HALO SUKOHARJO – Ketegasan suara dalang dan merdunya suara gamelan, menghibur para penonton yang hadir di acara sosialisasi Media Tradisional, dengan tema “Transformasi Seni Budaya Melintasi Zaman” di Balai Warga Jatingarang, Kabupaten Sukoharjo, baru-baru ini.
Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah, Quatly Alkatiri, yang menjadi narasumber, mengatakan kesenian wayang telah menjadi identitas budaya yang melekat.
Kesenian wayang tidak lagi menjadi milik Jawa, tetapi sudah menjadi milik nasional.
“Perkembangan wayang dari zaman ke zaman, sudah seharusnya kita apresiasi dan beri dukungan, khususnya kepada pegiat seni ada di Sukoharjo. Kesenian wayang sudah menjadi milik umum sudah bukan lagi milik etnis Jawa, maka saya berharap kita semua menjaga kesenian ini agar tetap berkembang,” ungkap Quatly, seperti dirilis dprd.jatengprov.go.id, Senin (31/10/2022).
Quatly juga berharap agar dari perkembangan zaman, dapat diambil pelajaran dari kesenian wayang.
Menurutnya selain pentas seni wayang juga sarat akan pesan moral untuk kehidupan sehari-hari.
Ki Sutrisno, pemimpin sanggar Al Hidayah, kesenian wayang awalnya hanya berkembang di Jawa dan digunakan sebagai media suatu ritual.
Tetapi seiring perkembangan zaman wayang, menjadi pertunjukkan atau pentas seni.
Dia juga berharap pemerintah mampu membantu menjaga eksistensi kesenian tradisional, khusunya wayang agar terus berkembang dan diterima masyarakat.
Pengakuan UNESCO
Untuk diketahui, dalam laman resminya, Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization / UNESCO), telah mengakui wayang sebagai sebagai warisan budaya tak benda dunia.
UNESCO, pada 7 November 2003, menetapkan pertunjukan wayang kulit sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity atau karya kebudayaan yang mengagumkan di bidang cerita narasi dan warisan budaya yang indah dan berharga.
Kemudian pada 2008, wayang kembali ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda dunia oleh UNESCO.
Pertunjukan wayang ditetapkan dalam sesi ketiga Komite Antarpemerintah (3.COM) di Instanbul, Turki pada 4-9 November 2008.
UNESCO mulai menggelar penetapan ini setiap tahun sejak 2006. Tiap tahunnya terdapat sejumlah warisan budaya yang diakui.
Menurut UNESCO, wayang merupakan kesenian yang kompleks, bentuk ceritanya kuno, berasal dari pulau Jawa di Indonesia.
Selama sepuluh abad, wayang berkembang di istana kerajaan Jawa dan Bali serta di daerah pedesaan.
Wayang telah menyebar ke pulau-pulau lain (Lombok, Madura, Sumatera dan Kalimantan), di mana berbagai gaya pertunjukan lokal dan iringan musik telah berkembang.
Walaupun boneka tangan yang dibuat dengan hati-hati ini bervariasi dalam ukuran, bentuk dan gaya, ada dua jenis utama yang berlaku: wayang kayu tiga dimensi (wayang klitik atau golèk) dan wayang kulit datar (wayang kulit), yang diproyeksikan di depan layar yang dinyalakan dari belakang.
Kedua jenis ini dicirikan oleh kostum, fitur wajah dan bagian tubuh yang diartikulasikan.
Dalang menggerakkan lengan putar dengan tongkat ramping, yang melekat pada wayang.
Penyanyi (sinden) dan musisi (nayaga / pengrawit) memainkan melodi yang rumit pada instrumen perunggu dan drum gamelan.
Dahulu, dalang dianggap sebagai ahli sastra binaan, yang menularkan nilai-nilai moral dan estetika melalui karya seninya.
Kata-kata dan tindakan para tokoh komik yang mewakili “orang biasa”, telah menjadi wahana untuk mengkritik isu-isu sosial dan politik yang sensitif, dan diyakini bahwa peran khusus ini mungkin telah berkontribusi pada kelangsungan hidup wayang selama berabad-abad.
Cerita wayang meminjam karakter dari mitos pribumi, epos India dan pahlawan dari cerita Persia.
Perbendaharaan dan teknik pertunjukan, ditransmisikan secara lisan dalam keluarga dalang, musisi, dan pembuat boneka / wayang.
Dalang diharapkan untuk menghafal perbendaharaan cerita yang luas dan melafalkan bagian-bagian naratif kuno dan lagu-lagu puitis dengan cara yang cerdas dan kreatif.
Teater Wayang Wayang masih sangat populer. Namun untuk bisa bersaing dengan bentuk hiburan modern seperti video, televisi atau karaoke, pemain cenderung menonjolkan adegan komik, dengan mengorbankan alur cerita dan mengganti pengiring musik dengan lagu pop. Hal ini menyebabkan hilangnya beberapa fitur karakteristik. (HS-08)