in

UHN IGB Sugriwa Gelar Upacara Metatah, Ini Makna dan Kegiatannya

Rektor UHN Sugriwa, I Gusti Ngurah Sudiana secara simbolis melaksanakan prosesi etatah kepada peserta yang hadir. (Foto : kemenag.go.id)

 

HALO SEMARANG – Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus (IGB) Sugriwa menggelar upacara “Metatah Massal”. Total ada ada 31 peserta, yang mengikuti acara ini secara gratis di Auditorium Giri Prasta.

“Matatah massal ini merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat, dan kewajiban orang tua kepada anaknya, ketika anak beranjak dewasa,” ujar Rektor UHN IGB Sugriwa, Prof. I Gusti Ngurah Sudiana, di Bangli, baru-baru ini.

Prof Sudiana menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud kehadiran kampus di tengah masyarakat.

“Metatah memiliki kedudukan penting dalam ajaran agama Hindu, yaitu sebagai simbol pengendalian Sad Ripu atau enam musuh dalam diri manusia,” ujar mantan Ketua PHDI Bali ini, seperti dirilis kemenag.go.id.

Kegiatan perdana ini mendapat apresiasi dari Wakil Bupati Bangli, I Wayan Diar, yang juga hadir di lokasi.

Ia menyampaikan bahwa program ini sejalan dengan program Pemerintah Kabupaten Bangli.

“Kami mengapresiasi setinggi-tingginya dan mendorong kegiatan ini, karena langsung menyentuh, memotivasi, dan membantu anak-anak kita,” ujarnya.

Pemkab Bangli menyatakan kesiapannya untuk terus bersinergi dalam program serupa ke depan, mengingat pihaknya juga telah lebih dulu menjalankan program Ngaben massal.

Wabup Diar turut mendorong agar sosialisasi matatah massal dilakukan lebih masif kepada masyarakat, khususnya di Bangli, agar semakin banyak warga yang terbantu.

Makna Metatah

Upacara Metatah sering disebut Mepandes, Mesangih, atau potong gigi. Ini adalah salah satu upacara Manusa Yadnya dalam ajaran Hindu Bali yang dilaksanakan ketika seseorang menginjak usia dewasa (biasanya menjelang atau setelah masa akil balig).

Makna utama upacara ini merupakan simbol pengendalian Sad Ripu, yaitu enam sifat buruk/musuh dalam diri manusia yang sering disebut:

  1. Kama – hawa nafsu berlebihan
  2. Lobha – keserakahan
  3. Krodha – kemarahan
  4. Moha – kebingungan/kebodohan
  5. Mada – kemabukan/kesombongan
  6. Matsarya – iri hati/dengki

Apa yang dilakukan saat Metatah? Enam gigi taring bagian atas (dan kadang sebagian gigi seri) diratakan atau dihaluskan sedikit oleh seorang Sangging atau ahli yang bertugas melakukan pengasahan gigi. Ini sebagai simbol bahwa keenam sifat buruk tersebut telah “diratakan” atau dikendalikan dalam diri peserta.

Ketua Panitia, I Wayan Sujana, didampingi Sekretaris I Nyoman Kiriana, melaporkan bahwa kegiatan ini diikuti oleh 31 peserta yang berasal dari dalam maupun luar Bali. Di antara peserta, terdapat pula anak yatim piatu yang turut mengikuti prosesi.

Rangkaian upacara diakhiri dengan persembahyangan Majaya-jaya, yang di-puput (dipimpin) oleh Ida Pedanda Nyoman Temuku Manuaba, sebagai penutup dan pengesahan spiritual atas prosesi yang telah dijalani seluruh peserta. (HS-08)

 

Puluhan Mitra SPPG di Kudus Dipanggil Kejari, Klarifikasi Terkait Dugaan Kasus Korupsi BGN

Pemetaan Kapasitas, 1.350 Penyuluh Agama Islam Lolos Verifikasi Administrasi Penilaian Kompetensi