HALO SEMARANG – Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus mendesak masyarakat internasional dan media massa, untuk memberikan perhatian yang layak untuk krisis kesehatan di Ethiopia.
Menurut Tedros, yang juga berasal dari Ethiopia itu, krisis telah mengakibatkan setidaktidaknya enam juta orang mengalami penderitaa, Bahkan dia menyebut, krisis tersebut ibarat ancaman genosida dan hanya ada peluang sempit untuk mencegahnya.
“Ya, saya dari Tigray. San ya, ini mempengaruhi saya secara pribadi. Saya tidak berpura-pura tidak. Sebagian besar kerabat saya berada di daerah yang paling terkena dampak, lebih dari 90 persen dari mereka,” demikian pengakuan Tedros, dalam konferensi pers regulernya di Jenewa, seperti yang dirilis news.un.org.
Tedros juga mengatakan tugas dia adalah menarik perhatian dunia, agar ikut peduli pada krisis kesehatan di mana pun.
“Ini adalah krisis kesehatan bagi enam juta orang, dan dunia tidak memberikan perhatian yang cukup,” tegasnya.
Menurut dia, situasi di Ethiopia sudah di luar kendali.
“Permusuhan di Tigray harus diakhiri sekarang, termasuk penarikan segera dan pelepasan angkatan bersenjata Eritrea dari Ethiopia,” katanya.
Tedros menyoroti bahwa perbankan, bahan bakar, makanan, listrik dan perawatan kesehatan digunakan sebagai senjata perang, sementara liputan media juga tidak diperbolehkan dan “penghancuran warga sipil” terjadi dalam kegelapan.
“Tidak ada layanan untuk TBC, HIV, diabetes, hipertensi dan banyak lagi – penyakit-penyakit itu, yang dapat diobati di tempat lain, sekarang menjadi hukuman mati di Tigray,” kata dia.
Bahkan di negeri itu, orang yang punya uang pun mengalami kelaparan, karena mereka tidak bisa mengakses sumber-sumber bahan pangan.
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, menyatakan PBB menyampaikan keprihatinan besar, atas eskalasi pertempuran di wilayah Tigray, di Ethiopia, di mana pasukan Pemerintah dan pasukan separatis, telah terkunci dalam konflik sejak November 2020.
Gelombang kekerasan terbaru dimulai Agustus, setelah gencatan senjata kemanusiaan lima bulan yang rapuh.
Konflik menyebabkan pengiriman bantuan ke wilayah Ethiopia utara terhenti, sementara lima juta warga sipil di wilayah itu membutuhkan bantuan.
Distribusi bantuan terus terhambat oleh kekurangan bahan bakar, dan pemutusan komunikasi di seluruh Tigray.
Sementara komandan Tigray mengklaim bahwa Eritrea telah melancarkan serangan untuk mendukung pasukan Pemerintah Ethiopia.
Organisasi mitra PBB, Komite Penyelamatan Internasional atau The International Rescue Committee (IRC), telah melaporkan bahwa salah satu pekerjanya tewas dalam serangan di Tigray, saat memberikan bantuan kepada wanita dan anak-anak di kota Shire, Jumat.
Dalam sebuah pernyataan pada hari Sabtu, badan tersebut mengatakan anggota staf IRC lainnya juga terluka dalam serangan itu, dua warga sipil lainnya dilaporkan tewas, dan tiga terluka selama pemboman itu.
Padahal sesuai hukum perang internasional, pekerja bantuan dan warga sipil tidak boleh menjadi target.
Belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan itu, tetapi Shire dan daerah Tigrayan lainnya telah mengalami beberapa serangan udara sejak Agustus.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres juga mengatakan dalam pernyataan yang dikeluarkan oleh Juru Bicaranya, bahwa peningkatan pertempuran memiliki “ dampak yang menghancurkan pada warga sipil dalam situasi kemanusiaan yang sudah mengerikan ”.
Dia menyerukan penghentian segera permusuhan.
“Sekretaris Jenderal menegaskan kembali dukungan penuhnya untuk proses mediasi yang dipimpin Uni Afrika dan menegaskan kembali kesiapan PBB untuk mendukung dimulainya kembali pembicaraan yang mendesak untuk mencapai penyelesaian politik yang langgeng untuk konflik bencana ini,” kata dia. (HS-08)