HALO SEMARANG – Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Jawa Tengah mulai membidik pasar Eropa. Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI) Jawa Tengah berkolaborasi dengan My Bumi menggelar Forum Seminar dan Kurasi Produk UMKM di Hotel Front One HK Semarang, Selasa (11/8/2026), sebagai langkah mendorong produk lokal naik kelas hingga mampu bersaing di pasar global.
Forum yang mengusung tema “Green Passport to Europe: Empowering Small Business for Sustainable Global Impact” tersebut secara khusus membahas peluang dan kesiapan UMKM Indonesia memasuki pasar Uni Eropa dalam kerangka Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).
Ketua IPEMI Jawa Tengah, Hj Lies Iswar Aminuddin, mengatakan kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas pengusaha muslimah agar tidak hanya mampu bertahan di pasar domestik, tetapi juga memiliki keberanian dan kesiapan untuk menembus pasar internasional.
“Sebagai langkah awal, kami membidik pasar Belgia. Diharapkan ini bisa menjadi pintu pembuka untuk memasuki pasar negara-negara Eropa lainnya,” ujar Lies.
Menurut dia, forum tersebut penting untuk mempertemukan pelaku UMKM dengan informasi mengenai karakteristik pasar Eropa sekaligus standar yang harus dipenuhi.
“Lewat forum ini bisa didapat peluang pasar yang bisa ditangkap oleh pelaku UMKM kita. Termasuk standar yang diterapkan. Tentunya kualitas produk kita juga harus menyesuaikan,” katanya.
Lies mengungkapkan, meski baru menjadi kerja sama perdana, My Bumi telah mengantongi sekitar 80 jenis produk UMKM di bawah binaan IPEMI Jawa Tengah yang dinilai memiliki peluang untuk dipasarkan di Eropa, khususnya Belgia.
Produk makanan ringan atau kudapan menjadi salah satu sektor yang dinilai potensial. Selain itu, terdapat berbagai produk kerajinan dan kebutuhan rumah tangga, seperti perlengkapan sofa, tas, topi hingga perabotan hotel.
Menurut Lies, sejumlah produk yang selama ini dianggap sederhana justru memiliki peluang pasar di Belgia.
“Coco chips minatnya sangat besar di sana. Bahan dari kelapa tua yang dijadikan chips atau keripik ternyata banyak disukai masyarakat sana. Termasuk tomato chips, bahkan rengginang yang dibuat sebagai camilan,” ungkapnya.
Rengginang, lanjut dia, bahkan disebut banyak dimanfaatkan sebagai bekal anak sekolah. Produk lain seperti aneka jamu juga memiliki peminat.
Namun, peluang pasar tersebut harus diikuti dengan pembenahan kualitas produk, terutama dari sisi makanan, keamanan, standar produksi dan kemasan.
“Peluang ini harus ditangkap dari sisi peningkatan kualitas makanan hingga kemasannya,” tegas Lies.
Dalam forum tersebut, My Bumi turut memaparkan berbagai peluang produk UMKM yang diminati pasar Eropa, khususnya Belgia, sekaligus memberikan pemahaman mengenai standar perdagangan global yang harus dipenuhi pelaku usaha.
CEO My Bumi, Fatmi Woro Dwi Martanti, mengatakan kesiapan ekspor tidak hanya ditentukan oleh kualitas fisik produk. Menurutnya, faktor sumber daya manusia (SDM) juga menjadi salah satu tantangan terbesar yang harus dibenahi.
Ia menilai persoalan mindset, kepemimpinan dan literasi bisnis kerap menjadi penyebab kegagalan ekspor bahkan sebelum persoalan produk muncul.
“Kami memandang tahun 2026 sebagai waktu yang krusial bagi UMKM Indonesia untuk mempersiapkan diri dalam kurun waktu yang tersisa sebelum perjanjian IEU-CEPA berlaku efektif,” kata Woro, yang juga Ketua PPLN IPEMI Belgia.
Menurut dia, pelaku UMKM perlu mulai membenahi kualitas SDM, ketertelusuran rantai pasok, dokumentasi uji tuntas, sertifikasi berkelanjutan hingga kepatuhan terhadap ketentuan asal barang.
Sementara itu, dalam sesi “Give Your Product a Passport”, Expert Export European, Emmanuel Weitzel, mengungkapkan tiga pertanyaan utama yang menjadi perhatian pembeli Eropa terhadap produk impor.
“Dari mana asalnya, bagaimana dibuat dan apa dampaknya bagi lingkungan,” jelas Emmanuel.
Ia menekankan pentingnya transparansi dan ketertelusuran produk. Menurutnya, pelaku usaha harus mampu membuktikan setiap klaim mengenai produk yang dipasarkan agar tidak terjebak dalam praktik greenwashing.
“Penting juga transparansi ketertelusuran dan prinsip ‘buktikan kebenaran kecil, jangan janjikan kebohongan besar’ untuk membedakan produk jujur dari praktik greenwashing,” katanya.
Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin, yang hadir dalam kegiatan tersebut mengapresiasi langkah IPEMI Jawa Tengah dan My Bumi dalam membuka akses serta memberikan edukasi kepada pelaku UMKM untuk menembus pasar internasional.
Menurut Iswar, peningkatan kapasitas tidak bisa hanya berhenti pada wacana. Pelaku UMKM membutuhkan edukasi dan pendampingan agar mampu memenuhi standar pasar yang lebih luas.
“Nah, melalui kegiatan ini, sudah waktunya UMKM kita naik kelas. Kalau sekadar omon-omon, maka UMKM akan begitu-begitu saja. Kalau mau naik kelas, ya memang harus ada kegiatan edukasi dan pendampingan seperti ini,” ujar Iswar.
Ia berharap semakin banyak produk UMKM Jawa Tengah, khususnya Kota Semarang, yang mampu menembus pasar Eropa.
Jika hal tersebut terwujud, menurut Iswar, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha, tetapi juga dapat menggerakkan ekonomi masyarakat di sekitar sentra UMKM.
“Ketika UMKM Jateng dan Kota Semarang bisa tembus pasar Eropa, ekonomi kerakyatan bisa terdongkrak. Lebih luas, ini akan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat di sekitar UMKM,” pungkasnya.(HS)


