HALO SEMARANG – Kepedulian terhadap lingkungan mulai ditanamkan dari ruang-ruang kelas di Jawa Tengah. Hingga 31 Agustus 2026, sebanyak 242 sekolah pada jenjang SMA, SMK, MA, dan SLB telah menyandang predikat Sekolah Adiwiyata.
Sekolah-sekolah tersebut menjadi bagian dari gerakan untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat, bersih, sekaligus menumbuhkan kebiasaan peduli lingkungan di kalangan siswa.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Tengah, Heru Djatmiko, mengatakan pada 2026 terdapat 79 sekolah dan madrasah yang mengikuti seleksi Sekolah Adiwiyata Provinsi Jawa Tengah.
Peserta seleksi terdiri atas 38 SMA, 16 SMK, tiga SLB, dan 19 madrasah aliyah (MA). Usulan SMA, SMK, dan SLB berasal dari 24 kabupaten/kota, sedangkan usulan MA berasal dari 14 kabupaten/kota.
Setelah melewati tahapan seleksi, sebanyak 52 sekolah dan madrasah dinyatakan layak ditetapkan sebagai Sekolah Adiwiyata Provinsi Jawa Tengah Tahun 2026 melalui Keputusan Gubernur Jawa Tengah.
Dari jumlah tersebut, terdiri atas 25 SMA dari 16 kabupaten/kota, 10 SMK dari 17 kabupaten/kota, tiga SLB dari tiga kabupaten/kota, serta 14 MA dari sembilan kabupaten/kota.
Heru mengatakan, program Adiwiyata tidak berhenti pada pemberian predikat atau penghargaan. Penerapannya di lingkungan sekolah memberikan dampak terhadap cara sekolah mengelola sumber daya dan lingkungan.
Di antaranya melalui upaya mengurangi timbulan sampah, konsumsi air bersih, serta penggunaan energi.
“Dengan adanya sekolah Adiwiyata ada beberapa hal yang menurun dan itu memang memberikan dampak yang signifikan,” kata Heru.
Program tersebut sekaligus menjadikan sekolah sebagai ruang praktik bagi siswa untuk mengenal persoalan lingkungan secara langsung. Kebiasaan memilah dan mengelola sampah, menghemat air, hingga menggunakan energi secara bijak dapat diterapkan dalam aktivitas sehari-hari di sekolah.
Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, menilai keberadaan Sekolah Adiwiyata menjadi langkah strategis untuk menanamkan kepedulian terhadap lingkungan kepada generasi muda.
Menurutnya, Adiwiyata tidak semestinya dipandang sebatas program untuk mendapatkan penghargaan. Lebih jauh, sekolah menjadi ruang pendidikan untuk membentuk kebiasaan dan kepedulian siswa terhadap persoalan lingkungan.
“Sekolah Adiwiyata itu adalah sekolah yang lebih peduli lingkungan. Ini menjadi titik yang strategis karena mendidik anak-anak kita untuk lebih menginternalisasi pemahaman tentang kepedulian terhadap masalah lingkungan,” kata Sumarno usai menyerahkan penghargaan dan memberikan arahan pada acara Pembinaan dan Gerakan Peduli Lingkungan untuk Lembaga dan Masyarakat di Jawa Tengah, di Aula Kalpataru, Kantor DLH Provinsi Jawa Tengah, Kamis, 17 September 2026.
Ia menegaskan, persoalan lingkungan bukan pekerjaan satu pihak. Kepedulian dari seluruh lapisan masyarakat diperlukan agar upaya menjaga lingkungan dapat berjalan secara berkelanjutan.
Karena itu, pendidikan lingkungan perlu dikenalkan sejak usia dini agar kepedulian tersebut tumbuh menjadi kebiasaan, bukan sekadar pengetahuan.
Sumarno juga mengapresiasi sekolah-sekolah di Jawa Tengah yang telah berkomitmen menjalankan program Adiwiyata.
Menurutnya, penghargaan yang diberikan kepada sekolah bukan menjadi tujuan akhir. Sebaliknya, capaian tersebut diharapkan menjadi pemicu bagi sekolah lain untuk ikut menerapkan gerakan peduli lingkungan.
“Kami berharap apa yang dilakukan sekolah-sekolah ini lebih dikembangkan lagi. Apresiasi ini bukan akhir, tetapi menjadi motor motivasi agar sekolah-sekolah lebih bersemangat dan menginspirasi sekolah-sekolah lain untuk menjadi sekolah Adiwiyata,” ujarnya.
Dengan bertambahnya jumlah sekolah Adiwiyata, Sumarno berharap gerakan peduli lingkungan di Jawa Tengah dapat terus meluas secara bertahap.
Sebab, ketika kebiasaan menjaga lingkungan mulai tumbuh dari sekolah, anak-anak tidak hanya membawa pengetahuan dari ruang kelas, tetapi juga membawa kebiasaan tersebut ke rumah dan lingkungan tempat mereka tinggal.(HS)


