in

Lapas Terbuka Kendal Budidaya Lebah Klanceng

HALO KENDAL – Memanfaatkan lahan seluas hampir 7,5 hektare, Lapas Terbuka Kelas IIB Kendal melakukan terobosan untuk menambah wawasan keterampilan bagi warga binaan, dengan budi daya lebah klanceng.

Hal ini dilakukan, untuk menunjang program pembinaan kemandirian disamping pertanian, perikanan, perkebunan dengan terobosan inovasi, kreatifitas petugas di lapas produktif tersebut.

Staff Kegiatan Kerja (Giatja), Charandhi Mahendra menjelaskan, lebah tersebut berjenis Trigona Leavicep yang memiliki ciri ciri lebih kecil daripada lalat, warnanya hitam, dan kakinya berbulu, namun bisa menghasilkan madu.

“Alasan memilih jenis karena memiliki pemeliharaan tergolong mudah dan tidak memerlukan lahan yang luas juga,” jelasnya, Jumat (30/9/2022).

Charandhi mengatakan, sebelum melaksanakan budi daya tersebut, pihak Lapas Terbuka Kendal sudah menyiapkan sarang dan vegetasi lebah.

“Tempat sarang lebah klanceng terbuat dari kayu berbentuk persegi panjang dengan lebar 15 cm, panjang 35 cm dan tinggi 15 cm, serta salah satu sisinya diberi lubang yang dipergunakan sebagai tempat keluar masuk lebah,” ujarnya.

Sedangkan bagian atasnya, diberikan plastik yang digunakan untuk mengontrol perkembangan lebah. Kemudian persiapan vegetasi memerlukan tiga unsur di antaranya menghasilkan nektar, serbuk sari, dan getah.

“Serbuk sari sebagai makanan klanceng sedangkan getah untuk pembuatan sarang. Vegetasi yang sudah dibudi dayakan antara lain air mata pengantin, jambu air, dan belimbing,” terang Charandhi.

Saat ini, lebah madu klanceng yang dibudi dayakan Lapas Terbuka berjumlah 20 kotak sarang. Untuk satu kotak sarang terdapat 1 ratu lebah dan koloni.

“Apabila dalam kotak sarang terdapat ratu lain, maka salah satu ratu akan dipindahkan ke kotak sarang yang baru. Hal itu dilakukan agar tidak terjadi perpecahan antarkoloni yang dapat mengganggu perkembangan lebah,” ungkap Charandhi.

Pemanenan madu tersebut dilaksanakan setelah empat sampai enam bulan pemeliharaan, satu kotak sarang tersebut menghasilkan madu minimal 150 ml.

Charandhi menambahkan, budi daya ini selain memanfaatkan lahan di dalam lapas, juga menambah ilmu dan keterampilan baru bagi warga binaan.

“Inovasi, kreatifitas kegiatan dan pembinaan budi daya lebah klanceng ini disesuaikan kondisi tumbuhan yang sudah ada di sekitar. Selain itu memiliki pemeliharaan mudah selama tanaman pendukung terpelihara,” imbuhnya.

Sebagai penutup Charandhi mengatakan, lebah klanceng ini juga dapat dibudi dayakan pada sektor rumahan. Sehingga warga binaan yang kelak bebas nanti, mampu budi daya sendiri sekaligus dijadikan ladang bisnis usaha.

“Karena tidak memerlukan lahan yang luas dan yang terpenting vegetasinya memenuhi tiga unsur yang dipergunakan perkembangan lebah tersebut,” pungkasnya.(HS)

Bawaslu Ajak Masyarakat Jadi Pemantau Pemilu 2024

Di Semarang, Jumlah Pendaftar Panwascam Terbanyak dari Wilayah Kecamatan Tembalang dan Pedurungan