HALO SEMARANG – Para pedagang pasar tradisional yang berada di Kota Semarang masih menunggu pendistribusian minyak goreng bersubsidi dengan harga Rp 14 ribu/liter. Dikarenakan, pendistribusian minyak goreng subsidi dinilai tidak merata karena hanya menyasar pasar modern. Sedangkan di pasar tradisional belum ada.
Seperti yang dirasakan oleh salah satu pedagang di pasar Peterongan Kota Semarang, Ninik sumarni (58). Dia mengatakan sampai saat ini belum mendapatkan akses untuk membeli minyak goreng bersubsidi sebagai barang dagangan. Tidak hanya Ninik saja, hampir para pedagang di Pasar Peterongan belum mendapatkan minyak tersebut.
“Memang tujuan pemerintah bagus yang memperhatikan rakyatnya. Soalnya, sebelumnya harga minyak goreng sangat tinggi, kisaran Rp 20 ribu hingga Rp 40 ribu/litar. Namun persoalannya, minyak goreng subsidi itu hanya sampai di pasar modern, belum ke pasar tradisional,” kata Ninik Sumarni, Rabu (2/2/2022).
Adanya kebijakan itu, berdampak pada para pelanggannya yang memilih berbelanja di pasar modern.
“Pastinya, pasar jadi sepi hingga pembeli lari ke supermarket, itu pun dibatasi 2 liter setiap orang. Kami pun berusaha membeli di pasar modern, tapi antrenya ramai,” ujarnya.
Ia menyanyangkan kepada pemerintah karena pasar tradisional belum mendapatkan jatah subsidi minyak goreng.
“Pasar harusnya didrop minyak subsidi juga, meski pasar modern terlebih dahulu enggak papa. Pasar modern sekali ada minyak itu langsung diserbu, sedangkan di pasar tradisional masih harga lama,” terangnya.
Berbeda dengan para pedagang Pasar Johar yang berada di tempat relokasi di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Kota Semarang. Salah satu pedagang, Ratinah (35) mengaku sudah mendapatkan distribusi minyak subsidi.
Akan tetapi untuk saat ini, stok minyak subsidi sudah habis terjual. Ia juga mengatakan sudah mendapatkan minyak tersebut sebanyak dua kali yang diberikan pada dua minggu lalu.
“Minyak goreng subsidi memang sudah mendapatkan, tapi sekarang sudah habis semua karena langsung diborong para pembeli. Untuk sekarang masih ada minyak goreng biasa itu pun minyak goreng curah,” ungkapnya.
Sementara salah satu pedagang geprek di kawasan Pleburan, Kota Semarang, Eko (25) merasa kesulitan mencari minyak harga Rp 14.000/liter. Pasalnya, ia sempat mencari di pasar tradisional tidak ada.
“Masih susah harga Rp 14 ribu, sudah cari-cari di pasar tidak ada. Adanya harga lama Rp 20-21 ribu/liter, paling murah Rp 19 ribu/liter,” ungkapnya.
Untuk mendapatkan minyak goreng subsidi di pasar modern, menurutnya ada pembatasan setiap orang hanya membeli 2 liter. Sedangkan kebutuhan dagangannya sangat banyak, mencapai 5 sampai 10 liter perhari.
Akhirnya, Eko memutuskan membeli minyak curah kiloan, yang dinilai lebih hemat untuk usahanya.
“Selama harga minyak naik, kami tidak bisa menaikkan harga karena takut kehilangan pelanggan,” terangnya.(HS)