HALO KLATEN – Masyarakat Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten memiliki tradisi unik dalam merayakan syawalan, yakni sepekan setelah Idulfitri 1447 H, yaitu dengan kembali menggelar Grebeg Syawal di Bukit Sidoguro.
Sejak Sabtu pagi, masyarakat beduyun-duyun datang dan memadati Bukit Sidoguro. Rangkaian Grebeg Syawal dimulai dengan kirab gunungan ketupat dari kaki Bukit Sidoguro.
Sebanyak 18 gunungan berisi ketupat dan hasil bumi disiapkan untuk dibagikan kepada pengunjung.
Selain itu, sebanyak 1.000 porsi opor ketupat dibagikan gratis untuk pengunjung, menambah hangat suasana tradisi tahunan ini.
Tradisi Syawalan merupakan momen transisi setelah sebulan penuh dilatih menahan diri, dan di bulan Syawal menjadi pembuktian seseorang sudah menjadi pribadi yang lebih “bersih” dan peduli sama sesama.
Sementara ketupat atau kupat berasal dari Bahasa Jawa “ngaku lepat” yang dimaknai sebagai mengakui kesalahan.
Anyaman janurnya juga melambangkan rumitnya kesalahan manusia, yang kemudian dibuka jadi simbol keikhlasan untuk saling memaafkan, sementara isinya yang putih melambangkan kebersihan hati setelah memaafkan dan dimaafkan.
Plt Disbudporapar Kabupaten Klaten, Purwanto seperti dirilis klaten.go.id, menyampaikan tradisi menjadin momen silaturahmi antara jajaran Pemkab Klaten dengan masyarakat secara langsung, untuk saling maaf-memaafkan.
“Event ini sekaligus bentuk pelestarian budaya tradisi yang telah berlangsung sejak dulu di tengah masyarakat,” paparnya.
Sementara itu, Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo mengatakan melalui tradisi ini, diharapkan menjadi momen untuk silaturahmi hingga berbagi kepada sesama.
“Ini merupakan momen spesial karena kita bersama-sama bisa bermaaf-maafan. Grebeg Syawal ini sekaligus bentuk nguri-uri budaya yang telah gelar oleh nenek moyang kita. Lewat Grebeg Syawal ini, bersama-sama berbagi kebahagiaan,” ungkapnya. (HS-08)