in

Peneliti Kesehatan Undip: Perlu Inovasi Agar Target Imunisasi Bian Tercapai

Suasana kegiatan Posyandu sekaligus pemberian imunisasi bagi anak usia 9-59 bulan oleh petugas Puskesmas setempat di balai RT 4/5 Kelurahan Pongangan, Gunungpati, Kota Semarang, Sabtu (20/8/2022).

HALO SEMARANG – Untuk mengejar pencapaian target imunisasi bagi anak usia 9-59 bulan dalam program Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) yang ditetapkan pemerintah pada bulan Agustus 2022, pemerintah daerah setempat diminta untuk membuat terobosan atau inovasi agar bisa menarik masyarakat. Mengingat meski pencapaian target imunisasi tambahan yakni MR di Provinsi Jawa Tengah sudah diangka 60 persen dari target sebesar 95 persen.

Peneliti dari Lembaga Penelitian dan Pengandian kepada Masyarakat (LPPM) Undip Semarang, Ayun Sriatmi mengatakan, masih ada beberapa daerah atau kabupaten /kota di Jateng capaiannya imunisasi BIAN kurang.

“Misalnya di Tegal, dan Purworejo yang cukup jadi perhatian, sedangkan di Kota Semarang sudah sebagian besar mendapatkan imunisasi dasar anak,” terangnya, saat di sela-sela kegiatan Media Visit dan Training yang digelar LPPM Undip di Hotel Grasia Semarang, Sabtu (21/8/2022).

Bulan Imunisasi Anak Nasional pada bulan Agustus 2022 yang masih tinggal dua pekan lagi, capaian di Jawa Tengah sudah bagus dan memenuhi target, serta menunjukkan angka yang positif.

“Bahkan secara nasional, Jawa Tengah capaiannya sudah baik. Kelompok tiga besar capaian Bian, yang MR, namun dilihat dari capaian per kabupaten/kota hasilnya,masih banyak kabupaten targetnya yang harus digenjot. Agar kabupaten lainnya juga bisa mengejar capaian target Bian dan memperkuat posisinya dengan mensukseskan program bian,” katanya.

Dijelaskan Ayun, di dalam Bian, juga ada konsep Herd imunity, yang mana konsep ini sama dengan menciptakan kekebalan kelompok, makin banyak kelompok atau populasi yang tervaksinasi artinya resiko penularan penyakit juga makin kecil. “Tapi sebaliknya, jika dalam kelompok atau daerah masih bolong- bolong misalnya di kabupaten yang capaiannya vaksin masih rendah, dikhawatirkan gejala muncul penyakit yang tidak diharapkan,”ujarnya.

Ditambahkan dia, dalam program Bian ini, ditarget capaian imunisasi sebesar 95 persen. “Sekarang angkanya di Jateng mencapai 50 persen. Kami berharap selama dua pekan ke depan akan kita kejar target tersebut hingga menjadi 95 persen,” paparnya.

Diakuinya, masih ada kendala di masyarakat dalam mensosialisasikan bulan bian ini sehingga belum optimal. “Dari hasil identifikasi kami kendalanya memang ada masyarakat yang cenderung enggan membawa anaknya ke posyandu, karena orang tuanya sibuk bekerja. Jadi waktunya gak ketemu dengan jadwal posyandu atau imunisasi. Lalu kendala berikutnya ada masyarakat yang menganggap vaksin tidak penting, dan bisa diganti dengan ramuan atau vitamin lainnya. Dan yang agak susah lagi dari aspek yang menyangkut keyakinan masyarakat karena di wilayah tertentu, ada yang menyatakan bahwa haram vaksin,” lanjutnya.

Pihaknya mendorong pemerintah setempat mengadakan imunisasi dengan cara jemput bola. “Program Bian, ada petugas puskesmas yang door to door untuk jemput bola. Agar semua anak dapat hak imunisasi secara lengkap,” pungkas Ayun, yang juga dosen Kesehatan Masyarakat Undip ini.

Petugas kesehatan dari Puskesmas Gunungpati, Sri Wahyuni menjelaskan, jika pelaksanaan Bian, pihaknya juga melakukan door to door atau jemput bola. Hal ini dilakukan untuk mengetahui anak usia 9-59 bulan apakah sudah diimunisasi atau belum.

“Kami juga datangi rumah warga di akhir pekan, atau tiap Minggu, terutama bagi orang tua yang sibuk bekerja. Namun sebelumnya berkoordinasi dengan kader di wilayah RT masing-masing, kejar kita untuk imunisasi pada bulan ini yang sekaligus membawa jenis untuk vaksin tambahannya,” katanya.

Di wilayah RW 5 sendiri target imunisasi anak sebanyak 40 anak dalam kegiatan posyandu kali ini. “Memang dari total target 40 anak, ada yang memang belum cukup umur dan lainnya ada yang dirujuk ke puskesmas. Dari kegiatan jemput bola ini didapatkan 10 anak,” imbuhnya.

Pelaksanaan dengan mendatangi langsung ke rumah warga, menurutnya cara yang cukup efektif. “Karena jika menunggu ada jadwal posyandu, hasilnya kurang. Apalagi pada saat ada jadwal posyandu ternyata ada yang tidur, atau hari Minggu biasanya pas lagi pergi keluar,” ujarnya.

Ditambahkan dia, sedangkan saat standby sejak pagi di posyandu, dirinya menyuntikan imunisasi sebanyak 20-an anak. “Mereka mendapatkan imunisasi tambahan baik jenis MR, DPT dan polio. Imunisasi dasar lengkap sampai usia 5 tahun. Bahkan ada satu anak yang diberikan suntikan dua kali suntik atau multiple injeksi. Karena sebelumnya memang ketinggalan mendapatkan imunisasi,” paparnya.

Sedangkan terkait efek samping setelah diimunisasi, kata dia, berbeda setiap anaknya. “Biasanya panas, bisa diminumi obat penurun panas. Tergantung daya tahan anak sendiri-sendiri, kalau efeknya,” katanya.

Dikatakan dia, apabila saat ada jadwal posyandu, anaknya ternyata sakit bisa dibawa ke puskesmas kalau sudah fit. Atau jika masih banyak yang belum diimunisasi kami akan turun lagi, ke rumah warga. Meski tim dari puskesmas terbatas tenaga dengan adanya koordinasi yang baik dengan kader di tujuh posyandu di lima RW, sangat membantu kami dar puskesmas. Diperkirakan di tujuh Posyandu, ada sekitar 200 anak usia, 9-59 bulan,” pungkasnya.

Salah satu kader Posyandu RT 4/5, Sus Rusriani menjelaskan, orang tua sangat antusias membawa anaknya mengikuti posyandu. Mereka sekaligus mendapatkan imunisasi, setelah diperiksa petugas dari puskesmas. “Orang tua daftar anaknya dulu, lalu diperiksa anaknya kalau ternyata panas tidak jadi diimunisasi. Tapi kalau misalnya batuk, pilek akan disuntik,” katanya.

Pihaknya sebelumnya memberikan imbauan jauh-jauh hari agar orang tua dapar menjaga kesehatan anaknya. “Biar dapat vaksin semuanya, dan tidak panas atau sakit pada saat ada jadwal posyandu,” terangnya.(HS)

Bupati dan Ketua ISSI Kendal Saling Pukul Bantal Guling

Pengajian Bersama KH Achmad Chalwani, Ganjar Tekankan Menjaga Nilai Persatuan dan Gotong Royong Masyarakat