HALO SEMARANG – Kementerian Agama meluncurkan gerakan “Peluk Indonesia: Beda Iman Saling Menguatkan” di Vihara Buddha Sakyamuni, Denpasar, Bali.
Gerakan ini sebagai upaya memperkuat kerukunan dan menjaga persatuan bangsa di tengah ancaman polarisasi sosial.
Gerakan ini melibatkan tokoh lintas agama, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), serta masyarakat lintas iman.
Wakil Menteri Agama (Wamenag) Muhammad Syafi’i mengatakan gerakan tersebut lahir dari kesadaran bahwa Indonesia yang besar dan majemuk membutuhkan persatuan, agar mampu menjadi bangsa yang kuat.
“Kegiatan ini menjadi luar biasa karena ini yang menjadi agenda utama dari Bapak Presiden kita. Beliau mengatakan kekayaan Indonesia terus mengalir ke luar negeri karena Indonesia sangat rapuh dengan isu yang memecah belah. Karena itu untuk membuat Indonesia lebih maju, lebih sejahtera, lebih bermartabat, Indonesia harus kuat,” ujar Wamenag, baru-baru ini.
Menurut Wamenag, kerukunan menjadi modal penting karena Indonesia terdiri atas ribuan suku, bahasa, dan latar belakang budaya yang berbeda.
“Indonesia bangsa yang besar, penduduknya hampir 300 juta, terdiri atas sekitar 1340 suku bangsa dengan lebih dari 700 bahasa daerah. Tetapi fakta sudah menunjukkan bahwa Indonesia yang sangat beraneka itu tercatat dalam sejarah mampu hidup harmoni, rukun berdampingan. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana merawat kerukunan itu,” katanya.
Wamenag menjelaskan, gerakan “Peluk Indonesia” tidak sekadar menjadi slogan, tetapi memiliki filosofi sosial tentang bagaimana masyarakat menerima dan menguatkan satu sama lain di tengah perbedaan keyakinan.
Dikatakannya, gerakan “Peluk Indonesia” membawa lima nilai utama, yakni kemanusiaan, kebangsaan, persaudaraan, kasih sayang, dan gotong royong.
“Program ini juga akan diwujudkan melalui kegiatan “Peluk Rumah Ibadah” berupa aksi bersih-bersih rumah ibadah lintas agama secara gotong royong sebagai bentuk interaksi langsung antarumat beragama,” ujarnya.
Wamenag juga mengungkapkan bahwa kata “peluk” juga mengandung pesan tentang penerimaan, rasa aman, dan kepedulian sosial yang perlu dibangun dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut penting untuk menjaga Indonesia tetap utuh di tengah berbagai tantangan sosial.
“Peluk berarti menerima. Ketika kita memeluk dengan hangat berarti kita menerima perbedaan pihak yang kita peluk itu. Peluk berarti menguatkan. Karena orang yang galau, orang yang sedih, orang yang banyak persoalan biasanya akan terbantu perasaannya ketika kita peluk,” ucapnya.
Wamenag juga mengingatkan bahwa perkembangan media sosial membuat masyarakat semakin rentan terhadap provokasi dan narasi yang memecah belah. Karena itu, ruang-ruang kerukunan harus terus diperkuat melalui program yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
“Di era media sosial hari ini satu provokasi dapat memecah masyarakat dalam hitungan jam. Pidato yang begitu indah kalau dipotong-potong bisa jadi macam-macam tergantung politik orang yang menginginkan apa dari pidato itu. Karena itu kita harus tidak pernah berhenti menyiapkan diri kita, menyiapkan umat kita, membuat program-program yang itu kemudian bila dilaksanakan semakin terasa bahwa sesungguhnya perbedaan ini sudah selesai karena sejati kita saling berpelukan,” tandasnya.
Peluncuran gerakan “Peluk Indonesia: Beda Iman Saling Menguatkan” di Vihara Buddha Sakyamuni, Denpasar, Bali, dihadiri Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i, Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan Miftah Maulana Habiburrahman, Dirjen Bimas Buddha Supriyadi, Kepala Pusat Bimbingan dan Pendidikan Khonghucu Nurudin, Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Bali I Gusti Made Sunartha, Ketua FKUB Provinsi Bali Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet, Ketua Yayasan Buddha Sakyamuni Bali Oscar Naib Wanouw, serta Pendeta Gilbert Emanuel Lumoindong.
Acara tersebut juga dihadiri Ketua Majelis Desa Adat Bali, jajaran Kementerian Agama, tokoh agama Buddha, Islam, Kristen, Khonghucu, serta masyarakat lintas iman. (HS-08)


