HALO SEMARANG – Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama, Muchlis M Hanafi, menegaskan bahwa isu lingkungan hidup saat ini bukan sekadar persoalan alam, melainkan persoalan moral, spiritual, dan kemanusiaan.
Kerusakan lingkungan terjadi karena manusia kehilangan kesadaran spiritual dalam memperlakukan alam.
Hal itu disampaikan Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama, Muchlis M Hanafi, dalam Festival Penyuluh Agama 2026, yang diselenggarakan Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI), di Ponorogo, Minggu (24/5/2026).
“Karena itu, dakwah hari ini tidak cukup hanya berbicara hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama manusia, tetapi juga harus membangun harmoni manusia dengan alam,” ujar Muchlis, seperti dirilis kemenag.go.id.
Menurutnya, gerakan dakwah ekoteologi sejalan dengan visi besar Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya pembangunan berkelanjutan dan harmoni antara manusia dan lingkungan.
“Asta Cita Presiden mengingatkan bahwa pembangunan bangsa harus berjalan beriringan dengan pelestarian lingkungan. Alam bukan sekadar objek eksploitasi, tetapi amanah yang harus dijaga bersama,” katanya.
Muchlis juga mengaitkan gerakan ekoteologi dengan salah satu program prioritas Kementerian Agama sebagaimana terus digaungkan Menteri Agama Nasaruddin Umar, yakni penguatan ekoteologi dalam kehidupan beragama.
“Bapak Menteri Agama Nasaruddin Umar berulang kali menegaskan bahwa agama harus hadir sebagai kekuatan moral untuk menyelamatkan bumi. Ekoteologi bukan sekadar wacana akademik, tetapi gerakan spiritual dan sosial untuk membangun kesadaran bahwa merawat alam adalah bagian dari ibadah,” lanjutnya.
Ia berharap para penyuluh agama dapat menjadi pelopor perubahan sosial melalui dakwah yang ramah lingkungan dan membumi dalam aksi nyata masyarakat.
“Penyuluh agama harus menjadi agen transformasi. Mimbar-mimbar dakwah perlu menyuarakan pentingnya menjaga air, mengurangi sampah, menanam pohon, menjaga kebersihan sungai, dan membangun gaya hidup yang tidak berlebihan,” ujarnya.
Festival Penyuluh Agama 2026 juga menghadirkan narasumber dari Dinas Lingkungan Hidup dan tokoh agama lintas iman.
Kehadiran berbagai unsur tersebut dinilai menjadi simbol penting bahwa menjaga bumi merupakan tanggung jawab bersama seluruh umat manusia, terlepas dari perbedaan agama dan keyakinan.
Ketua IPARI Kabupaten Ponorogo, Indun Fanani, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari peringatan Harlah IPARI ke-3 sekaligus upaya memperluas peran penyuluh agama dalam menjawab isu-isu kontemporer di tengah masyarakat.
Melalui festival ini, IPARI berharap lahir gerakan dakwah yang tidak hanya menyejukkan secara spiritual, tetapi juga berdampak nyata bagi kelestarian lingkungan dan masa depan generasi mendatang.
Sementara itu festival ini diikuti para penyuluh agama, tokoh masyarakat, pelajar, dan masyarakat.
Kegiatan juga diisi dengan seminar dakwah ekoteologi, perlombaan edukatif, dan dialog lintas agama tentang kepedulian terhadap lingkungan. (HS-08)


