in

Cobek dan Ulekan Buatan Warga Kendal Ini Diekspor ke Berbagai Negara

Warsito, pengrajin cobek dan ulekan batu di Desa Gebang, Kecamatan Gemuh, Kabupaten Kendal, Jumat (7/10/2022).

HALO KENDAL – Warsito (52) sudah empat tahun menjadi pengrajin cobek dan ulekan di Desa Gebang, Kecamatan Gemuh, Kabupaten Kendal.

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarganya, ia bergantung dari memproduksi alat dapur pembuat sambal tersebut.

Warsito menceritakan, awalnya ia hidup merantau cukup lama, kemudian coba-coba mengolah batu untuk dijadikan alat rumah tangga tersebut.

Apalagi dengan semakin banyaknya pesanan, membuatnya semakin mantap menekuni usahanya sebagai perajin cobek dan ulekan.

Dengan berbekal peralatan seadanya, berupa palu dan gerenda, Warsito kemudian membuat cobek dari batu.

Untuk memperluas pemasaran, ia mencoba mempromosikan melalui media sosial Facebook, dan ternyata cukup banyak yang merespon untuk memesan.

Harga cobek buatannya sesuai pesanan, mulai harga Rp 100 ribu sampai Rp 400 ribu sesuai besar kecilnya ukuran.

“Tiap hari ada saja yang pesan, entah itu satu, dua, bahkan kadang ada yang pesan sekaligus lima atau enam biji,” ujarnya, Jumat (7/10/2022).

Cobek buatannya juga banyak diminati warga Indonesia yang berada di luar negeri, seperti Singapura, Hongkong, Taiwan, Arab Saudi, bahkan ada yang dari negara Kanada.

Warsito mendapat pesanan cobek buatannya melalui biro Penyalur Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) yang tidak jauh dari rumahnya.

“Tiap bulan selalu ada saja pesanan cobek, untuk dikirim ke luar negeri. Yang pesan itu orang PJTKI, katanya mau dikirim ke luar, yang paling banyak dikirim ke Taiwan,” ujarnya.

Pemesan lebih banyak dari lokal yang hampir tiap hari selalu ada, baik datang langsung ke rumah atau pesan secara online.

“Bahkan terkadang ada yang pesan sebanyak lima sampai enam biji setiap pemesanan,” imbuh Warsito.

Ia pun mengaku, cobek buatannya dijamin bagus, karena dibuat dari batu kali pilihan. Bahkan, menurut Warsito, dirinya harus pesan batu kali sampai ke daerah Batang dan Ungaran.

“Karena batu kali yang dari Kendal sendiri kurang bagus untuk dibuat cobek. Jadi batunya pilihan, harus yang kuat supaya kalau jatuh tidak pecah,” tandasnya.

Kini Warsito akan mengembangkan usaha cobeknya, dengan menggunakan peralatan dari mesin, berupa mesin diesel dan alat pemotong batu.

“Ya saya akan kembangkan cobek dan ulekan saya ini dengan menggunakan peralatan yang lebih modern,” pungkasnya. (HS-06)

Ziarah Monumen Puputan Margarana di Bali, Ganjar Terharu Kisah Wagimin

Hadiri Business Matching Tahap IV, Ganjar : Realisasi Belanja Produk Lokal Pemprov Jateng 53,17 Persen