JUMAT sore (11/9/2026), Lobi Balai Kota Semarang yang biasanya menjadi tempat warga datang untuk mengurus berbagai kepentingan pemerintahan, kedatangan seorang tamu istimewa dari jauh. Ia adalah Louis Philippe Dalembert, penulis asal Prancis yang memilih Semarang sebagai tempat tinggal sekaligus ruang untuk menemukan cerita selama tiga bulan ke depan.
Louis datang ke Semarang bukan sekadar untuk berkunjung.
Ia terpilih sebagai penulis yang mewakili Pemerintah Prancis dalam Program Residensi Rimbaud 2026, sebuah program pertukaran sastra antara Prancis dan Indonesia. Selama berada di Semarang, ia akan menulis mengenai kota ini, lengkap dengan denyut kehidupan masyarakat dan keragaman budaya yang ditemuinya sehari-hari.
Di hadapan jajaran Pemerintah Kota Semarang, pelajar, dan tamu undangan, Louis mengaku bahagia mendapat sambutan hangat.
Baginya, Indonesia menjadi pengalaman yang berbeda setelah sebelumnya menjalani perjalanan dalam program serupa ke sejumlah kota di berbagai belahan dunia, antara lain Jerusalem, Roma, dan Berlin.
Namun, Semarang memberinya kesan tersendiri.
“Saya tidak bisa berkata-kata banyak di sini karena disambut dengan sangat baik. Saya berterima kasih kepada Ibu Wali Kota dan jajarannya yang menyambut dengan ramah setiap tamunya. Saya di sini merasa nyaman dan bahagia,” ujar Louis.
Ia juga melihat Semarang sebagai kota yang memiliki keragaman budaya dan kehidupan masyarakat yang dapat menjadi bahan cerita menarik.
Karena itu, selama tiga bulan tinggal di Semarang, Louis tidak ingin hanya duduk di kamar lalu menulis berdasarkan apa yang dilihat sekilas.
Ia berjanji akan turun langsung menemui masyarakat. Berbicara, mendengar cerita, menikmati makanan, menyaksikan aktivitas warga, hingga merasakan kehidupan kota dari jarak dekat.
“Saya berjanji akan serius dalam menulis, dan juga turun bertemu masyarakat agar tulisan saya memiliki jiwa di dalamnya, tidak kosong,” katanya.
Bahkan, Louis membuka pintu selebar-lebarnya bagi siapa saja yang ingin mengajaknya mengenal Semarang dari sisi yang lebih personal.
Ia mengaku siap menerima undangan ke berbagai tempat selama masa tinggalnya di kota ini.
“Mau diundang ke mana saja saya senang. Bisa sekadar untuk makan soto, bisa diundang menonton sepak bola di stadion, ke bar, sampai ke pasar malam Semawis,” ujarnya sambil berseloroh.
Bagi Louis, barangkali justru dari tempat-tempat semacam itulah cerita Semarang akan ditemukan.
Bukan semata dari bangunan bersejarah atau destinasi wisata yang selama ini menjadi wajah kota, melainkan dari percakapan sederhana, makanan di meja, riuh penonton sepak bola, pedagang di pasar malam, hingga kehidupan warga yang berlangsung setiap hari.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mengatakan, Pemerintah Kota Semarang menyambut baik kedatangan Louis sebagai bagian dari program pertukaran sastra tersebut.
Menurutnya, keberadaan Louis selama tiga bulan di Semarang diharapkan dapat memberikan energi positif bagi perkembangan pariwisata sekaligus memperkenalkan wajah Semarang kepada masyarakat internasional melalui karya sastra.
“Karena Louis selama di sini akan menulis tentang Semarang, mulai dari yang menjadi ikon kota seperti Lawang Sewu, Kota Lama, dan keragaman budayanya. Ini sekaligus menjadi ruang inspirasi bagi penulis Prancis untuk menelurkan karya terbaiknya,” kata Agustina.
Ia berharap karya yang lahir dari program tersebut nantinya tidak berhenti sebagai karya sastra semata, tetapi juga menjadi cara lain untuk memperkenalkan Semarang kepada dunia.
Program Residensi Rimbaud atau Program Residensi Silang Rimbaud merupakan program pertukaran sastra bilateral pertama antara Prancis dan Indonesia.
Melalui program tersebut, Indonesia dan Prancis tidak sekadar bertukar penulis, tetapi juga bertukar cara pandang dalam melihat kehidupan kedua negara.
Setelah Louis menyelesaikan masa residensinya di Semarang, giliran Indonesia yang akan mengirimkan seorang penulis ke Prancis pada 2027. Biaya program tersebut akan ditanggung Pemerintah Prancis.
“Setelah ini, kami bertukar untuk mencari satu penulis yang akan diberangkatkan ke Prancis pada tahun 2027, dengan biaya dari Pemerintah Prancis. Semoga program silang Rimbaud ini mengenalkan lagi Kota Semarang ke luar, baik di Prancis maupun masyarakat dunia,” ujar Agustina.
Kini, Semarang punya waktu tiga bulan untuk bercerita kepada Louis.
Dan Louis punya waktu yang sama untuk mendengarkannya.
Barangkali nanti, kisah Semarang tidak hanya tinggal di jalan-jalan kota, warung soto, tribun stadion, atau riuh Pasar Semawis. Sebagian kisah itu mungkin akan pulang bersamanya ke Prancis, berubah menjadi kata-kata, lalu menemukan pembaca di belahan dunia lain.(HS)


