HALO SEMARANG – Kementerian Agama bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) menghadirkan program Gerai Z (Zakat)-Ifthar Ramadan, sebagai sarana pemasaran produk pelaku usaha mikro di lingkungan masjid.
Program ini juga menyediakan layanan berbuka puasa bagi masyarakat selama Ramadan 1447 H.
Gerai Z merupakan bagian dari implementasi Baznas Microfinance Masjid (BMM) – Masjid Berdaya Berdampak (Madada).
Melalui program ini, sekitar 900 pelaku usaha mikro mustahik difasilitasi modal usaha dan ruang pemasaran di 30 masjid. Rangkaian kegiatan juga dilengkapi talkshow Tadarus Mikro di 10 kota.
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama, Arsad Hidayat, mengatakan Gerai Z-Ifthar menjadi contoh pengelolaan zakat secara produktif untuk menggerakkan ekonomi umat.
“Program ini menunjukkan bahwa zakat tidak hanya hadir sebagai bantuan konsumtif, tetapi juga mampu mendorong kemandirian ekonomi masyarakat,” ujar Arsad usai Talkshow Tadarus Mikro Gerai Z-Ifthar di Yogyakarta, baru-baru ini.
Arsad menilai masjid memiliki potensi besar sebagai pusat penguatan ekonomi berbasis komunitas. Menurutnya, kolaborasi antara zakat, masjid, dan masyarakat dapat membangun ekosistem pemberdayaan yang berkelanjutan.
“Masjid harus kita dorong menjadi pusat kemaslahatan umat. Dari masjid, kita bangun ruang ibadah, ruang edukasi, sekaligus ruang pemberdayaan ekonomi masyarakat,” kata dia, seperti dirilis kemenag.go.id.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga etika bermedia selama Ramadan. Menurutnya, momentum Ramadan perlu dimanfaatkan untuk memperkuat nilai spiritual sekaligus tanggung jawab sosial.
“Ramadan bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga lisan dan jempol dari hoaks. Spirit Ramadan harus menghadirkan kedamaian dan memperkuat persaudaraan,” pesannya.
Kasubdit Kemasjidan, Nurul Badruttamam, menjelaskan, Gerai Z-Ifthar dirancang sebagai ruang kolaborasi antara masjid, pengelola zakat, dan masyarakat.
“Gerai Z-Ifthar bukan sekadar bazar Ramadan. Program ini menghadirkan ekosistem ekonomi yang melibatkan jemaah, masyarakat sekitar, dan pelaku usaha kecil,” ujarnya.
Ia menambahkan, talkshow Tadarus Mikro diselenggarakan di sejumlah masjid penerima program BMM. Kegiatan ini berlangsung di Tangerang Selatan, Depok, Bandung Barat, Subang, Yogyakarta, Semarang, Sawahlunto, Lima Puluh Kota, Mojokerto, dan Kebumen.
Nurul mengatakan setiap lokasi Gerai Z-Ifthar melibatkan sekitar 30 pelaku usaha mikro. Mereka memperoleh bantuan modal usaha serta fasilitas pemasaran seperti tenda, meja, dan atribut gerai selama Ramadan.
“Dengan dukungan tersebut, pelaku usaha memiliki ruang pemasaran yang lebih layak dan strategis. Harapannya, terjadi perputaran ekonomi yang memberi manfaat bagi masyarakat sekitar,” katanya.
Menurut Nurul, pemberdayaan ekonomi berbasis masjid merupakan upaya mengintegrasikan fungsi sosial, ekonomi, dan keagamaan dalam satu ekosistem. Program ini diharapkan memperluas manfaat zakat sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi umat.
“Masjid tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga motor penguatan ekonomi lokal. Melalui Gerai Z-Ifthar, zakat hadir lebih dekat dengan kehidupan masyarakat,” tandasnya. (HS-08)