in

Pakistan Banjir Besar, 1.033 Orang Meninggal, Jutaan Rumah Hancur, Lebih dari 1.000 WNI Selamat

Banjir Besar di Pakistan. (Sumber : tribratanews.polri.go.id)

 

HALO SEMARANG – Sebanyak 1.033 orang tewas dan sekitar satu juta rumah hancur, dalam banjir musiman di Pakistan. Angka korban tewas bertambah setelah petugas menemukan 119 orang dalam 24 jam terakhir.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana Pakistan (NDMA), mengatakan lebih dari dua juta hektare tanaman budi daya musnah, 3.451 kilometer (2.150 mil) jalan hancur, dan 149 jembatan hanyut.

Sementara itu, para pejabat mengatakan banjir tahun ini berdampak kepada lebih dari 33 juta orang, dan sekitar satu juta rumah hancur.

Menanggapi banjir itu, pemerintah mengumumkan keadaan darurat dan mengerahkan militer untuk menangani apa yang disebut sebagai “bencana skala epik”.

Terlepas dari data imbas korban banjir, Provinsi Sindh tengah bersiap menghadapi banjir susulan dari sungai bagian utara yang meluap.

Sungai Sindhu atau yang dikenal Sungai Indus mengalir melewati provinsi tersebut dan dialiri puluhan anak sungai pegunungan di utara. Namun, banyak sungai yang meluap usai hujan deras dan gletser yang mencair.

Pihak berwenang memperingatkan aliran air diperkirakan akan mencapai Sindh dalam beberapa hari ke depan.

“Saat ini Indus sedang banjir besar,” kata pengawas bendungan yang mengatur aliran sungai dekat Sukkur, Aziz Soomro, Minggu (28/8), seperti dirilis tribratanews.polri.go.id.

Ribuan orang yang tinggal di dekat sungai diperintahkan untuk mengungsi dari zona bahaya.

“Orang-orang diberitahu sekitar pukul 03.00 atau 04.00 pagi untuk mengungsi dari rumah mereka. Saat banjir melanda daerah itu, kami harus menyelamatkan anak-anak dan perempuan,” kata petugas penyelamat, Umar Rafiq.

Banyak sungai di sekitar daerah itu meluap dan menghancurkan bangunan dan hotel. Pemilik wisma Nasir Khan, mengatakan ia telah kehilangan segalanya.

“Banjir telah menghanyutkan yang tersisa dari hotel,” kata Khan.

Sementara itu. Ibu Kota Pakistan Islamabad dan Kota Rawalpindi lolos dari banjir terburuk. Namun, penduduk di wilayah ini tetap merasakan dampaknya. “Saat ini persediaan sangat terbatas. Tomat, kacang polong, bawang dan sayuran lainnya tidak tersedia karena banjir,” kata penjaga toko hasil bumi di Rawalpindi, Muhammad Ismail.

Musim hujan di Pakistan kerap membawa kehancuran karena menyebabkan banjir bandang.

Di sisi lain, musim hujan ini padahal sangat penting untuk mengairi tanaman dan mengisi danau.

Banjir kali ini disebut setara dengan banjir pada 2010, yang tercatat sebagai terburuk dalam sejarah Pakistan. Pada tahun itu, lebih dari 2.000 orang meninggal dan seperlima wilayah negara itu terendam air.

WNI Selamat

Sementara itu KBRI Islamabad dan KJRI Karachi, menyatakan telah berkoordinasi dengan otoritas setempat, dan berkomunikasi dengan simpul komunitas Indonesia, dan hingga Minggu (28/8/2022) tidak terdapat WNI yang menjadi korban bencana banjir tersebut.

Jumlah WNI di Pakistan, seperti dirilis kemlu.go.id, tercatat berjumlah 1.267 orang, di mana mayoritas bertempat tinggal di Islamabad, Lahore, Karachi, Rawalpindi, Sialkot, Gujrat dan Peshawar.

KBRI dan KJRI juga telah menyampaikan imbauan untuk selalu tanggap dan waspada serta memantau informasi yang disampaikan National Disaster Management Authority (NDMA) dan Pakistan Meteorological Department (PMD).

WNI juga diimbau menunda perjalanan ke lokasi rawan bencana dan segera menghubungi otoritas setempat dan Perwakilan RI terdekat, jika terjadi situasi darurat.

Ancaman Ganda

Ali Tauqeer Sheikh, pakar perubahan iklim yang berbasis di Islamabad, menyebut perubahan iklim juga berperan dalam terjadinya banjir besar ini.

Selain itu juga karena kurangnya perencanaan pembangunan, dan persiapan dan infrastruktur yang tidak memadai.

“Apa yang kita lihat di negara ini adalah defisit pembangunan. Bukan hanya curah hujan yang berlebihan yang menyebabkan masalah, tetapi persiapan dan infrastruktur yang tidak memadai,” kata dia seperti disampaikan Aljazeera.

Penjelasan serupa disampaikan Menteri Perubahan Iklim Pakistan, Sherry Rehman. Menurut dia, banjir bandang ini merupakan salah satu yang terburuk di Pakistan dalam satu dekade terakhir.

Bancana ini juga merupakan masalah iklim serius, sebagai dampak dari perubahan iklim.

Dia pun mengakui, Pakistan membutuhkan perencanaan pembangunan yang lebih baik di masa depan

“Dan tentu saja kami akan membutuhkan perencanaan yang lebih baik dan pembangunan berkelanjutan di lapangan. Kami perlu memiliki rencana serta struktur yang tahan (perubahan) iklim,” ujar dia. (HS-08)

Seorang Pria Meninggal Dunia Tertabrak Kereta di Perlintasan Rel Semarang

Sambut Liga 3 Musim 2022, PSIK Klaten Gelar Seleksi Pemain