HALO SEAMARANG – Kran investasi terus dibuka oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah. Pintu bagi para investor, baik dari dalam negeri maupun asing dibuka selebar-lebarnya guna menanamkan modalnya di Jateng. Investasi di Jateng pun kini mengalami perkembangan pesat.
Berdasarkan data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jateng, total realisasi investasi selama 2022 hingga kuartal ketiga yang masuk ke Jateng mencapai Rp 44,99 triliun. Investasi tersebut mampu menyerap 170.757 tenaga kerja pada 14.704 proyek.
Semakin berkembangnya realisasi investasi ini mendapatkan sorotan dari Pimpinan DPRD Jateng. Wakil Ketua DPRD Jateng, Heri Pudyatmoko mengatakan, terbukanya kran investasi ini harus bisa dimanfaatkan untuk menyerap tenaga kerja lokal.
Heri Pudyatmoko mengingatkan kepada pemerintah di Jateng agar bisa menyusun skema bagaimana agar serapan tenaga kerja harus lebih memprioritaskan tenaga lokal.
“Banyak investor yang tertarik berinvestasi di Jateng. Ini merupakan peluang bagi masyarakat setempat untuk memperoleh pekerjaan. Sehingga dapat mengurangi pengangguran,” ungkap Heri.
Pimpinan DPRD Jateng dari Fraksi Partai Gerindra itu menegaskan, tenaga kerja lokal harus diprioritaskan untuk dapat mengatasi problem perekonomian masyarakat pasca-hantaman pandemi Covid-19.
“Ini merupakan ladang pekerjaan bagi masyarakat setempat. Sehingga jangan sampai perusahaan lebih memilih merekrut tenaga kerja asing untuk menggarap proyek yang ada di Jateng,” jelas Heri.
Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng, pengangguran di Jateng sempat mencapai 1,21 juta orang di Agustus 2020. Kemudian turun menjadi 1,13 juta orang di 2021. Lalu menjadi 1,08 juta orang di 2022.
Mengacu data itu, Heri mengatakan bahwa jika tenaga kerja lokal terserap nantinya akan berdampak pada menurunnya angka pengangguran di Jateng. Namun jika lebih mengutamakan tenaga kerja luar Jateng, risiko akan didapatkan, tentunya sangat merugikan masyarakat Jateng.
“Jadi investasi jangan cuma mementingkan keuntungan perusahaan saja. Masyarakat lokal juga bisa merasakan manfaat dari investasi tersebut. Ingat, masih banyak pengangguran di wilayah kita,” ungkap Heri.
Kawasan Industri
Menurutnya, Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) di Kabupaten Batang, Kawasan Industri Kendal (KIK) di Kabupaten Kendal, dan Kawasan Industri Wijayakusuma (KIW) di Kota Semarang akan menjadi pusat investasi di Jateng.
Dengan ketertarikan investor untuk berinvestasi di tiga kawasan itu, Heri juga mendorong Pemprov Jateng memberikan pelatihan keterampilan kepada masyarakat, khususnya angkatan kerja. Hal ini supaya perusahaan tidak mencari tenaga kerja asing.
“Sekali lagi, berdayakan masyarakat. Gunakan mereka sesuai keahliannya. Jangan sampai yang ada di kita tidak diberdayakan, malah mengambil tenaga dari luar,” bebernya.
Sehingga, menurut Heri, jika pemerintah dan perusahaan benar-benar mampu memanfaatkan berbagai peluang tersebut, perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Jawa Tengah akan lebih meningkat.
“Kami harap ada iktikad baik dari pemerintah dan perusahaan bersinergi untuk memfokuskan rencana investasi ini sebagai wadah memberdayakan masyarakat lokal sendiri. Ingat, setiap keputusan yang diambil pasti ada risikonya,” pungkas Heri Pudyatmoko.(HS)