HALO KENDAL – Kegiatan Kompetisi Wirausaha Pemula Prakualifikasi Teknopreneur Tahun 2022 yang digelar oleh Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar ) Kabupaten Kendal masuk pada tahap presentasi pemaparan produk.
Acara yang dibuka Senin lalu (18/7/2022) tersebut, dilanjutkan dengan presentasi pemaparan profil bisnis para peserta, Selasa-Jumat (19-22/7/2022) di salah satu objek wisata di Kota Kendal.
Dalam presentasinya, salah satu peserta kegiatan, Irvan Ardhi warga Desa Wonotengang Kecamatan Rowosari memaparkan tentang produk Minyak Kemiri buatannya.
Ia juga mengaku, produk miliknya sudah dipakai di sembilan negara, yaitu Inggris, Jerman, Belanda, Amerika Serikat, Korea Selatan, Hongkong, Singapura, Afrika, Australia.
“Jenis barang yang saya produksi adalah minyak kemiri dengan brand Cap Coce Ramuan Tradisi leluhur. Fungsi dari produk ini adalah untuk merangsang pertumbuhan rambut, mengatasi kerontokan rambut, menebalkan dan menghitamkan rambut, merangsang pertumbuhan alis, kumis dan jambang, mengatasi uban, dan menghilangkan ketombe,” papar Ardhi.
Ia juga mengungkapkan, produksi Minyak Kemiri ini, sudah dimulai sejak tahun 2021 hingga sekarang. Yang promosinya melalui platform digital, dengan memanfaatkan media sosial, seperti google bisnis, website, seminar online, hingga berbagai toko online.
“Produk ini sementara masih diproduksi berskala rumahan. Dalam sebulan hanya diproduksi sepuluh liter saja, yang dikemas dalam botol isi 100 mililiter dengan harga Rp 50 ribu dan yang isi 30 mililiter dengan harga Rp 20 ribu,” ungkap Ardhi.
Dirinya berharap, jika nanti terpilih menjadi salah satu pemenang, ia akan lebih mengembangkan dan meningkatkan kualitas dan produksinya.
“Semoga bisa juara. Sehingga saya bisa meningkatkan kualitas produksi. Supaya bisa lebih maju dan berkembang,” harap Ardhi.
Sementara itu peserta lainnya, Agus Yoga Hermawan Warga Desa Tambahsari Kecamatan Limbangan juga mempresentasikan pembuatan Magot dari limbah organik.
Dijelaskan, Magot adalah larva dari lalat, yang mana biasa ditemukan pada barang-barang yang sudah membusuk pada buah atau sayur-mayur yang rusak.
“Untuk panen Magot membutuhkan waktu 40 hari, mulai dari telur kemudian menetas menjadi bayi larva membutuhkan waktu tiga hari. Untuk menjadi larva remaja membutuhkan waktu 14 hari,” paparnya.
Sedangkan untuk menjadi Magot siap panen, menurut Agus membutuhkan waktu sekitar 23 hari.
“Biasanya perpanen menghasilkan 50 kilogram. Dengan rincian bayi magot 20 gram, dan menghabiskan pakan 300 kilogram sampah organik yang sudah diproses,” terangnya.
Agus mengaku, untuk harga Magot basah yakni Rp 8 ribu per kilogram. Sedangkan untuk magot kering, harga mulai Rp15 ribu hingga Rp 20 ribu per kilogram.
Dirinya juga mengungkapkan, selama ini untuk penjualannya dipasarkan kepada masyarakat sekitar Kecamatan Limbangan saja.
“Jika nanti dapat terpilih menjadi salah satu juara, nantinya saya akan terus melakukan sosialisasi dan pelatihan terhadap masyarakat di Kecamatan Limbangan dan Kabupaten Kendal pada umumnya. Sehingga selain bisa meraih keuntungan, juga bisa lebih mengurangi sampah organik di Kabupaten Kendal,” ungkap Agus.
Menanggapi apa yang dipaparkan para peserta, salah satu dewan juri, Rizky Bagus Ardianto menyebut, semua produk yang dipaparkan para peserta cukup bagus dan menarik.
Hal ini menurut Juara 1 Teknopreneur Kabupaten Kendal tahun 2018 tersebut, mencontohkan, produk Minyak Kemiri yang dipresentasikan oleh Irvan Ardhi sangat potensial.
Karena menurut Rizky, siapapun orangnya pasti menginginkan rambutnya terjaga dengan baik. Meski demikian ada beberapa hal yang harus dilengkapi.
“Produk minyak kemiri yang tadi dipersentasikan hanya memiliki label halal saja. Mungkin ke depannya akan dibantu difasilitasi oleh Pemkab Kendal dengan legalitas lainnya seperti PIRT dan lainnya. Sehingga akan lebih meyakinkan masyarakat, dan pastinya akan lebih banyak produksinya,” terang Rizky.
Dirinya juga menilai, untuk presentasi pembuatan Magot juga cukup baik. Pasalnya, peserta bisa memanfaatkan limbah organik.
“Ada juga presentasi dari peserta tentang ayam petelur dan penguasaan materinya sangat bagus. Kemudian ada juga yang mempresentasikan tentang kuliner. Semuanya bagus-bagus,” imbuh Rizky. (HS-06)