in

Hidupkan Tradisi “Ngloning”, Warga Purwosari Kendal Gunakan Gabah Jadi Alat Pembayaran di Pesta Panen

Tradisi "Ngloning" atau Irup di Desa Purwosari dalam pesta panen padi, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal, Minggu (27/9/2026).

HALO KENDAL – Upaya menghidupkan kembali tradisi “Ngloning” atau Irup, warga Desa Purwosari, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal menggunakan gabah sebagai alat pembayaran.

Hal itu dilakukan warga dalam pesta panen padi yang digelar di Pasar Gili, Desa Purwosari, Minggu (27/9/2026), sebagai bagian dari upaya warga melestarikan budaya lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Kepala Desa Purwosari, Akhmad Nur Wakhid mengatakan, pesta panen digelar sebagai bentuk nguri-uri budaya lokal yang ada di Desa Purwosari.

Dijelaskan, kegiatan tersebut biasanya digelar setiap akhir musim panen, khususnya sekitar September. Menurut cerita, tradisi ngloning pada zaman dahulu menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat Purwosari.

“Zaman dulu itu ada istilah ngloning. Orang dari luar desa datang ke Desa Purwosari untuk menukar gabah dengan bahan pokok, sayuran, kue tradisional, rempah-rempah dan lainnya,” jelas Nur Wahid.

Pihaknya berharap, melalui pesta panen tersebut, tradisi yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kembali diperkenalkan dalam bentuk yang lebih menarik dan melibatkan pelaku UMKM lokal.

Selain menjaga keberlangsungan budaya, lanjut Nur Wakhid, kegiatan tersebut juga diharapkan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat, khususnya pelaku UMKM di Desa Purwosari.

“Harapannya kegiatan ini bisa meningkatkan kesejahteraan pelaku UMKM di Purwosari,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua panitia yang juga Sekretaris Desa Purwosari, Any Ismafarida mengatakan, penggunaan gabah sebagai alat transaksi menjadi salah satu keunikan dalam pesta panen tersebut.

“Yang unik dalam kegiatan pesta panen ini, kami menggunakan gabah sebagai alat pembayaran ketika membeli produk apa pun di UMKM yang ada di Pasar Gili Desa Purwosari,” ujarnya.

Any menjelaskan, gabah yang digunakan sebagai alat pembayaran telah dikemas dalam beberapa pecahan, dengan disetarakan nilai mulai dari Rp 2 ribu hingga Rp 10 ribu.

Pengunjung kemudian dapat menukarkan atau menggunakan gabah tersebut untuk membeli berbagai produk yang dijajakan pelaku UMKM.

“Kalau di desa kami istilahnya ngloning atau irup. Jadi mata uangnya bukan rupiah, tetapi gabah yang sudah kita packing dari dua ribu rupiah sampai dengan sepuluh ribu rupiah,” jelas Any.

Menurutnya, penggunaan gabah tersebut sengaja dilakukan sebagai simbol hasil pertanian warga, konsep tersebut juga menjadi cara untuk mengenalkan kembali tradisi lama dan kearifan lokal kepada generasi sekarang.

“Kenapa pakai gabah dalam tradisi ngloning ini, karena kita dalam rangka pesta panen padi,” kata Any.

Selain bazar UMKM dengan transaksi menggunakan gabah, pesta panen juga dimeriahkan dengan berbagai kegiatan, seperti lomba memancing, gogoh ikan, lomba layang-layang, kitiran, mewarnai hingga karaoke.

Any menambahkan, pesta panen tersebut telah digelar untuk kelima kalinya dan menjadi agenda rutin setiap tahun. Antusiasme masyarakat maupun pelaku UMKM juga terus meningkat.

“Awalnya pedagang yang ikut sekitar 30-an, sekarang sudah lebih dari 60 pedagang. Kalau untuk Pasar Gili sendiri setiap minggu memang ada,” imbuhnya.(HS)

50 Anak Muda Jateng-DIY Adu Karya AI, Taj Yasin: Jangan Cuma Jadi Pengguna Teknologi