HALO KENDAL – Informasi hoax dampaknya sangat buruk bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, karena akan memicu konflik sosial dengan memecahkan persatuan dan kesatuan bangsa melalui narasi-narasi adu domba.
Hal itu disampaikan Heri Susanto dari Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Kendal beberapa waktu lalu, dalam kegiatan Bimtek, di gedung Serbaguna Desa Trisobo Kecamatan Boja, yang dihadiri jajaran pemerintah desa dan generasi muda Desa Trisobo.
Ia menyampaikan materi Stategi Menangkal Informasi Hoax dan Antisipasi Kejahatan Scam, serta Etika Bersosial Media, sekaligus mengajak generasi muda untuk melek literasi digital.
“Maka, untuk mengantisipasi hal tersebut, ada beberapa hal yang perlu dipahami, yaitu dengan mengenal ciri-ciri Informasi hoax yang disebarkan melalui platform digital. Pertama, judulnya bombastis dan provokatif. Kedua, ajakan untuk segera menyebarkan informasi tersebut. Ketiga, sumbernya tidak jelas. Keempat, informasinya sepihak untuk menyudutkan atau memfitnah seseorang atau suatu lembaga,” papar Heri.
Langkah strategis untuk mengantisipasi, lanjutnya, yang pertama adalah harus bisa menahan diri, dan tidak ikut dalam menyebarkan informasi palsu tersebut.
Kedua, harus diverifikasi dengan ciri-ciri berita atau informasi hoax, bahkan harus dicek nama penulis, kapan dan dimana tempat kejadiannya.
Kemudian, yang ketiga, harus dibandingkan dengan melihat berita-berita terpercaya dari lembaga-lembaga penyiaran nasional dan portal resmi milik pemerintah.
“Langkah yang keempat, jika kita menermukan informasi hoax, maka bisa melaporkan akun penyebar informasi palsu tersebut kepada pihak pemerintah setempat, sehingga bisa segera diporkan dan diblokir,” beber Heri.
Dirinya juga menegaskan, terkait dengan antisipasi kejahatan scem yang saat ini marak terjadi, yang biasanya dilakukan melalui media sosial maupun melalui saluran digital lainnya.
“Kita harus waspada, jangan memberikan data pribadi kepada orang-orang asing, baik melalui saluran telpon, SMS, maupun melalui media sosial. Biasanya kejahatan scem ini dikemas dengan berbagai bentuk, seperti iming-iming hadiah, undangan berbentuk APK, maupun berbentuk lainnya,” tandas Heri.
Dalam materi etika bersosial media, menurutnya menjadi suatu fondasi yang penting bagi generasi muda dalam memberituk karakter warga net yang cerdas, santun, dan berperan aktif untuk kemajuan digital Indonesia.
“Harapan kami, agar generasi muda menjadi agen-angen kebaikan dan berperan aktif dalam menangkal informasi hoax dan kejahatan siber lainnya, serta mengajak generasi muda lain untuk mengutamakan etika dalam bersolal media maupun dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Heri.
Acara dilanjutkan dengan sesi diskusi dua arah, yang membahas lebih detail terkait dengan paparan materi yang disampaikan oleh narasumber.
Salah satu generasi muda Desa Trisobo, Dea Sifa menyampaikan, kegiatan ini banyak memberikan pemahaman kepada generasi seumurannya, terkait antisipasi untuk menanggulangi dampak-dampak negatif di era digital saat ini.
“Tentunya kegiatan ini sangat bermanfaat, karena memberikan pencerahan dari apa yang menjadi keresan generasi muda saat ini. Termasuk antisipasi berita hoax, antisipasi kejahatan scem, dan mengajarkan etika dalam bersedia sosial, sehingga ilmu ini nantinya akan kami sampaikan kepada keluarga dan masyarakat dilingkungan sekitar, agar terhindar dari kejahatan-kejahatan digital dan lebih bijak dalam menggunakan media sosial,” ujarnya.
Sebelumnya, Kepala Desa Trisobo Sugiyo Hadi mengapresiasi dilaksanakannya kegiatan yang bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada generasi muda agar lebih melek perkembangan digital. Sehingga bisa mengambil manfaat sisi positifnya dan mengantisipasi dampak dari sisi negatifnya.
“Harapannya melalui kegiatan generasi muda Desa Trisobo bisa lebih memahami tentang keamanan informasi digital, agar terhindar dari informasi hoax dan kejahatan scam yang saat ini marak terjadi,” ujarnya.(HS)

