
HALO SEMARANG – Ramainya pemudik menjelang larangan mudik Lebaran tahun ini berdampak pada naiknya pendapatan para porter (jasa pengangkat barang milik penumpang di stasiun maupun bandara).
Hal itu terlihat di Stasiun Semarang Tawang, Rabu (5/5/2021). Ramainya jasa angkat barang dirasakan oleh Darmanto, salah seorang porter dari asal Jatinom Kabupaten Klaten yang sudah bekerja selama 20 tahun di Stasiun Tawang Semarang.
“Hari ini puncak ramainya diperbolehkan mudik,” tutur Darmanto kepada halosemarang.id.
Darmanto menuturkan, selama sepuluh hari terakhir dirinya mendapatkan omzet lebih tinggi dari Lebaran tahun lalu. Pendapatan tersebut dianggap dirinya sebagai pengganti Tunjangan Hari Raya (THR) yang tidak didapatkannya.
“Tahun ini lebih, tahun lalu kereta mandek tidak ada uang. Tahun ini masih ada sedikit ada penghasilan untuk beli lauk,” imbuh Darmanto.
Satu kali angkut dirinya mendapatkan upah minimal yang besarannya bervariasi, dari puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah. Tergantung beban yang diangkut dirinya dari peron ke gerbong kereta.
“Tarifnya setiap angkutan beda-beda, paling rendah Rp 20 ribu,” ujar ayah dua anak ini.
Terdapat 60 orang porter yang bekerja di Stasiun Semarang Tawang. Masing-masing dibagi dalam dua sift.
“Saya bekerja hari ini sift pagi, dari jam 10 pagi sampai jam 6 sore,” ucapnya.
Di tempat yang sama, Dina salah satu pengguna jasa angkut porter menuturkan, dirinya memanfaatkan jasa porter karena barang bawaan yang tidak sedikit.
“Saya kerap memanggil porter untuk bawa barang saya, soalnya berat,” tutur Dina.(HS)