in

Bangun Tanggul Darurat Sungai Bodri Kendal, Pemdes dan Petani Tambak Pidodokulon Kerahkan Alat Berat Secara Swadaya

Proses pembangunan tanggul darurat Sungai Bodri, di Desa Pidodokulon, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal, Senin (27/7/2026)
HALO KENDAL – Upaya penanganan terhadap jebolnya tanggul Sungai Bodri, Pemerintah Desa Pidodokulon, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal, bersama PSDA Jratunseluna dan masyarakat setempat, mulai membangun tanggul darurat, Senin (27/7/2026).
Dalam pembangunan tanggul yang jebol selebar 2 meter ini, Pemerintah Desa (Pemdes) Pidodokulon bersama petani tambak sepakat swadaya dengan cara patungan untuk mendatangkan alat berat dengan biaya Rp 50 juta.

Salah seorang petani tambak di Dukuh Pilangsari Desa Pidodokulon, Maskur merasa bersyukur atas langkah cepat yang dilakukan pemerintah desa dan PSDA Jawa Tengah dalam memperbaiki tanggul yang jebol di desanya.

“Kami berterima kasih kepada Pemerintah Desa Pidodokulon yang secara swadaya mendatangkan alat berat untuk penanganan darurat, juga kepada PSDA yang telah turun langsung ke lokasi. Mudah-mudahan pemerintah pusat bisa segera membangunkan tanggul yang permanen,” ujarnya.

Menurut Maskur, lokasi tanggul yang jebol berada dekat dengan permukiman warga dan lahan pertanian sehingga membutuhkan penanganan yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Sementara itu, Staf PSDA Jratunseluna, Kisro menjelaskan, kegiatan diawali dengan pembersihan jalur menuju lokasi tanggul yang jebol agar proses penanganan dapat segera dilaksanakan.

“Untuk sementara ini kami hanya dapat membuat tanggul darurat sebagai akses bagi petani sawah dan petani tambak. Penanganan ini belum bisa maksimal sesuai harapan Pemerintah Desa Pidodokulon karena keterbatasan anggaran,” jelasnya.

Kisrro menyebut, penanganan darurat dilakukan sebagai tindak lanjut atas jebolnya tanggul di Sungai Bodri beberapa waktu lalu. Menurutnya dalam pelaksanaan, PSDA menyediakan material berupa bambu, sasak bambu, dan jumbo bag yang akan dipasang di lokasi.

“Untuk teknis pekerjaan dari kami, mulai dari pemasangan sasak, bambu hingga tenaga kerja. Sedangkan pengisian jumbo bag dan penyediaan tanah dibantu menggunakan alat berat dari pemerintah desa,” ungkapnya.

Terkait penanganan permanen, Kisro menegaskan, pihaknya belum dapat memastikan kapan akan dilaksanakan karena seluruh anggaran berasal dari pemerintah pusat.

“Kami juga tidak dapat menyampaikan besaran anggarannya karena saya hanya bertugas di lapangan dan menjalankan arahan dari kantor,” tandasnya.

Kisro juga mengapresiasi sinergi yang terjalin antara PSDA Jratunseluna dan Pemerintah Desa Pidodokulon bersama masyarakat selama proses penanganan berlangsung.

“Alhamdulillah selama ini kerja sama dengan pemerintah desa tidak ada kendala. Saya mewakili PSDA Jratunseluna mengucapkan terima kasih kepada pemerintah desa dan masyarakat yang telah berpartisipasi dalam penanganan darurat ini,” ungkapnya.

Sedangkan, Kepala Desa Pidodokulon, Didik Prastiyawan berharap, pemerintah tidak hanya fokus pada pembangunan tanggul darurat dan akses jalan petani, tetapi segera merealisasikan pembangunan tanggul yang permanen.

“Kami berharap pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat segera membangun tanggul permanen, minimal dengan pemasangan bronjong sebagai pondasi agar mampu menahan arus sungai. Jika hanya penanganan seperti sekarang, kami khawatir saat musim hujan datang tanggul kembali jebol,” ujarnya.

Pemdes Pidodokulon juga berharap kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan masyarakat dapat mempercepat realisasi pembangunan tanggul permanen.

“Harapannya kolaborasi atau sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah dan masyarakat terus terjalin demi melindungi permukiman, lahan pertanian, serta tambak warga di sepanjang aliran Sungai Bodri,” ungkap Didik.(HS-06)

Sambut Peringatan HUT ke-421, DPRD Kendal Gelar Rapat Paripurna

25 Daerah Terdampak Kemarau, Jateng Sudah Salurkan 6,8 Juta Liter Air Bersih