejumlah relawan berbagai organisasi kesehatan, termasuk dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI).
“Belum ada perhitungan pasti namun jumlah pasien terdampak gempa ada sekitar 700 orang tertangani dengan baik,” kata dr. Nevi Mulya, salah satu dokter umum yang bertugas di RSUD Sayang, saat itu.
Menurut Nevi, kebanyakan dari pasien tersebut adalah anak kecil dengan cedera kepala ringan sampai sedang. Adapun pasien orang dewasa kebanyakan mengalami fraktur (patah tulang).
“Semua pasien dirawat di luar gedung, mengingat kondisi masih rawan terjadi gempa susulan,” kata Nevi, seperti dirilis sehatnegeriku.kemkes.go.id.
Nampak sejumlah tenda berjejer di halaman depan dan belakang rumah sakit. Setiap tenda terdapat dokter umum, dokter spesialis, dan perawat.
“Sejauh ini pelayanan terkendali dan secara tanggap pasien yang datang langsung ditangani oleh dokter dan perawat,” ucap dr. Nevi.
Pasien yang datang dengan kondisi darurat dilakukan sistem triase, untuk menentukan pasien yang diutamakan memperoleh penanganan medis terlebih dahulu di instalasi gawat darurat (IGD). Penentuan pasien dilakukan berdasarkan tingkat keparahan kondisi pasien.
Pasien yang membutuhkan tindakan operasi segera, langsung dirujuk ke RS Hasan Sadikin Bandung.
Pelayanan pasien di RSUD Sayang berfungsi untuk perawatan pasien dengan luka ringan dan stabilisasi kondisi pasien.
Mobilisasi Nakes
Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Muhammad Syahril mengatakan segera setelah gempa terjadi, Kemenkes RI memobilisasi tenaga kesehatan dan logistik kesehatan, sebagai langkah tanggap bencana.
Kemenkes juga melakukan pendataan fasilitas kesehatan yang mengalami kerusakan akibat bencana tersebut.
“Terdapat kerusakan di sejumlah fasilitas pelayanan Kesehatan. Saat ini masih dalam pendataan Kemenkes,” ujar dr. Syahril.
Data populasi penduduk menurut BPS Kabupaten Cianjur pada Senin (21/22) terdapat sekitar 169 ribu orang terdampak, 5 ribuan orang pengungsi yang tersebar di beberapa titik.
Sementara itu, fasilitas kesehatan terdampak berdasarkan data Dinkes Jawa Barat, Dinkes Kabupaten Cianjur, Dinkes Kabupaten Sukabumi, dan Kabupaten Bogor antara lain RSUD Cianjur, Puskesmas Cugenang, Kabupaten Cianjur, Puskesmas Pacet, Kabupaten Cianjur, dan Puskesmas Cireunghas, Kabupaten Sukabumi.
Kemenkes telah memobilisasi sejumlah tenaga kesehatan, antara lain dari bidang kedokteran dan tenaga kesehatan (Biddokes) Polri sebanyak 22 tenaga kesehatan dan 1 ambulans; dari Kantor Kesehatan Pelabuhan 26 tenaga kesehatan dan 3 ambulans, RSUP Hasan Sadikin siap mengirimkan tim dan menyiapkan UGD untuk melayani pasien dari Cianjur, dari IDI 3 dokter spesialis bedah, 1 tim medis dan 1 ambulans, dari Perhimpunan Ahli Bedah Ortopedi Indonesia (PABOI) 3 dokter spesialis bedah ortopedi, dan 5 petugas PSC (Public Safety Center) 119.
Kemenkes juga memobilisasi logistic kesehatan berupa tenda rangka ukuran 6×12 meter, velbed, kit operasional HEOC, obat-obatan, masker, masker anak, APD, oksigen konsentrator, antigen kit, emergency kit, handscoon, body bag, pampers dewasa dan anak, paket kesling, family kit.
Adapun prosedur triase penanggulangan kegawatdaruratan, bagi korban luka ringan dan dapat dilakukan rawat jalan, dilakukan perawatan di Rumah Sakit Cimacan dan Rumah Sakit Dr Hafiz.
Untuk pasien dengan kondisi luka sedang, dilakukan perawatan di Rumah Sakit Bhayangkara dan RS Lapangan TNI.
Sementara pasien yang memerlukan pengobatan dengan segera karena kondisi yang kritis dan membutuhkan operasi besar, dimobilisasi ke 3 rumah sakit, yaitu Rumah Sakit Hasan Sadikin Badung, RSUD Kota Bogor, dan RS Sukabumi. (HS-08)