HALO SEMARANG – Muharam Islamic Literacy Festival (Milfest) 1448 H yang digelar Kementerian Agama, di Unit Percetakan Al-Qur’an (UPQ), Ciawi, Bogor, tidak hanya menjadi ajang literasi keislaman, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Sejumlah pelaku UMKM mengaku mengalami peningkatan penjualan sekaligus memperluas jejaring usaha selama mengikuti festival yang berlangsung pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026.
Beragam stan kuliner dan produk UMKM, hadir melayani ribuan pengunjung Milfest, mulai dari pelajar, guru, keluarga, hingga masyarakat umum yang datang menikmati berbagai wahana literasi dan edukasi Islam.
Rosdiana, pedagang pempek Palembang yang telah berjualan sejak hari pertama penyelenggaraan Milfest, mengaku bersyukur mendapat kesempatan menjadi bagian dari festival tersebut.
“Alhamdulillah sampai hari ini warga setempat dan pengunjung banyak yang jajan di sini. Mudah-mudahan semuanya senang dan bermanfaat. Kami juga bersyukur diberi kesempatan berjualan,” kata dia, di lokasi, belum lama ini, seperti dirilis kemenag.go.id.
Ia mengaku tidak menghitung secara rinci pendapatan yang diperoleh selama berjualan.
Namun, menurutnya, keikutsertaannya dalam Milfest membawa keberkahan bagi usahanya.
“Alhamdulillah saya tidak bisa menghitung nominalnya, tapi yang jelas berkah,” katanya.
Rosdiana berharap kegiatan serupa terus diselenggarakan agar semakin banyak pelaku UMKM memperoleh kesempatan memasarkan produknya.
Harapan serupa disampaikan Siti Khodijah, pelaku UMKM yang menjual aneka kue tradisional, pempek, serta minuman tradisional seperti kunyit asam dan serai jahe.
Menurut Siti, Milfest menjadi ruang yang mempertemukan pelaku UMKM dengan berbagai kalangan masyarakat.
“Kami senang sekali dengan event seperti ini. Bisa bertemu anak-anak, masyarakat, sampai pejabat. Rasanya benar-benar merakyat. Sayang hanya berlangsung beberapa hari,” kata dia.
Ia berharap kegiatan serupa dapat digelar dalam durasi yang lebih panjang agar manfaat ekonomi yang dirasakan pelaku UMKM semakin optimal.
Sementara itu, pelaku usaha kopi sekaligus mitra LAZ Rabbani, Endi, menilai Milfest menjadi wadah yang efektif untuk menggerakkan perekonomian UMKM, terlebih yang mendapat pembinaan dari Kementerian Agama.
Endi merupakan peserta pelatihan barista dan servis mesin kopi yang digelar KUA Gunung Putri.
Menurutnya, pelatihan tersebut memberikan bekal keterampilan yang dapat dikembangkan menjadi usaha.
“Harapannya program seperti ini bisa diperluas, tidak hanya di KUA Gunung Putri, tetapi juga di daerah lain sehingga semakin banyak masyarakat yang memperoleh manfaat,” ujarnya.
Ia menambahkan, penyelenggaraan festival akan semakin berdampak apabila diiringi dengan program pemberdayaan UMKM secara berkelanjutan.
“Yang lebih penting sebenarnya pemberdayaan UMKM. Diberi pelatihan, didampingi untuk mengembangkan usaha, dan difasilitasi pemasarannya. Event seperti ini bagus, apalagi jika biaya stan gratis atau terjangkau sehingga kami bisa menjual produk dengan harga yang ramah bagi pengunjung,” katanya.
Pandangan tersebut sejalan dengan komitmen Menteri Agama Nasaruddin Umar yang mendorong agar ruang-ruang keagamaan tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga mampu menghadirkan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat.
Menurut Menag, masjid memiliki potensi besar untuk membangun kemandirian umat jika dikelola secara profesional dan kolaboratif. Bahkan, ia menegaskan bahwa pemberdayaan ekonomi umat perlu menjadi bagian dari ekosistem pelayanan keagamaan sehingga masyarakat dapat tumbuh lebih mandiri dan sejahtera.
Kasubdit Kepustakaan Islam Kementerian Agama, Dedi Slamet Riyadi, mengatakan, pihaknya bersyukur Milfest mampu menghadirkan manfaat yang tidak hanya dirasakan dalam aspek literasi, tetapi juga pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Kami sangat bersyukur Milfest tidak hanya menjadi ruang penguatan literasi keislaman tetapi juga membuka peluang ekonomi nyata bagi pelaku UMKM lokal. Kami dari Subdirektorat Kepustakaan Islam dan UPQ berupaya menghadirkan ekosistem kegiatan yang seimbang antara edukasi, pameran produk, dan pembinaan keterampilan, sehingga pengunjung memperoleh pengalaman literasi yang kaya sekaligus pelaku usaha mendapatkan akses pasar dan jejaring yang lebih luas,” ujar Dedi.
Dedi menambahkan, keberhasilan penyelenggaraan Milfest menjadi pijakan bagi Kementerian Agama untuk memperluas kolaborasi dalam pemberdayaan UMKM.
“Ke depan kami berkomitmen memperkuat kolaborasi dengan mitra-mitra pemberdayaan UMKM, lembaga zakat, dan pemerintah daerah untuk menghadirkan program pendampingan yang berkelanjutan. Harapan kami, Milfest dapat terus dikembangkan menjadi model kegiatan yang memberdayakan masyarakat secara ekonomi sekaligus memperkokoh peran lembaga keagamaan dalam membangun kemandirian umat,” kata dia.
Partisipasi para pelaku UMKM dalam Milfest menunjukkan bahwa festival ini tidak hanya memperkuat literasi keislaman, tetapi juga menjadi ruang pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Melalui kolaborasi antara edukasi, promosi produk, dan pengembangan kapasitas pelaku usaha, Milfest diharapkan mampu memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi UMKM lokal sekaligus memperkuat ekosistem pemberdayaan ekonomi umat sebagaimana menjadi arah kebijakan Kementerian Agama. (HS-08)

