SABTU malam, 9 Mei 2026, hujan turun di Kota Semarang. Bukan hujan romantis yang cocok buat ngopi sambil mendengar lagu galau. Ini hujan yang bikin warga membuka aplikasi peta bukan untuk cari kafe, melainkan mencari jalan mana yang belum berubah jadi kolam.
Di beberapa titik kota, air menggenang cepat. Jalan raya mendadak punya dua fungsi, jalur transportasi dan arena arung jeram ringan. Motor-motor matic mendadak naik kasta menjadi kapal selam percobaan. Warga yang nekat menerobos banjir tampak memiliki keyakinan spiritual tingkat tinggi. Sebab saat knalpot sudah kemasukan air, yang tersisa cuma doa dan kontak bengkel.
Semarang memang kota yang setia. Pemimpinnya berganti, baliho kampanye datang dan pergi, jargon berubah tiap lima tahun, tetapi banjir tetap hadir tanpa pernah absen. Konsistensinya bahkan lebih baik dibanding performa banyak klub sepak bola nasional.
Setiap musim pemilu, banjir selalu menjadi primadona. Semua calon kepala daerah mendadak akrab dengan istilah drainase, polder, sedimentasi, rob, normalisasi sungai, sampai retensi air. Waktu kampanye, mereka bicara banjir dengan nada penuh harapan. Wajah serius. Lengan baju digulung sedikit. Kadang ada foto berdiri di dekat sungai sambil menunjuk sesuatu yang tidak jelas.
Begitu terpilih, pembahasan banjir perlahan kalah pamor dari festival lampion, konser musik, forum investasi, city branding, hingga seminar bertema “Semarang Kota Masa Depan”. Masa depannya memang menarik. Terutama bagi ikan nila dan lele.
Dua tahun terakhir, warga mulai merasa ada yang aneh dengan arah politik anggaran kota ini. Pemerintah tampak lebih sibuk membuat kota terlihat cantik di feed Instagram ketimbang memastikan air hujan bisa masuk selokan dengan damai.
Event digelar ramai. Panggung berdiri megah. Lampu warna-warni menyala di mana-mana. Investor diajak datang melihat potensi kota. Brosur pariwisata dicetak mengilap.
Padahal urusan banjir di Semarang bukan barang baru. Ini problem klasik yang usianya mungkin lebih tua dari grup WhatsApp keluarga besar. Hampir tiap tahun warga mengeluh soal genangan di titik yang itu-itu lagi. Kaligawe, Muktiharjo, Genuk, Tlogosari, hingga kawasan pusat kota punya hubungan emosional yang sangat erat dengan air meluap. Bahkan di wilayah Semarang atas, yang dulu ada istilah: “Yen Tembalang banjir, Simpanglima klelep“.
Tapi sekarang, warga Tembalang, Gunungpati, Ngaliyan, juga akrab dengan banjir bandang.
Ironisnya, hujan deras sebentar saja kini sudah cukup membuat kota megap-megap. Dulu warga masih bisa bilang, “Ah ini banjir kiriman.” Sekarang bahkan hujan lokal selama beberapa jam sudah mampu menciptakan danau-danau kecil. Semarang tampaknya sedang serius mengembangkan wisata berbasis air tanpa perlu menunggu instruksi kementerian.
Di sisi lain, pembangunan perumahan terus melaju cepat. Bukit dipotong. Lahan terbuka berubah jadi klaster dengan nama-nama megah: Valley, Residence, Estate, Hill, dan lain-lain. Nama-namanya membuat orang lupa bahwa setelah hujan deras, “river view” itu bukan pemandangan sungai dari kejauhan. Airnya benar-benar datang mendekat.
Beton tumbuh lebih subur dibanding pohon. Tanah resapan makin sedikit. Drainase tua bekerja sendirian menanggung beban kota yang terus melebar. Selokan akhirnya punya nasib mirip pegawai kontrak: tugas banyak, perhatian minim.
Lucunya lagi, setiap banjir datang, respons publik sudah seperti ritual tahunan. Warga merekam video genangan. Grup WhatsApp RT ramai dengan foto motor mogok. Media sosial dipenuhi komentar bernada putus asa bercampur humor.
Humor memang jadi mekanisme bertahan hidup warga kota. Sebab kalau semuanya dibawa serius, mungkin separuh warga sudah pindah profesi menjadi pawang hujan.
Padahal data soal ancaman banjir dan rob di Semarang sudah sering muncul dalam berbagai kajian. Badan Nasional Penanggulangan Bencana berkali-kali mengingatkan bahwa Semarang termasuk wilayah dengan risiko banjir cukup tinggi akibat kombinasi curah hujan, penurunan muka tanah, dan padatnya kawasan permukiman.
Beberapa wilayah pesisir bahkan terus mengalami rob tahunan. Namun entah kenapa, perhatian besar terhadap masalah ini sering muncul hanya ketika air sudah masuk rumah warga.
Sesudah banjir surut, ritmenya kembali normal. Pejabat meninjau lokasi sambil memakai sepatu boot baru. Kamera mengambil sudut terbaik. Pernyataan standar keluar dengan lancar: “Kami akan evaluasi.” Kalimat itu terdengar menenangkan, meski nasibnya sering mirip status hubungan tanpa kepastian.
Warga sebenarnya tidak menuntut kota bebas banjir total dalam semalam. Mereka tahu Semarang punya persoalan geografis rumit. Ada dataran rendah, rob, sedimentasi, drainase tua, hingga pertumbuhan kota yang cepat. Namun setidaknya publik ingin melihat arah kebijakan yang jelas. Misalnya, lebih banyak anggaran untuk perbaikan saluran air dibanding “pesta”.
Karena terus terang saja, warga sudah lelah hidup dalam trailer film bencana setiap kali hujan turun agak lama.
Kota ini sebenarnya punya modal besar. Semarang punya sejarah panjang, kuliner hebat, masyarakat yang tangguh, dan posisi ekonomi penting di Jawa Tengah. Sayang sekali kalau tiap musim hujan identitas kotanya berubah menjadi “Semarang Kota Genangan”.
Malam ini, hujan akhirnya reda. Air perlahan surut. Warga mulai membersihkan rumah dan mendorong motor yang mogok ke bengkel terdekat. Besok pagi, aktivitas kota berjalan lagi. Orang berangkat kerja. Anak sekolah kembali belajar. Pemerintah mungkin kembali rapat soal event berikutnya.
Lalu warga menatap langit mendung dengan perasaan campur aduk. Di Semarang, suara petir kini kadang terdengar mirip notifikasi darurat. Bukan karena hujannya luar biasa. Warganya saja yang sudah terlalu sering dikecewakan.(Tulisan ini disempurnakan oleh AI-HS)

