HALO SEMARANG – Setelah jeda musim panas, performa Francesco Bagnaia benar-benar luar biasa.
Dari delapan balapan, Bagnaia menembus tujuh kali podium dan hanya sekali gagal finis.
Penampilan menakjubkan itu membuat Pecco, sapaan akrab Bagnaia, berpeluang menjadi juara dunia baru MotoGP.
Saat ini pembalap tim pabrikan Ducati itu unggul 23 poin atas rival terdekatnya, Fabio Quartararo (tim Monster Energy Yamaha).
Musim ini tinggal tersisa satu balapan, dan Pecco tinggal butuh tambahan minimal dua poin untuk menyegel titel.
Race terakhir adalah Grand Prix (GP) Valencia di Sirkuit Ricardo Tormo, 6 November mendatang.
Managing Director Yamaha Lin Jarvis mengakui musim ini timnya memiliki banyak kelemahan.
Kalau Ducati berhasil menciptakan motor yang sangat baik dari semua aspek baik kecepatan, aerodinamika, maupun pengereman.
Sebaliknya, Yamaha justru bermasalah dengan top speed. Motor YZR-M1 tidak berkutik jika berhadapan dengan Desmosedici yang ditunggangi Pecco Bagnaia dan tujuh pembalap lain di grid.
‘’Kami tak lagi memiliki keuntungan apa pun pada tahun ini. Ducati telah meningkatkan daya henti, menikung, berbelok, dan kecepatan menikung mereka,’’ tutur Jarvis seperti dilansir dari Speedweek.
Selain itu, lanjut dia, Ducati punya mesin yang sangat kuat.
Musim ini Yamaha cuma mengandalkan Quartararo, sedangkan semua pembalap Ducati memiliki kesempatan yang sama untuk menaiki podium.
‘’Ducati diperkuat paket yang kuat. Sementara Yamaha hanya memiliki satu pembalap yang memberikan performa maksimal,’’ tegas Jarvis.
Dengan kondisi seperti sekarang, dia menilai Ducati masih sulit dibendung pada musim 2023.
Namun, kedatangan beberapa insinyur baru ke tim Yamaha diyakini Jarvis bakal memberikan dampak bagus musim depan.
‘’Kami memiliki keyakinan dapat menyingkirkan kesalahan yang kami buat menjelang musim 2022,’’ jelasnya.(HS-06)