in

Nonton Ketoprak di Gedung MWC NU Bangsri, Pj Bupati Jepara Inginkan Pentas Kesenian Rutin Digelar

Anggota DPRD Jateng Andang Wahyu Trianto, bersama Pj Bupati Edy Supriyanta, membuka pementasan ketoprak dalam program Media Tradisional di Gedung MWC NU Jepara. (Foto : dprd.jatengprov.go.id)

 

HALO JEPARA – Pj Bupati Jepara Edy Supriyanta menggagas adanya panggung seni budaya di Kabupaten Jepara, yang digelar secara rutin, dan menampilkan berbagai seni serta budaya tradisional, termasuk ketoprak.

Hal ini disampaikan Edy, saat menghadiri dialog dan pentas ketoprak Ki Ageng Bangsri, di Gedung MWC NU Bangsri, baru-baru ini. Hadir dalam acara itu, anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, Andang Wahyu Triyanto serta sejumlah tokoh NU dan para pejabat terkait.

“Kita akan buat panggung seni budaya. Bisa kita pakai pendopo kabupaten atau Alun-alun Jepara. Agar bisa dinikmati oleh masyarakat,” kata dia, seperti dirilis Jepara.go.id.

Dia mengatakan panggung seni dan budaya tersebut, merupakan wujud upaya Pemkab Jepara, untuk menghidupkan dan mendukung penuh pengembangan seni budaya di Jepara.

“Pada prinsipnya Pemkab Jepara mendukung kesenian dan tradisional ini berkembang luas di masyarakat,” kata Edy.

Keberadaan pentas seni budaya ini, juga untuk memberikan ruang bagi para pelaku seni untuk berkarya.

“Nguri-nguri budaya itu sangat penting. Tugas pemerintah memberikan ruang untuk pelestarian dan pengembangannya,” imbuh Edy.

Sementara itu berkaitan dengan pementasan ketoprak, menurut dia merupakan salah satu media tradisional, yang dapat digunakan untuk menyampaikan nilai-nilai luhur, kearifan lokal, dan budaya nusantara.

Sementara itu, Ketua Dewan Kesenian Daerah Jepara Kustam Ekajalu menyambut baik keinginan dan komitmen pemerintah daerah untuk mengembangkan seni budaya di kota ukir.

“Di Jepara sebenarnya ada ratusan sanggar seni budaya. Akan tetapi, akhir-akhir ini mengalami penurunan sekitar 30 persen. Untuk itu memang diperlukan fasilitas khusus untuk menghidupkan seni budaya di Jepara,” ujar Kustam.

Menurut dia, dengan mencintai kesenian tradisional, akan tumbuh nasionalisme dan cinta terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sementara itu menurut anggota DPRD Jateng Andang Wahyu Trianto, menilai tepat pengambilan lakon “Ki Ageng Bangsri Laskar Tanggul Wali”, dalam pentas ketoprak di Gedung MWC NU Kecamatan Bangsri tersebut.

“Satu hal yang menarik bagi kami, seperti anggota legislatif (wakil bagi masyarakat) bagaimana kita bisa mewarisi jiwa semangat pendahulu kita. Ki Ageng Bangsri sangat dihormati sampai sekarang makamnya banyak didatangi para peziarah,” kata dia, seperti dirilis dprd.jatengprov.go.id.

Menurut dia, cerita dari sosok Ki Ageng Bangsri, dapat dimaknai sebagai perwujudan dari upaya mempertahankan, memperbaiki, serta mengembangkan kehidupan masyarakat.

Dia juga menambahkan, bahwa nguri-uri budaya, bisa pula dilakukan dengan melestarikan busana tradisional. Seperti dalam pementasan ketoprak tersebut, semuanya mengenakan pakaian khas adat Jepara. Dengan demikian anak cucu tidak lupa dengan budaya Jepara.

Bagi Ketua Riset dan Kajian Kebudayaan Lesbumi PCNU Jepara, Muhammad Burhan, keberadaan Ki Ageng Bangsri di Jepara benar-benar ada. Namanya pun terdapat dalam Babad Tanah Jawa.

Menurut dia, Ki Ageng Bangsri merupakan menantu dari Ki Ageng Selo dan hidup semasa zaman Sultan Trenggono. “Jejaknya masih ada sampai sekarang,” kata dia, seperti dirilis Demakkab.go.id.

Menurut Muhammad Burhan, belum banyak masyarakat yang mengetahui cerita tentang Ki Ageng Bangsri. Sosok legendaris bagi masyarakat Bangsri ini, tidak hanya sebagai cerita legenda tapi menjadi cerita sejarah.

Sementara itu menurut kisah yang disampaikan Pemerintah Desa Bangsri, melalui bangsri.desa.id, cerita tentang Ki Ageng Bangsri ini, mengisahkan dua orang tokoh, yaitu Ki Ageng Bangsri dan Ki Suro Nggoto.

Perseteruan kedua tokoh ini, melambangkan kecenderungan umum manusia, yaitu bersaing memperebutkan kehormatan, dengan cara saling menunjukkan keahlian dan kedigdayaan.

Keduanya semula sama-sama menjadi murid Sunan Muria, sehingga kedua tokoh yang kemudian dianggap sebagai leluhur warga Desa Bangsri, dinisbatkan sebagai orang santri.

Walaupun demikian, sebagai manusia biasa, ada di antara mereka yang masih memiliki sifat iri hati, salah satunya Ki Suro Nggoto. Dia iri kepada kawan seperguruan, Ki Ageng Bangsri, yang diberi kesempatan lebih oleh gurunya.

Jalan yang ditempuh untuk mengekspresikan rasa iri itu, antara lain dengan cara mengganggu, menciptakan ketegangan-ketegangan, dan teror-teror agar ada peluang untuk mengadu keahlian dengan Ki Ageng Bangsri.

Sebaliknya, Ki Ageng Bangsri juga ingin memberi pelajaran kepada Ki Suro Nggoto, dengan memberikan pembalasan yang setimpal.

Tetapi dalam kenyataan, memperbaiki keadaan yang kurang baik itu tidak mudah. Untuk memperbaiki keadaan, ternyata harus ada pengorbanan. Pada kronik cerita ini, Ki Ageng Bangsri terpaksa harus mengorbankan anaknya, demi kepentingan lebih banyak orang. Oleh karena pengorbanan ki ageng bangsri ini lah, daerah tersebut dinamakan Bangsri. (HS-08)

Prakiraan Cuaca Semarang dan Sekitarnya, Senin (30/5/2022)

Angka Stunting di Pati Turun, Bupati Apresiasi Dukungan TP PKK