HALO SEMARANG – Bagi Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, pembangunan kota tidak semata diukur dari megahnya jalan, jembatan, atau gedung yang berdiri. Lebih dari itu, pemerintah harus hadir ketika warganya sedang menghadapi masa-masa paling sulit dalam kehidupan.
Pesan itu disampaikan Agustina saat menghadiri penyaluran santunan bagi 1.000 anak yatim piatu sekaligus meluncurkan aplikasi E-SANKEM (Elektronik Santunan Kematian) yang digelar Dinas Sosial Kota Semarang, Kamis (25/6/2026).
Di hadapan ratusan anak yatim dan para keluarga penerima manfaat, Agustina menegaskan bahwa ukuran keberhasilan sebuah kota tidak hanya terletak pada pembangunan fisik, tetapi juga pada kemampuan pemerintah memberikan perlindungan dan kepedulian kepada masyarakat yang membutuhkan.
“Pemerintah tidak boleh hanya hadir saat membangun jalan atau infrastruktur. Pemerintah juga harus hadir ketika ada anak yang kehilangan orang tua, ketika ada keluarga yang sedang berduka, dan ketika masyarakat membutuhkan uluran tangan,” ujar Agustina.
Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 1.000 anak yatim, piatu, dan yatim piatu menerima bantuan berupa uang saku, paket sembako, serta buku iqra. Program tersebut merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Kota Semarang dengan Yayasan Al Fatihah dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah.
Bagi Agustina, perhatian terhadap anak-anak yatim bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Ia menyebutnya sebagai investasi sosial yang akan menentukan masa depan Kota Semarang.
Menurutnya, setiap anak berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk tumbuh, belajar, dan meraih cita-cita, terlepas dari kondisi keluarga yang mereka hadapi.
“Kita ingin anak-anak ini tetap memiliki harapan. Mereka harus percaya bahwa masa depan mereka tetap terbuka lebar. Tugas kita bersama adalah memastikan mereka mendapatkan dukungan, kasih sayang, pendidikan, dan kesempatan yang sama untuk berkembang,” tuturnya.
Suasana haru juga mewarnai peluncuran aplikasi E-SANKEM, sebuah inovasi digital yang dirancang untuk mempermudah masyarakat mengakses santunan kematian dari pemerintah.
Melalui sistem tersebut, proses pengajuan bantuan yang sebelumnya dilakukan secara manual kini dapat dilakukan secara elektronik, lebih cepat, transparan, dan terintegrasi.
Agustina mengatakan, inovasi tersebut lahir dari kesadaran bahwa keluarga yang sedang kehilangan anggota keluarganya seharusnya tidak dibebani oleh proses birokrasi yang panjang dan rumit.
“Saat seseorang sedang berduka, fokus mereka seharusnya adalah keluarga, bukan mengurus administrasi yang berbelit-belit. Karena itu pemerintah harus hadir dengan pelayanan yang cepat, mudah, dan manusiawi,” tegasnya.
Peluncuran E-SANKEM menjadi bagian dari transformasi pelayanan publik yang terus didorong Pemerintah Kota Semarang. Digitalisasi, menurut Agustina, bukan hanya soal pemanfaatan teknologi, tetapi tentang bagaimana teknologi mampu menghadirkan pelayanan yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Ia berharap aplikasi tersebut dapat mempercepat proses penyaluran bantuan sekaligus memberikan kepastian layanan bagi warga yang sedang menghadapi situasi sulit.
Lebih jauh, Agustina mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga semangat gotong royong dan kepedulian sosial yang selama ini menjadi kekuatan Kota Semarang.
Menurutnya, kemajuan sebuah kota tidak hanya tercermin dari pertumbuhan ekonomi atau pembangunan infrastruktur, melainkan juga dari kemampuan seluruh warganya untuk saling menguatkan ketika ada yang sedang mengalami kesulitan.
“Kota yang hebat adalah kota yang tidak membiarkan warganya menghadapi masalah sendirian. Ketika ada anak yang membutuhkan perhatian, kita hadir. Ketika ada keluarga yang berduka, kita hadir. Ketika masyarakat membutuhkan pelayanan yang lebih baik, pemerintah harus hadir dengan solusi,” katanya.
“Semarang yang sedang kita bangun adalah Semarang yang peduli, saling menjaga, dan memastikan tidak ada warga yang merasa berjalan sendirian,” pungkas Agustina.(HS)

