DI tengah hiruk-pikuk Semarang menjelang Ramadan, suara bedug selalu menggema. Dentumnya disusul letupan meriam yang memecah udara, seperti penanda bahwa sebuah tradisi sedang mengetuk ingatan kota. Dugderan.
Sebuah pesta rakyat yang telah berumur lebih dari 140 tahun sejak pertama kali digelar sekitar tahun 1881.
Momen sakral bagi umat Islam di Kota Semarang dan sekitar. Warga berdesak-desakan di sekitar aloon aloon Masjid Kauman dan Pasar Johar, menunggu satu pengumuman penting: kapan puasa Ramadan dimulai, ketika media komunikasi tak semaju saat ini.
Di sekelilingnya, pedagang kaki lima membentuk barisan panjang. Gerabah berbentuk ayam, kuda, hingga Warak Ngendog berjajar rapi. Bisa jadi pot, bisa juga celengan.
Ada kerajinan tangan, jajanan ringan, dan aroma pasar malam yang bercampur dengan rasa sabar menanti Ramadan. Dugderan kala itu bukan sekadar acara, melainkan pertemuan sosial yang hidup di tengah masyarakat yang majemuk. Tak hanya umat Muslim, tapi seluruh warga berhak ikut merayakan.
Awalnya, tradisi ini memang sederhana: menyatukan warga agar sepakat soal awal puasa. Namun seiring waktu, Dugderan tumbuh menjadi pesta rakyat lengkap dengan pasar malam.
Suara tawar-menawar pedagang gerabah dan anyaman bambu menjadi ilustrasi yang dirindukan. Anak-anak pulang membawa patung tanah liat, mainan warak ngendog, orang dewasa membawa cerita dan keyakinan.
Kini, pertanyaannya: masihkah generasi muda mengenal keramaian itu?
Di era TikTok Shop dan Shopee, pengalaman Dugderan terasa seperti cerita dari album foto lama. Barang-barang serupa tinggal klik, diskon menggiurkan, dikirim dari gudang yang bahkan tak kita kenal letaknya. Praktis, cepat, tanpa harus berpanas-panasan atau tawar-menawar.
Dugderan memang masih ada, tapi keramaiannya terasa berbeda. Pedagang kaki lima yang dulu jadi denyut utama kini harus berhadapan dengan harga online yang tak bisa mereka tandingi. Jika terus begini, Dugderan berisiko menjadi pasar malam tanpa pasar. Ramai secara jadwal, sepi secara makna.
Lalu mari kita bicara tentang simbol terkuat Dugderan: Warak Ngendog.
Makhluk mitologis ini adalah perwujudan harmoni Semarang. Konon, berwujud hewan imajiner dengan kepala naga, tubuh kambing/unta, dan bulu keriting, Warak melambangkan kerukunan etnis. Kesucian (wara’), “ngendog” dalam bahasa Jawa berarti bertelur. Kesucian yang melahirkan berkah.
Konon, dulu, Warak selalu digambarkan membawa telur (endog) sebagai simbol harapan baru di bulan Ramadan. Namun kini, banyak Warak diwujudkan tanpa telur. Hilang. Entah ke mana.
Warak tanpa endog terasa seperti tradisi yang kehilangan intinya. Dan metafora itu terlalu pas untuk zaman sekarang.
Belanja online memang efisien, tapi “endognya” hilang: interaksi manusia, tawar-menawar yang hangat, dan dukungan langsung pada pedagang kecil yang hidup dari keramaian Dugderan.
Ironisnya, Warak tanpa telur mirip aplikasi belanja tanpa jiwa, cepat, murah, tapi hampa dari rasa gotong royong yang dulu menjadi roh pesta rakyat.
Padahal, bagi pedagang kaki lima, Dugderan bukan cuma soal jualan. Mereka adalah bagian dari ritual sosial yang menyatukan warga. Mereka ikut menjaga denyut kota menjelang bulan suci bagi umat Islam.
Dugderan bukan sekadar event tahunan. Ia lahir sebagai ajakan bersama: mari berpuasa serentak, mari menyambut Ramadan dengan rasa yang sama, mari saling menjaga kerukunan. Esensinya bukan pasar malam, melainkan kebersamaan.
Mungkin sudah saatnya kita kembali belajar dari Warak Ngendog, makhluk mitologi hasil campur budaya. Menggabungkan online dan offline, modern dan tradisi, efisiensi dan empati. Supaya Dugderan tetap hidup, bukan sekadar bertahan.
Kalau tidak, ya sudah. Selamat tinggal endog yang hilang.
Dan selamat datang Ramadan… yang datangnya kadang harus tak bersama meski dalam satu kota.(Tulisan ini disempurnakan oleh AI-HS)


