HALO KENDAL – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr H Soewondo Kendal bersama Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Kabupaten Kendal menggelar On the Job Training (OJT) Kasus Kegawatdaruratan Ibu dan Anak dari FKTP (Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama) dan FKTL (Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut) di Aula RSUD dr H Soewondo Kendal, Kamis (9/7/2026).
Pelatihan diikuti tenaga kesehatan dari seluruh puskesmas di Kabupaten Kendal. Peserta merupakan satu tim yang terdiri atas dokter umum, perawat dan bidan tersebut, dengan pendampingan fasilitator dokter spesialis obstetri dan ginekologi (SpOG) serta dokter spesialis anak (SpA).
Kegiatan pelatihan menghadirkan narasumber, dr Mohammad Wibowo, selaku Wakil Direktur (Wadir) Bidang Pelayanan RSUD dr H Soewondo Kendal, dan Anita Dianawati SKM MKes, selaku Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan Kesehatan pada Dinas Kesehatan Kendal.
Dalam sambutannya saat membuka kegiatan, dokter Bowo, sapaan akrab Wadir RSUD dr H Soewondo Kendal itu mengatakan, pelatihan tmerupakan bentuk kolaborasi antara rumah sakit dan Dinkes Kendal untuk mendukung percepatan penurunan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB).
“Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan keterampilan klinis tenaga kesehatan dalam menangani kegawatdaruratan pada ibu hamil, ibu bersalin, serta bayi baru lahir. Harapannya pelayanan di puskesmas semakin optimal sehingga dapat menekan angka kematian ibu dan bayi,” ujarnya.
Dokter Bowo menjelaskan, kegiatan OJT diikuti 90 peserta yang dibagi dalam dua sesi, masing-masing sebanyak 45 orang. Pelatihan ini diinisiasi atau dikoordinasikan dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Kendal bekerja sama sebagai fasilitas rujukan PONED (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar).
Pelatihan berfokus pada praktik klinis penanganan kasus gawat darurat maternal seperti perdarahan, hipertensi kehamilan, juga neonatal seperti asfiksia dan BBLR (berat bayi lahir rendah) guna menekan angka kematian ibu dan bayi.
“Seluruh peserta mendapatkan pembelajaran praktik langsung agar mampu menerapkan penanganan kegawatdaruratan sesuai standar pelayanan,” jelas Dokter Bowo.
Sementara itu, Kabid Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Daerah Kendal, Anita Dianawati mengatakan, salah satu indikator keberhasilan pembangunan kesehatan daerah adalah rendahnya angka kematian ibu dan bayi. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi tenaga kesehatan menjadi langkah yang terus dilakukan pemerintah daerah.
“Kami terus berupaya menekan angka kematian ibu dan bayi. Salah satu caranya adalah meningkatkan kompetensi dokter, bidan, dan perawat yang memberikan pelayanan persalinan di puskesmas melalui pelatihan seperti ini,” ujarnya.
Anita memaparkan, di Kabupaten Kendal, untuk tahun 2022, AKI mencapai 19 kasus dan AKB 100 kasus. Di tahun 2023, AKI mencapai 18 kasus dan AKB mencapai 131 kasus. Di tahun 2024, AKI mencapai 22 kasus, dan AKB mencapai 149 kasus.
“Serta di tahun 2025, AKI mencapai 11 kasus atau di bawah RPJMD Kabupaten Kendal, dan AKB mencapai 94 kasus atau di bawah RPJMD Kabupaten Kendal,” paparnya.
Dengan pencapaian tersebut, lanjut Anita, Kabupaten Kendal menduduki peringkat 15 tertinggi kasus AKI di Jawa Tengah. Sementara di tahun 2026 (sampai dengan April) mengalami kenaikan, hingga Kabupaten Kendal menduduki peringkat ketiga setelah Pekalongan dan Brebes, dengan 6 kasus kematian. Bahkan pada awal Mei bertambah menjadi 7 kasus kematian.
“Kasusnya ditemukan di Puskesmas Rowosari 1, Cepiring, Gemuh 1, Kendal 2 dengan dua kasus kematian, dan Puskesmas Kendal 1. Untuk temoat kematiannya, lima di rumah sakit wilayah Kabupaten Kendal, dan dua dalam perjalanan,” imbuhnya.
Anita menjelaskan, kegiatan OJT dibagi dalam dua angkatan. Angkatan pertama telah dilaksanakan pada 1–3 Juli 2026, sedangkan pelaksanaan kali ini merupakan angkatan lanjutan yang diikuti tenaga kesehatan dari puskesmas di Kabupaten Kendal.
“Kami menghadirkan narasumber yang benar-benar kompeten agar teman-teman di puskesmas memperoleh pembaruan ilmu dan keterampilan sesuai perkembangan pelayanan kesehatan maternal dan neonatal,” jelasnya.
Anita berharap seluruh peserta mampu menerapkan ilmu yang diperoleh saat memberikan pelayanan persalinan di fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Dengan kompetensi yang semakin baik, tenaga kesehatan diharapkan mampu menangani kasus kegawatdaruratan secara cepat dan tepat sebelum dilakukan rujukan apabila diperlukan.
“Angka kematian ibu di Kabupaten Kendal hingga saat ini tercatat tujuh kasus. Target kami angka tersebut terus ditekan, bahkan kalau bisa tidak ada lagi kematian ibu. Melalui peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, kami optimistis pelayanan akan semakin baik dan keselamatan ibu maupun bayi dapat lebih terjamin,” pungkasnya.(HS)


