HALO SEMARANG – Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin menyatakan subvarian XBB, yang menjadi biang kerok lonjakan tajam penderita Covid-19 varian Omicron di Singapura, telah terdeteksi masuk ke Indonesia.
Hal itu disampaikan Menkes dalam Forum Merdeka Barat (FMB) 9, Kominfo RI beberapa waktu lalu.
Dia menyebut trend kenaikan penyebaran Covid-19 mencapai 6.000 kasus per hari. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding Indonesia yang hanya 2.000 kasus per hari.
“Artinya apa ? Artinya Indonesia sudah dapat menangani pandemi dengan lebih baik. Tetapi masih akan ada tantangan baru, karena varian baru masih akan tumbuh,” kata Menkes, dalam forum tersebut.
Namun demikian Budi Gunadi Sadikin menyatakan sistem penanganan Covid-19 di Indonesia sudah teruji, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir.
Menurut dia, hal ini terlihat pada angka kasus Covid-19 di bulan Juli-Agustus 2022, yang masih landai, meskipun varian baru terus masuk ke Indonesia.
Hal ini menurut dia, berkat vaksinasi Indonesia yang sudah sangat baik. Vaksin Covid-19 sudah diberikan sebanyak 440 juta dosis, ke lebih 204 juta warga, sehingga imunitas penduduk Indonesia sudah baik.
Budi Gunadi Sadikin juga mengingatkan, walaupun saat ini sudah relatif baik, ujiannya akan terlihat pada awal tahun depan.
Dia berharap pada Januari – Februari, Indonesia bisa menghadapi dengan baik potensi kenaikan ini.
“Juga protokol (kesehatan) kita relatif baik, masyarakat kita masih pakai masker,” kata Budi.
Sementara itu juru bicara Covid-19 Kementerian Kesehatan, dr M Syahril, mengatakan Peningkatan kasus gelombang XBB di singapura berlangsung cepat.
“Peningkatan kasus gelombang XBB di singapura berlangsung cepat dan sudah mencapai 0,79 kali gelombang BA.5 dan 0,46 kali gelombang BA.2,” kata dia, seperti dirilis sehatnegeriku.kemkes.go.id, Sabtu (22/10/2022)
Dia mengatakan, sejak pertama kali ditemukan, sebanyak 24 negara melaporkan temuan Omicron varian XBB, termasuk Indonesia.
Kasus pertama XBB di Indonesia merupakan transmisi lokal, terdeteksi pada seorang perempuan, berusia 29 tahun yang baru saja kembali dari Lombok, Nusa Tenggara Barat.
“Ada gejala seperti batuk, pilek dan demam. Ia kemudian melakukan pemeriksaan dan dinyatakan positif pada 26 September. Setelah menjalani isolasi, pasien telah dinyatakan sembuh pada 3 Oktober,” kata Syahril
Menyusul temuan ini, Kemenkes bergegas melakukan upaya antisipatif dengan melakukan testing dan tracing terhadap 10 kontak erat. Hasilnya, seluruh kontak erat dinyatakan negatif Covid-19 varian XBB.
Syahril juga mengatakan, meski varian baru XBB cepat menular, namun fatalitasnya tidak lebih parah dari varian Omicron yang sudah ada sebelumnya.
Kendati demikian, negara belum bisa dikatakan aman dari pandemi Covid-19. Sebab berbagai mutasi varian baru masih berpotensi terus terjadi. Dalam 7 hari terakhir juga dilaporkan terjadi kenaikan kasus di 24 provinsi.
Syahril pun meminta masyarakat mengedepankan protokol kesehatan, seperti menggunakan masker, menghindari kerumunan, mencuci tangan, memakai masker, dan melakukan testing apabila mengalami tanda dan gejala Covid-19.
Selain itu juga menyegerakan vaksinasi Covid-19 untuk meningkatkan proteksi terhadap penyakit ini.
“Segera lakukan booster bagi yang belum, untuk mengurangi kesakitan dan kematian akibat Covid-19,” kata Syahril.
Kemenkes juga sudah meningkatkan pengawasan kedatangan WNI dan WNA di pintu-pintu masuk negara. (HS-08)