HALO DEMAK – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Demak, menyiapkan lima posko di lima kecamatan, dalam rangka antisipasi bencana, terutama pada musim hujan.
Hal itu disampaikan Kabid Kedaruratan, Logistik dan Peralatan BPBD Demak, Suprapto, setelah Apel Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana di Halaman Setda Kabupaten Demak, Rabu (26/10/22).
Apel dipimpin Bupati Demak Eisti’anah, dihadiri Forkopimda, Pj Sekda Eko Pringgolaksito, kepala perangkat daerah, beserta tamu undangan.
Lebih lanjut Suprapto mengatakan, lima posko tersebut berada di 5 Kecamatan, meliputi, Mranggen, Karangawen, Sayung, Demak Kota, dan Mijen.
BPBD Demak juga telah menyiapkan peralatan menunjang, seperti gergaji mesin, perahu karet, perlengkapan dapur umum, dan logistik.
“Kabupaten Demak menjadi tempat pembuangan air dari atas dan memiliki 7 kali besar, itu perlu diwaspadai,” kata Suprapto, seperti dirilis demakkab.go.id.
Dia juga mengimbau seluruh warga, untuk tidak membuang sampah di sungai atau saluran air.
“Saya mohon masyarakat kalau membuang sampah jangan di sungai, karena ini dapat membuat tanggul jebol akibat timbunan sampah. Sehingga masyarakat harus membuang sampah pada tempatnya,” kata dia.
Sebelumnya, dalam Apel Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana, Bupati Demak, Eisti’anah menyampaikan apel ini merupakan upaya preventif, dalam menghadapi dan menanggulangi bencana, serta meningkatkan koordinasi lintas sektor terkait kebencanaan.
“Hakikat penanggulangan bencana adalah untuk mengurangi risiko dan menekan dampak bencana. Oleh karena itu segala upaya antisipasi bencana harus dilaksanakan secara terencana, terpadu, terkoordinasi, dan menyeluruh,” kata Bupati.
Bupati menjelaskan, kondisi geografis Kabupaten Demak yang berada di wilayah hilir, mengakibatkan Demak menjadi daerah rawan bencana seperti banjir, tanah longsor, dan puting beliung.
Hal inilah yang menjadikan Pemerintah Kabupaten Demak, harus bekerja ekstrakeras karena bencana yang terjadi dapat menyebabkan kerugian morel dan materiel yang besar.
Berdasarkan prakiraan cuaca dari BMKG Jawa Tengah, musim hujan jatuh pada Oktober, adapun puncak musim hujan pada Januari hingga Februari 2023.
Sehingga Bupati mengimbau seluruh instansi atau perangkat daerah, agar menyelenggarakan latihan kesiapsiagaan bencana, sesuai situasi, kondisi, dan potensi ancaman bencana di lingkungan masing-masing. (HS-08)