HALO BATANG – Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Batang menggelar simulasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kegiatan dalam rangka peringatan HUT Ke-81 PMI yang jatuh setiap 17 September itu, digelar di depan Pondok Pesantren Inaaroh, Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang, Kamis (17/8/2026), dengan melibatkan sejumlah unsur relawan.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Batang, Darsono mengatakan, simulasi tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dan relawan, dalam menghadapi potensi bencana kebakaran, terutama pada musim kemarau.
Menurut dia, musim kemarau kering yang saat ini terjadi, juga meningkatkan kerawanan kebakaran hutan dan lahan.
“Memang berpotensi, tetapi kejadiannya masih relatif kecil,” kata dia, seperti dirilis batangkab.go.id.
Dia menyampaikan harapan, walaupun ada pelatihan bagi relawan dalam rangka peringatan HUT PMI ini, kebakaran hutan dan lahan tidak terjadi.
“Kebakaran hutan dan lahan dapat menimbulkan berbagai risiko, mulai dari kerusakan lingkungan hingga gangguan terhadap aktivitas masyarakat,” kata dia.
Darsono menyebut salah satu wilayah yang pernah memiliki potensi karhutla adalah Kecamatan Subah.
Wilayah tersebut memiliki kawasan hutan, termasuk hutan jati dan pinus. Di daerah itu terdapat relawan yang secara khusus disiapkan, untuk membantu penanganan kebakaran hutan.
Untuk mengantisipasi risiko kebakaran pada musim kemarau, Darsono mengatakan Pemkab Batang mengandalkan kesiapsiagaan berbagai unsur, termasuk pemadam kebakaran yang bersiaga selama 24 jam.
“Diupayakan secepat mungkin kita tangani. Ada damkar yang juga berusaha 24 jam untuk siaga, bersama dengan seluruh elemen masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua PMI Batang, Achmad Taufiq mengatakan, simulasi melibatkan relawan dari berbagai unsur.
Di antaranya Korps Sukarela (KSR), Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sibat), Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU), ormas Bara Nusa, Rifa’iyah, Pramuka Peduli, serta Palang Merah Remaja (PMR) Wira tingkat SMA.
Sebelum melakukan simulasi di lapangan, para peserta mendapatkan materi mengenai penanganan karhutla dari sejumlah narasumber.
“Peserta nanti kita masukkan ke aula, kemudian menerima materi dari narasumber dari BPBD, Perhutani, kemudian dari Damkar. Setelah itu nanti kita ke lapangan,” terangnya.
Lokasi simulasi dipilih karena terdapat area bekas tanaman jagung yang baru dipanen dan belum dibersihkan, sehingga dapat digunakan sebagai lokasi latihan penanganan kebakaran lahan.
Dalam simulasi tersebut, peserta akan mempraktikkan penanganan kebakaran dengan skenario pembakaran material yang telah dikumpulkan, kemudian dilakukan pemadaman.
Taufiq juga mengatakan, kejadian karhutla di Kabupaten Batang selama ini masih relatif kecil. Salah satunya pernah terjadi di wilayah Kecamatan Batur di daerah pegunungan.
“Sebaliknya, kejadian kebakaran rumah justru mengalami peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” kata dia.
Kebakaran rumah tersebut antara lain dipicu korsleting listrik dan penggunaan kompor yang ditinggalkan saat memasak.
“Kebanyakan dipicu korsleting listrik sama kompor. Tapi yang banyak itu karena listrik,” ujar dia.
Taufiq menyebutkan, selain melakukan pencegahan dan simulasi, PMI Batang juga memberikan bantuan kepada masyarakat, yang menjadi korban kebakaran rumah.
Bantuan diberikan berdasarkan hasil asesmen terhadap tingkat kerusakan rumah. Dalam pelaksanaannya, PMI berkoordinasi dengan BPBD, Dinas Sosial, dan Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra).
“Kalau dari kami antara Rp5 juta, Rp10 juta, sampai dengan satu paket rumah tidak layak huni,” kata dia.
Melalui simulasi tersebut, PMI berharap kemampuan relawan dalam melakukan respons awal terhadap bencana semakin meningkat, sekaligus memperkuat koordinasi antarlembaga dalam menghadapi potensi kebakaran selama musim kemarau. (HS-08)

