in

Petani Gen Z Kembangkan Sale Pisang Tanduk dengan Topping Kacang

Petani Gen Z, M Fata Ulinuha mengembangkan sale pisang tanduk dengan topping kacang di Desa Timbang, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Batang. (Foto : batangkab.go.id)

 

HALO BATANG – Memilih pulang ke kampung halaman dan menekuni pertanian bukan perkara mudah bagi pemuda seperti M Fata Ulinuha. Namun keputusannya itu diambil setelah melihat peluang dari hasil pertanian di Kabupaten Batang.

Pria yang pernah bekerja di Jakarta itu, kini memilih menjadi petani pisang tanduk, sekaligus mengembangkan produk olahan berupa sale pisang, dengan inovasi topping kacang-kacangan dan biji-bijian.

Fata mengatakan, keputusan mengolah sendiri hasil panen berawal dari harga pisang tanduk yang dinilai memiliki batas, ketika dijual kepada tengkulak.

“Sebagai petani pisang tanduk ini, harga pisang tanduk kalau dijual ke tengkulak itu kan semacam ada plafonnya. Ya akan mentok di situ-situ saja,” kata dia, seperti dirilis batangkab.go.id, pada Rabu (2/9/2026).

Kondisi tersebut membuatnya berpikir untuk meningkatkan nilai tambah hasil pertanian dengan mengolah pisang yang ditanamnya sendiri.

“Akhirnya kita mulai memutuskan buat mengolah hasil tani kita sendiri yang kita tanam dari satu tahun lalu,” kata dia di Desa Timbang, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Batang..

Kemudian dia mengembangkan sale pisang, dengan menggunakan mesin dehydrator. Mesin elektronik ini menggunakan udara panas bersuhu terkontrol dan kipas, untuk mengurangi kadar air dalam bahan makanan, sehingga nutrisi pisang tetap terjaga.

Setelah melalui proses pengeringan, sale pisang diberi topping berupa kacang-kacangan dan biji-bijian sehingga menjadi alternatif camilan yang menurutnya lebih praktis. Bentuk produk juga dibuat berbeda dari sale pisang pada umumnya.

Fata menyebutkan, sale pisang tanduk yang telah melalui proses tersebut, kemudian dipotong menjadi bentuk kotak berukuran sekitar 6 x 6 sentimeter.

Menurut dia, inovasi tersebut dibuat karena ukuran pisang tanduk relatif besar sehingga kurang praktis apabila langsung disantap sebagai camilan.

“Kalau buat ngemil itu mungkin agak repot. Jadi kita coba bikin kotak-kotak sekitar 6 x 6 sentimeter supaya mudah buat cemilan,” kata dia.

Produk tersebut dijual dalam dua pilihan. Kemasan besar berisi 10 potong dijual dengan harga Rp30 ribu per bungkus. Sementara versi fun pack berisi enam potong dijual dengan harga Rp20 ribu.

Meski masih tergolong usaha baru, penjualan sale pisang tanduk tersebut mulai mendapatkan respons dari konsumen luar daerah.

Pemasaran dilakukan terutama secara daring melalui media sosial pribadinya. Pembeli paling banyak berasal dari luar kota, terutama Jakarta dan Surabaya.

“Penjualan per bulannya ini baru mulai tiga mingguan. Sampai sekarang di bulan ini sudah terjual sekitar 200 pack,” ungkapnya.

Fata mengaku, proses produksi masih berjalan lancar dan terkendali. Ketersediaan bahan baku juga tidak menjadi persoalan karena pisang tanduk yang digunakan berasal dari lahan yang dikelolanya sendiri.

“Kalau stok pisang jelas aman karena kita nanam sendiri itu di 3,8 hektar dan kapasitasnya 5.400. Jadi per minggu kita pasti rutin panen. Keputusan untuk menekuni pertanian juga tidak lepas dari pemanfaatan sumber daya yang sudah tersedia di keluarganya,” imbuhnya.

Ia mengaku memiliki kesempatan untuk mengelola lahan sewa yang sebelumnya digunakan untuk menanam sengon, dengan sistem tumpangsari pisang.

Lahan tersebut awalnya sekitar 2,5 hektare. Namun setelah melihat potensi hasil pisang, Fata mengubah pola tanam dengan menjadikan pisang sebagai tanaman utama, sementara sengon tetap dipertahankan untuk membantu membayar biaya sewa lahan.

“Untuk biaya operasional awal, menggunakan tabungan pribadi sekitar Rp25 juta. Dana tersebut digunakan antara lain untuk membayar tenaga kerja dalam proses penanaman. Sementara itu, bibit pisang tidak sepenuhnya harus dibeli karena diperoleh dari anakan tanaman pisang yang sudah ada di lahan,” ujar dia.

Seiring berjalannya usaha, sebagian hasil panen yang sudah dapat dipetik juga dimanfaatkan sebagai arus kas untuk membiayai operasional berikutnya.

“Dengan mengembangkan produk hingga tahap pengolahan dan pemasaran, hasil panen pisang tanduk tidak berhenti sebagai komoditas yang dijual kepada tengkulak, tetapi dapat menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi,” pungkasnya. (HS-08)

 

 

Atasi Tanah Bergerak, Anggota DPRD Batang Desak Pembangunan Bendungan Kedunglanggar

Pertahankan APK PAUD 100 Persen, Pemkot Pekalongan Perkuat Program Jaring Anak Usia Dini