in

Pesta Literasi Indonesia 2026 Dibuka di Semarang, Bawa Semangat #MembacaRepublik

Suasana Diskusi bertajuk Gerakan Literasi untuk Republik dalam rangkaian acara Pesta Literasi Indonesia 2026 bertempat di Toko Gramedia Jalma Pandanaran Semarang, Sabtu (12/9/2026).

SEMARANG menjadi kota pertama yang disambangi Penerbit Gramedia Pustaka Utama (GPU) dalam rangkaian Pesta Literasi Indonesia 2026. Gelaran tahunan yang memasuki tahun keenam tersebut resmi dibuka di Toko Buku Gramedia Jalma Pandanaran Semarang, Sabtu (12/9/2026).

Pembukaan Pesta Literasi Indonesia 2026 ditandai dengan peluncuran buku kumpulan cerita Cerita Khatulistiwa, dilanjutkan diskusi bertajuk “Gerakan Literasi untuk Republik”.

Diskusi tersebut menghadirkan sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang, mulai dari penulis, akademisi, pegiat hak asasi manusia hingga praktisi perbukuan. Mereka antara lain A. Fuadi, penulis novel Negeri 5 Menara; Gustika Jusuf-Hatta, pegiat HAM; Prof. Zainal Arifin Mochtar, akademisi; serta Andi Tarigan, editor Gramedia. Acara juga dimeriahkan penampilan musik Fanny Soegi.

Ketua Pelaksana Pesta Literasi Indonesia 2026, Immanuel Victorian Naffi, mengatakan pemilihan empat kota dalam rangkaian tahun ini merupakan upaya memperluas jangkauan gerakan literasi sekaligus merespons tingginya minat membaca di berbagai daerah.

Semarang dipilih sebagai kota pembuka karena dinilai memiliki geliat literasi yang terus tumbuh. Selain itu, penyelenggara ingin memperkenalkan kembali Gramedia Jalma Pandanaran yang kini telah direnovasi.

“Salah satu alasan tahun ini Semarang dipilih menjadi salah satu tempat acara karena kami ingin mendorong semangat literasi di daerah yang mulai tumbuh dan makin banyak orang punya hobi baca. Sekaligus lebih mengenalkan Toko Gramedia Jalma Pandanaran Semarang yang sekarang sudah direnovasi sehingga lebih nyaman dan megah,” ujar Immanuel.

Menurutnya, perluasan lokasi penyelenggaraan diharapkan membuat semangat membaca tidak berhenti di kota-kota besar.

“Kami ingin lebih banyak menjamah daerah yang juga memiliki semangat literasi cukup tinggi sehingga bisa menyebar lebih luas dan tumbuh makin besar,” imbuhnya.

Setelah Semarang, Pesta Literasi Indonesia 2026 akan berlanjut di Jakarta pada 26–27 September di Urban Forest Cipete. Rangkaian kemudian bergerak ke Kupang pada 17–18 Oktober dan ditutup di Palembang pada 31 Oktober–1 November 2026.

CEO Gramedia Pustaka Utama, Andi Tarigan, mengatakan Pesta Literasi Indonesia merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan penerbit dalam memperkuat ekosistem perbukuan nasional.

Sejak pertama kali digelar pada 2021, kegiatan tersebut berkembang dari sebuah acara lokal menjadi gerakan literasi berskala nasional yang melibatkan puluhan komunitas, ratusan penulis, dan puluhan ribu pengunjung setiap tahunnya.

“Melalui kolaborasi lintas sektor bersama media, lembaga pendidikan, pemerintah daerah, dan mitra sponsor, Pesta Literasi Indonesia 2026 diharapkan dapat memperkuat tradisi membaca sekaligus menginspirasi lahirnya karya-karya baru dari seluruh penjuru Nusantara,” paparnya.

Tahun ini, Pesta Literasi Indonesia mengusung tema #MembacaRepublik dan berlangsung sepanjang September hingga Oktober 2026.

Salah satu narasumber, Prof. Zainal Arifin Mochtar, menilai ruang publik berupa diskusi dan dialog terbuka penting untuk menjaga daya kritis masyarakat. Menurut dia, forum semacam itu dapat menjadi tempat bertemunya gagasan sekaligus memantik masyarakat untuk merespons berbagai dinamika sosial dan persoalan bangsa.

“Setiap buku diterbitkan itu punya alamat dan tujuannya. Jangan dibayangkan buku hanya sebuah deretan huruf yang disusun menjadi kata dan membentuk kalimat tanpa bisa apa-apa. Buku adalah asupan yang merangsang otak kita untuk berimajinasi dan berpikir kritis melihat keadaan di sekitar,” katanya.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menggantungkan pengetahuan hanya pada informasi singkat yang berseliweran di media sosial.

“Kita tidak sekadar menonton TikTok ataupun media sosial lainnya yang berisi informasi dangkal atau di permukaan saja,” ujarnya.

Menurut Zainal, buku memiliki kekuatan untuk memengaruhi cara seseorang memahami dunia. Pengetahuan yang diperoleh dari buku bahkan dapat menjadi bagian dari perubahan besar dalam kehidupan masyarakat.

“Kekuatan penulis melalui bukunya punya dampak untuk memengaruhi pembacanya. Dari buku orang bisa memperoleh pengetahuan, bahkan bisa menjadi bahan bakar untuk mengubah peradaban sekalipun,” jelasnya.

Ia menambahkan, setelah sebuah buku diterbitkan dan berada di tangan pembaca, tafsir atas isi buku tersebut menjadi bagian dari pengalaman masing-masing pembaca.

“Setelah buku itu keluar sampai di tangan, pembaca sendirilah yang akan memamahnya, sampai memutilasi dan menginterpretasikan,” katanya.

Penyelenggara menilai Pesta Literasi Indonesia 2026 bukan sekadar festival buku. Gelaran ini menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan penulis, pembaca, komunitas, dan pegiat literasi untuk merawat nalar publik serta memperkuat fondasi pengetahuan masyarakat.

Membaca juga didorong untuk dipandang lebih dari sekadar rutinitas atau hobi. Aktivitas tersebut diharapkan menjadi cara masyarakat memahami sejarah, ketimpangan sosial, perubahan ekonomi, hingga kebijakan publik yang ikut menentukan masa depan Indonesia.

Selama dua bulan penyelenggaraan, Pesta Literasi Indonesia 2026 menghadirkan beragam kegiatan interaktif di setiap kota. Agenda tersebut meliputi diskusi panel, baca bersama, panggung puisi, live podcast, lokakarya keuangan, lokakarya menulis, adu eja, lomba susun sampul, pertunjukan musik, hingga pasar buku dan produk UMKM lokal.

Dari Semarang, gerakan #MembacaRepublik pun dimulai, membawa buku keluar dari rak dan menjadikannya ruang pertemuan gagasan, percakapan, serta cara melihat Indonesia dengan lebih kritis.(HS)

Bupati Kendal Cup 2026 Jadi Panggung Cetak Atlet Taekwondo Muda Berprestasi

18 Tim Putri SD Ramaikan Junior Putri Cup 2026 di Semarang