HALO BLORA – Pengurus Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Blora, di bawah kepemimpinan H Sunoto melakukan audiensi dengan Bupati Blora, Arief Rohman, Selasa ( 21/4/2026) di Blora.
Dalam kunjungan tersebut, H Sunoto didampingi oleh jajaran pengurus APTRI lainnya, yakni Anton Sudibyo, Agus Joko Susilo, Wahyuningsih, Hairul Anwar, dan Bambang Sulistya.
Selain untuk bersilaturahmi, kehadiran mereka bertujuan memohon izin terkait undangan dari Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Sudaryono.
Undangan tersebut dalam rangka menghadiri HUT Ke-53 HKTI, acara Halalbihalal, serta launching Innofood Expo Forum 2026 yang akan digelar, Senin (27/4/2026), di Gedung Auditorium Kementerian Pertanian RI, Jakarta Selatan.
Dalam agenda tersebut, Ketua APTRI Pusat akan memberikan kesempatan khusus bagi pengurus dan perwakilan petani tebu Blora, untuk melakukan audiensi langsung dengan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional RI, Rachmat Pambudy, serta Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman.
Tak hanya ke Jakarta, H Sunoto juga menginformasikan bahwa pada Rabu (22/4/ 2026), pengurus APTRI dan perwakilan petani dijadwalkan bersilaturahmi ke kediaman Presiden RI ke-7, Jokowi, di Solo.
Bupati Blora Arief Rohman, merespons positif rencana kegiatan tersebut. Sebagai bentuk dukungan nyata.
Dia juga memberikan dukungan moral serta bantuan fasilitas kendaraan operasional untuk perjalanan menuju Jakarta.
Arief berharap kesempatan emas berdialog dengan para Menteri, dapat membuahkan solusi terbaik bagi persoalan yang tengah dihadapi petani tebu di Kabupaten Blora.
Di sela-sela diskusi, Anton Sudibyo menyampaikan keluh kesah mengenai kondisi manajemen PT GMM Bulog.
Diketahui, hingga saat ini Surat Keputusan (SK) resmi dari Dirut Perum Bulog terkait pergantian Direktur Operasional di PT GMM belum turun.
Kondisi ini dinilai dilematis, mengingat Forum Temu Kemitraan (FTK) di Pabrik Gula PT GMM dijadwalkan berlangsung minggu ini. Anton memprediksi, ketiadaan SK resmi tersebut berpotensi memicu kegaduhan baru.
Senada dengan hal itu, Wahyuningsih atau yang akrab disapa Bu Wahyu, menyatakan keprihatinannya.
Menurutnya, jika FTK tetap dilaksanakan tanpa kepastian manajemen, petani akan tetap bingung dan resah mengenai mekanisme pembelian tebu pada masa giling tahun 2026.
Merespons laporan tersebut, Bupati Blora langsung berkomunikasi dengan pihak manajemen Bulog Pusat untuk mencari kejelasan.
Di akhir pertemuan, Agus Joko Susilo menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas dukungan serta bantuan Bupati selama ini yang terus mengawal perjuangan pengurus APTRI dalam meningkatkan kesejahteraan petani tebu di Blora. (HS-08)


