in

Dampingi KUB UMKM Edelweis Merbabu di Kopeng, Unnes Perkuat Aspek Higienitas, Keamanan Pangan dan Layanan Konsumen

Suasana pelatihan dari Tim Pengabdian untuk Masyarakat dari Universitas Negeri Semarang (Unnes) untuk meningkatkan kualitas produk terkait higienitas kepada KUB UMKM Edelweis Merbabu di Desa Kopeng, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, pada baru-baru ini.
HALO SEMARANG — Upaya memberikan peningkatan nilai tambah usaha dan higienitas produk dari Kelompok Usaha Bersama (KUB) bagi UMKM Edelweis Merbabu di Desa Kopeng, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang dilakukan oleh Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Universitas Negeri Semarang (Unnes) baru-baru ini. Penguatan kapasitas terkait pengolahan, pengembangan produk hingga pengemasan menjadi lebih menarik memanfaatkan potensi lokal unggulan berupa komoditas kentang.
Menurut Tim Pengabdian kepada Masyarakat Unnes, Prof.Dr. Isti Hidayah, M.Pd., menjelaskan, bahwa potensi bahan baku di Desa Kopeng sangat besar. “Namun, tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut dapat diolah menjadi produk yang aman, menarik, memiliki nilai tambah, dan mampu membangun kepercayaan konsumen. Sehingga program ini berfokus pada tiga aspek mendasar, yaitu higienitas dan sanitasi produksi, keamanan pangan, serta layanan konsumen yang ramah dan aman,” terang Prof Isti Hidayah.
Prof Isti Hidayah menambahkan, KUB UMKM Edelweis Merbabu merupakan kelompok usaha yang baru terbentuk di Desa Kopeng. Sebelumnya, kelompok ini telah memperoleh pengenalan teknologi tepat guna dan pelatihan diversifikasi produk olahan pascapanen kentang dan sayuran.
“Desa Kopeng yang berada di kawasan lereng Gunung Merbabu dengan ketinggian sekitar 1.400–1.600 meter di atas permukaan laut memiliki kondisi agroekologi yang mendukung pengembangan hortikultura, terutama kentang. Potensi tersebut menjadi peluang besar bagi masyarakat untuk tidak hanya menjual hasil pertanian dalam bentuk bahan mentah, tetapi juga mengembangkannya menjadi produk olahan bernilai tambah,” jelasnya.
Dari hasil pendampingan awal menunjukkan bahwa anggota KUB memiliki antusiasme yang baik dalam mengembangkan produk.” Namun, memang masih terdapat sejumlah kendala, terutama dalam penerapan higienitas produksi, keamanan produk, pengemasan, pelayanan konsumen, serta akses pasar,” lanjutnya.
Dalam program pengabdian ini, semua tim pengabdi mengintegrasikan kepakaran pendidikan, ekonomi pembangunan, kesehatan masyarakat, epidemiologi kesehatan masyarakat, dan manajemen kewirausahaan. Tim pengabdi tersebut yakni terdiri dari Prof. Dr. Isti Hidayah, M.Pd., Prof. Dr. Sucihatiningsih DWP, M.Si., Dr. Evi Widowati, S.KM., M.Kes-, Prof. Dr. Widya Hary Cahyati, S.KM., M.Kes, dan Ida Maftukhah, S.E., M.M.
“Dari masing-masing ahli tersebut, mereka memberikan tiga fokus utama yang diberikan kepada mitra, meliputi penguatan higienitas dan sanitasi produksi sehingga mitra memperoleh edukasi dan praktik mengenai kebersihan tangan, sanitasi peralatan, kebersihan bahan, serta lingkungan produksi. Lalu, penguatan keamanan pangan, agar mitra diperkenalkan pada pentingnya pemilihan bahan baku yang aman, penggunaan kemasan food grade, pengendalian suhu, serta penyimpanan produk yang tepat. Dan peningkatan kualitas layanan konsumen,
mitra memperoleh penguatan mengenai komunikasi layanan yang ramah, keamanan area usaha, serta pentingnya label dan informasi produk yang jelas,” imbuhnya.
-Siapkan Tiga Buku Saku untuk Mitra
Selain itu, salah satu inovasi dalam program ini adalah pengembangan tiga buku saku praktis yang dapat digunakan oleh anggota KUB sebagai panduan dalam menjalankan aktivitas usaha.
“Ketiga buku tersebut meliputi, Buku Saku Sanitasi Produksi Umbi-Umbian, Buku Saku Keamanan Pangan, Buku Saku Layanan Konsumen Ramah dan Aman. Buku saku dirancang dengan tampilan visual, bahasa ringkas, dan tersedia dalam bentuk cetak maupun elektronik. Diharapkan, peserta pendampingan dapat mudah mengakses dan mempelajarinya secara mandiri melalui telepon genggamnya,” katanya.
Tak hanya memberikan materi atau teori saja, tetapi program ini juga dilanjutkan dengan sesi berupa praktik dan penerapan teknologi.
“Bahkan, peserta memperoleh sejumlah aset pendukung untuk membantu penerapan hasil pelatihan, antara lain perangkat penyimpanan dan pendinginan, keranjang freezer, berbagai bahan dan wadah pengemasan, standing pouch, printer label termal, chest freezer, serta perangkat pendukung buku saku,” katanya.
Penyerahan aset tersebut diharapkan tidak sekadar menambah fasilitas usaha, tetapi mendorong perubahan praktik produksi agar lebih higienis, aman, dan profesional.
“Dalam pelaksanaan pelatihan, anggota KUB menunjukkan antusiasme yang baik. Peserta tidak hanya mengikuti paparan materi, tetapi juga melakukan praktik dan memanfaatkan buku saku secara mandiri melalui telepon genggam masing-masing. Pendekatan partisipatif ini menjadi bagian penting dari strategi pemberdayaan. Agar terlibat dalam menyediakan tempat kegiatan, memfasilitasi praktik produksi, serta mengikuti tahapan kegiatan yang telah dirancang bersama,” paparnya.
Melalui program ini, KUB UMKM Edelweis Merbabu diharapkan dapat berkembang dari kelompok usaha yang berbasis potensi lokal menjadi UMKM yang lebih siap, higienis, aman, menarik, dan berorientasi pada kebutuhan konsumen.
Penguatan higienitas, keamanan pangan, dan layanan konsumen menjadi penting karena keberhasilan UMKM tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan produk.
Produk yang berkualitas perlu didukung proses produksi yang bersih, penyimpanan yang tepat, kemasan yang memadai, informasi produk yang jelas, serta pelayanan yang mampu membangun kepercayaan konsumen.
– Komitmen untuk Berkelanjutan
Program pengabdian tidak berhenti pada pelatihan dan penyerahan aset. Penerapan teknologi, pendampingan, dan evaluasi melengkapi metode pelaksanaan pemberdayaan mitra sasaran.
“Komitmen keberlanjutan juga diperkuat melalui penandatanganan Implementation Agreement (IA) dan Berita Acara (BA) penyerahan aset oleh pihak KUB dan Pemerintah Desa Kopeng,” katanya.
Dengan demikian, program ini diharapkan mampu membangun perubahan yang berkelanjutan dari pengetahuan menjadi keterampilan, dari keterampilan menjadi praktik, dan dari praktik menjadi budaya usaha yang lebih aman dan profesional. (HS-06)

Melalui Program English Coffee Storytelling hingga Publikasi Ilmiah, Lucia Runggeari Angkat Cerita Kopi Papua

Dua Tahun Berjalan, Awanncosta Catat 1,3 Juta Pengunjung dan Libatkan 1.000 Pekerja