HALO SEMARANG – Kepala Dispermades Kabupaten Semarang, Moh Edy Sukarno menekankan perlunya para petani dan warga desa, untuk menggunakan teknologi digital dalam pemasaran produk pertanian.
Hal itu diungkapkan Kepala Dispermades Kabupaten Semarang, Moh Edy Sukarno, dalam Sosialisasi Non-Perda DPRD Provinsi Jawa Tengah, di Aula Kantor Balai Desa Rejosari, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, baru-baru ini.
Kegiatan bertema mengangkat “Pengembangan Potensi Desa Melalui Teknologi Digital” ini, digelar oleh Ketua DPRD Jateng Bambang Kusriyanto, yang mengikuti secara virtual.
Menurut Edy Sukarno, Alpukat dan kopi telah menjadi komoditas unggulan dari Kabupaten Semarang.
Namun demikian perlu ada sentuhan marketing digital, supaya kedua komoditas tersebut bisa mampu menembus pasar ekspor.
Konsep marketing secara digital pun, menurut dia lebih praktis. Karena itu pelaku pemasaran harus benar-benar bisa menguasai digital.
“Tinggal foto alpukat atau kopi, setelah itu bisa di-share di marketplace. Dengan konsep pemasaran yang jitu kedua komoditas itu bisa memiliki pembeli dari mana pun,” kata dia, seperti dirilis dprd.jatengprov.go.id.
Edy Sukarno menambahkan bisnis tidak bisa bicara satu satu melainkan sebuah jaringan.
Adanya jaringan digital antardesa bahkan kecamatan, dapat mempertahankan harga komoditas alpukat dan kopi dengan belajar teknologi di era digital ini.
Ia menambahkan tips mengenai digital marketing yang dapat menunjang peningkatan ekonomi desa.
“Sedikit tips dari saya, bapak dan ibu untuk komoditas unggulan dapat dikorek atau dieksplorasi lagi keunggulannya, misal alpukat pulen atau kopi khas Jambu dengan ciri khusus, entah itu disambung silang dengan jenis lain atau apa pun itu bapak dan ibu yang sanggup menguliknya. sehingga dapat menjadikan ciri khusus yang mana pembeli akan tertarik dengan kekhasannya,” imbuhnya.
Dalam kegiatan tersebut, Kepala Desa Rejosari Budi Wahono, sangat antusias dengan adanya kegiatan sosialisasi yang digelar oleh pemerintah provinsi.
Menurutnya sosialisasi mengenai teknologi digital sangat membantu bagi warga desa yang belum lihai dalam memanfaatkan teknologi.
Permasalahan yang dihadapi warga desa yaitu bagaimana cara mempertahankan harga komoditas alpukat dan kopi.
“Tanaman alpukat dan kopi ini tanaman yang sangat mudah tumbuh di wilayah kami, tapi kendala kami, jika sedang musim panen harga alpukat dan kopi kami malah anjlok. nah bagaimana masyarakat desa ini dapat mempertahankan harganya pada saat musim panen sehingga tidak anjlok dan dapat bersaing dengan supermarket-supermarket itu,” kata dia. (HS-08)